Yang Telah Menjadi Kenangan
Mulai Senin, 29 April 2024, peserta didik kelas 6 di Jakarta akan melaksanakan Penilaian Sumatif Sekolah (PSS). Kegiatan tersebut akan berlangsung selama lima hari ke depan. PSS dahulu bisa disebut dengan ujian sekolah atau ujian nasional yang kini sudah dihilangkan oleh pemerintah.
Sejak beberapa hari lalu, sekolah sudah sibuk mempersiapkan kegiatan PSS. Mulai dari mempersiapkan soal, jadwal PSS, jadwal pengawas, berita acara, daftar hadir, dan sebagainya. Tak lupa kesiapan ruangan untuk ujian, pengawas, dan panitia. Kesibukannya hampir sama seperti saat ujian nasional hanya berganti nama dan operasionalnya.
Ada sesuatu yang terasa hilang dari pelaksanaan penilaian akhir saat ini. Geregetnya sudah jauh berkurang, tak seperti dulu lagi. Beberapa tahun lalu saat ujian nasional masih ada, kesibukan mempersiapkan hajatan tersebut sungguh luar biasa. Bahkan hingga melibatkan petugas kepolisian untuk menjaga keamanan dan kerahasiaan soal ujian.
Betapa ujian nasional dulu dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa hingga pelaksanaannya pun istimewa. Soal dijaga 24 jam dengan sangat ketat sampai ada piket untuk tugas menjaga soal. Pengambilan dan penyerahan soal pun tak bisa sembarang. Selesai satu mapel diujikan maka harus segera diserahkan ke rayon dengan berita acara dan sebagainya. Ada panitia yang ditugaskan khusus untuk hal tersebut.
Pengawas pun tak boleh dari sekolah sendiri. Jauh-jauh hari nama pengawas sudah diajukan untuk dibuatkan surat tugas. Guru yang mendapat tugas mengawas merasa terhormat dan mendapat angka kredit untuk kenaikan pangkat bagi guru PNS. Untuk menjaga kerahasian dan ketertiban ujian, pengawas harus membuat surat pernyataan atau pakta integritas.
Siswa yang mengikuti ujian juga terlihat lebih serius dalam mempersiapkan diri. Mereka tak ingin nilai ujian mereka buruk dan gagal masuk sekolah negeri. Suatu kebanggaan bila berhasil masuk sekolah negeri karena akan dianggap anak pintar. Tak ada jalur zonasi atau jalur afirmasi. Semua berdasar nilai ujian meski kenyataannya ada sekolah yang melanggar aturan alias main belakang. Kecurangan sekolah maupun siswa memang menjadi kelemahan saat itu.
Kini, PSS cukup diawasi oleh guru dari sekolah sendiri. Tak ada nilai patokan untuk bisa lulus karena kenyataannya semua siswa akan lulus. Tak ada persaingan, kurang semangat kompetisi untuk meraih prestasi tertinggi. Orangtua pun makin kurang peduli dengan pendidikan anaknya. Yang penting sekolah lalu lulus atau naik kelas. Apakah ini suatu kemajuan atau kemunduran pendidikan?
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan