Prestasi VS Skandal
Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh ulah segelintir oknum guru dan tendik yang memanipulasi nilai siswanya. Rapor siswa di sebuah SMPN di Depok dinaikkan nilainya agar dapat lolos masuk ke SMA Negeri lewat jalur prestasi. Jumlahnya cukup banyak yaitu 51 orang siswa akibatnya para siswa tersebut dianulir dari beberapa SMAN.
Terungkapnya peristiwa tersebut berawal dari 51 siswa yang telah diterima di sejumlah SMAN di Depok dengan jalur prestasi rapor. Penerimaan awal ini bisa terjadi karena bidang pengawasan PPDB Jabar dan Panitia PPDB salah satu SMAN di Kota Depok, melakukan validasi ke SMP asal sekolah asal calon siswa tersebut.
Validasi ini lolos karena data yang disandingkan antara nilai rapor yang diunggah oleh CPD dengan buku rapor, dan juga buku nilai yang ada di sekolah tidak ada perbedaan nilai atau sesuai. Perbedaan baru terlihat saat dilakukan verifikasi selanjutnya dengan mengecek e-rapor. Pengecekan e-rapor ini dilakukan Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemendikbudristek.
Hasilnya, nilai siswa-siswa tersebut di e-rapor tidak sama dengan nilai yang di upload dengan buku rapor maupun buku nilai dari sekolah. Kemudian, Itjen Kemendikbudristek bersama Disdik Jabar menelusuri dan akhirnya terbukti adanya istilah 'cuci rapor' atau manipulasi nilai.
Setelah terbukti adanya manipulasi data 51 siswa, Kepala sekolah mengakui kesalahan dari pihaknya dan siap menerima konsekuensi. Terkait nasib 51 siswa yang rapornya dimanipulasi, dia mengatakan pihaknya bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Depok bertanggung jawab agar siswa tetap bisa sekolah.
Entah apa yang ada di pikiran para oknum itu. Hanya karena ingin banyak siswanya yang diterima di sekolah negeri, mereka dengan sadar melakukan hal yang memalukan. Perlu juga ditelusuri apakah orang tua para siswa juga terlibat dalam hal ini. Tak tertutup kemungkinan ini pun terjadi atas permintaan orang tua. Jangan semua kesalahan ditimpakan kepada sekolah.
Seharusnya semua pihak termasuk orang tua, masyarakat, dan pemerintah mengajarkan kejujuran, kemandirian, kerja keras, serta rasa tanggung jawab kepada para siswa. Latih mereka untuk meraih impian dengan belajar dan bekerja dengan tekun. Bukan mengajarkan kebohongan demi kebohongan demi yang namanya "prestasi". Akankah Indonesia mencapai generasi emas jika dunia pendidikan dipenuhi manipulasi.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
