Istri Mandiri
Aku tertarik pada sebuah status milik seorang teman di dunia maya. Kalimat yang tertulis yaitu:
"Jadilah istri yang mandiri, memiliki penghasilan sendiri untuk berjaga-jaga dari 3 hal yaitu: 1. Suami kehilangan pekerjaan, 2. Suami berpulang lebih dulu/meninggal, 3. Suami pulang ke rumah wanita lain."
Aku tersenyum dan membenarkan kalimat itu. Seorang istri memang jangan bergantung 100 persen pada suami. Istri juga harus bekerja atau mempunyai sumber pendapatan sendiri. Bekerja bukan berarti harus menjadi pegawai, karyawan, dan semacamnya dan tidak harus pula ke luar rumah.
Sebagai istri, bekerja bisa dilakukan dari dalam rumah seperti membuka warung, menerima katering, menerima jahitan, membuat kue, dan sebagainya, sesuai kemampuan dan keterampilan yang dimiliki. Terlebih saat ini banyak pekerjaan yang bisa dilakukan secara online.
Mungkin ada yang tak sependapat tapi begitulah menurutku. Berkaca pada pengalaman hidup saat ditinggal Bapak kembali ke haribaan Illahi. Meninggalkan lima anak yang masih kecil-kecil, hanya aku yang sudah duduk di bangku SMA. Terbayang bagaimana jika ibu saat itu tak punya penghasilan dan harus menghidupi lima anaknya tanpa suami. Bergantung pada keluarga atau saudara tentu tak mungkin. Alhamdulillah Ibu bisa melewati semua ujian hingga beliau pun menyusul Bapak 17 tahun kemudian.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan