Nanik Wijayanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mati Kutu

Mati Kutu

Riani dengan bangga menggandeng tangan Irfan, suaminya masuk ke gedung tempat berlangsungnya reuni SMA. Siapa yang tak kenal Riani, sang primadona sekolah sedangkan Irfan mantan ketua tim basket. Senyum sumringah ditebar oleh mereka berdua dengan penuh percaya diri. Melihat kedatangan keduanya, tepuk tangan bergemuruh dari para alumni yang sudah memenuhi ruangan.

Mereka dipersilakan duduk di kursi depan dekat panggung oleh panitia. Senyum mendadak hilang setelah melihat siapa yang semeja dengan mereka. Kawan yang dahulu sering diabaikan, bahkan sering mereka bully. Arman, anak pedagang sayur yang selalu tampak lusuh dengan seragam dan sepatu yang terlihat usang. Sangat berbeda dengan penampilan kebanyakan siswa di sekolah terfavorit di kota itu.

"Kenapa Arman ada di sini? Kami tak mau semeja dengan dia!" ucap Irfan dengan raut tak suka. Tatapannya mengejek Arman yang hanya berkemeja batik dengan celana kain yang terlihat biasa saja. Beda dengan dia dan teman-teman lainnya yang mengenakan jas dan dasi. Uluran tangan Arman pun ditampiknya.

"Maaf, susunan meja sudah dibuat seperti ini. Setiap tamu sudah mendapat mejanya masing-masing. Pak Arman duduk di sini bersama Anda. Silakan Ibu dan Bapak segera duduk, acara akan segera dimulai," jawab pria yang mengenakan tanda panitia di dadanya.

Dengan berat hati Irfan dan Riani duduk berseberangan dengan Arman. Melihat keangkuhan kedua temannya, Arman tetap tersenyum dan tampak tak peduli. Dia menikmati rangkaian acara dengan santai sementara Irfan dan Riani menekuk muka sepanjang acara.

Raut muka yang tak sedap dipandang dari Riani dan Irfan makin menjadi setelah pembawa acara menyebut Arman sebagai donatur terbesar acara itu. Arman juga CEO perusahaan multinasional yang menjadi sponsor utamanya.

Kedua mata sepasang suami isteri sombong itu seakan hendak keluar dari kelopaknya. Mulutnya menganga bagai ikan kehabisan napas. Irfan makin lemas karena tersadar dia hanyalah staf bagian keuangan di perusahaan milik Arman. Tak menyangka jika kawan yang dulu sering dibully adalah bos besarnya. Keringat mengucur deras dari pelipis Arman, begitu pun keadaan Riani tak jauh beda dengan sang suami. Dan Arman pun tetap tersenyum menatap keduanya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post