Nani Yuliani Fahmuji

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pesan Terakhir Bik Ijah ( Episode ke 11 )

Pesan Terakhir Bik Ijah ( Episode ke 11 )

Tagur hari ke 22

Malam semakin larut, tapi Darsono belum terlihat ada tanda-tanda akan pulang, sudah seperti biasa kadang Darsono sering begadang pulang pagi, sudah sering diingatkan oleh ibunya karena besok paginya mau sekolah jangan begadang.

Tapi ucapan ibunya itu tidak pernah dihiraukannya. Sementara Ratmi masih penasaran dengan isi kotak yang diberikan Budenya

"Bude ini kotak apa, kenapa dititipkan kepada Ratmi Bude?" Tanya Ratmi merasa bingung

"Simpan saja kotak itu di kamar kamu ya Nduk, jangan sekali kali dibuka kalau belum waktunya," jawab Bik Ijah semakin membuat Ratmi bertambah bingung.

"Waktu yang tepat itu kapan ya Bude, duh jadi tambah Bingung Ratminya nih,"

"Sudah untuk sekarang kamu tidak usah banyak bertanya dulu, nurut saja sama Bude ya, simpan baik-baik kotak ini di kamar kamu, kalau bisa Bapak jangan sampai tahu ya Nduk," pesan Bik Ijah kepada Ratmi.

"Baiklah kalau begitu Bude, insyaallah amanat Bude akan Ratmi jaga, sekarang sudah malam kita tidur, nanti Bude kesiangan pergi ke pasranya.

"Ya Nduk, tidurlah dulu, ada yang harus Bude kerjakan,"ujar Bik Ijah sambil keluar kamar dan menuju kamar Suroto anak bungsunya.

Setelah berada di kamar putra keduanya pandangan matanya berkeliling menyusuri setiap sudut kamar, Bik Ijah merasa Rindu dengan putra bungsunya, sudah hampir tiga bulan dia tidak bertemu dengan putranya. Bik Ijah duduk di kursi meja belajar dan mengambil foto Suroto yang sedang berpose dengan bapaknya dan dirinya.

Lama Bik Ijah memandangi foto putra bungsunya, setelah puas berada di kamar Suroto, Bik Ijah keluar dan kini menuju kamar Darsono. Di dalam kamar putra sulungnya Bik Ijah melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan di kamar Suroto.

Dia pandangi foto Darsono, dia elus-elus wajah Darsono yang ada di pigura foto, sambil menitikkan air mata. Dan di dalam hatinya dia berdoa untuk kebaikan putra sulungnya.

Dia mengharapkan Allah segera memberikan hidayah kepada putranya, supaya mau merubah sikapnya dan menjadi anak yang baik. Setelah puas berada di dalam kamar Darsono, Bik Ijah kembali ke dalam kamarnya, dan mendapati Ratmi sudah tertidur pulas.

Bik Ijah akhirnya ikut terlelap juga, hingga jam satu dinihari dia terjaga dan langsung bersiap-siap untuk pergi ke pasar, tapi sebelum berangkat dia menyempatkan diri untuk salat malam dahulu.

Ratmi ikut terjaga dan ikut salat malam, setelah selesai salat Ratmi mengantar Bik Ijah ke teras menunggu mobil jemputan yang sudah menjadi langganan para pedagang sayur.

Sebelum berangkat, Bik Ijah sempat berpesan kepada Ratmi, untuk menyiapkan masakan untuk sarapan Darsono, kalau-kalau dia pulang ke rumah. Dan menitipkan rumah supaya dijaga dan di bersihkan.

"Nduk Bude pamit dulu ya mau ke pasar, tolong buatkan masakan untuk sarapan Darsono kalau-kalau dia pulang ke rumah, terus satu lagi nitip rumah ini supaya selalu terjaga kebersihannya," pesan Bik Ijah kepada Ratmi.

"Bude ini ko pesannya aneh sih, emang Bude mau ke mana?, Pake acara nitip rumah segala?" tanya Ratmi heran.

"Sudah pokoknya begitu saja pesan Bude, sekarang Bude pamit ya mobil sudah datang," jawab Bik Ijah sambil keluar pintu pagar dan langsung naik mobil jemputan.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post