Pesan Terakhir Bik Ijah ( Episode ke 7 )
Tagur hari ke 17
Karjo merasa prihatin dengan kondisi Mbakyunya yang setiap hari harus menghadapi permasalahan putranya yang selalu membuat masalah dan menyusahkannya. Sebagai adiknya dia merasa terpanggil untuk terus membantu apa yang terjadi pada kehidupan mbakyunya, terlebih setelah kepergian suaminya yang waktu itu masih balita kedua putranya.
Keponakannya yang bernama Darsono itu memang sepertinya salah bergaul dalam memilih teman, sedangkan adiknya yang bernama Suroto disekolahkan di pondok pesantren, dan jauh berbeda dengan kakaknya. Suroto lebih pendiam dan sangat menyayangi ibunya. Dulu Darsono pernah dimasukkan ke pondok pesantren. Tapi karena tidak betah dia kabur dari pondok pesantren pulang kembali ke rumahnya.
Yang akhirnya Darsono disekolahkan di sekolah umum, begitulah Darsono selalu membuat hati dan perasaan ibunya sedih.
Sudah sering juga Karjo menasehati dan mengingatkan keponakannya itu untuk mau berubah. Tapi kenyataannya terus saja Darsono seperti itu kelakuannya tidak mau berubah.
Setelah Karjo sampai di sekolah, ternyata Darsono tidak ditemukan, tanpa sepengetahuan gurunya, Darsono pulang tanpa pamit kepada bapak ibu gurunya di sekolah. Akhirnya Karjo sambil minta maaf atas kelakuan keponakannya itu, Karjo kembali pulang ke rumah Mbakyunya.
Sesampainya di rumah Mbakyunya, Karjo mendengar suara Darsono sedang berteriak-teriak, dia langsung tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah Mbakyunya. Setelah berada di dalam ternyata Darsono sedang berada dalam kamarnya dengan kondisi masih mabuk dan teriak-teriak tidak jelas bicara apa.
Akhirnya Karjo menyarankan kepada Mbakyunya supaya membiarkan Darsono sendiri di dalam kamarnya.
"Biarkan saja Darsono sendiri di kamarnya, sebentar lagi juga dua tidur lagi, sepertinya pengaruh alkohol yang diminumnya masih berasa. Nanti kalau sudah tenang baru saya ajak bicara baik-baik," ucap Karjo.
"Baiklah kalau begitu, kamu sudah makan siang belum Jo?", Kalau belum makanlah dulu tadi Ratmi masak sayur lodeh dan goreng ikan," ucap Bik Ijah kepada adiknya.
"Sudah mbak saya tadi sudah makan di rumah, kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Mbak, kalau ada apa-apa dengan Darsono langsung telpon saya saja," ujar Karjo sambil keluar rumah.
Setelah kepergian adiknya, Bik Ijah masuk ke kamar Darsono, rupanya Darsono sudah tertidur pulas, dengan masih mengenakan sepatu dan baju seragam sekolah, dilepasnya perlahan lahan sepatu putranya,
kemudian Bik Ijah membuka jendela kamar putranya supaya ada cahaya masuk, walaupun mentari belum sepenuhnya bersinar saat Bik Ijah membuka jendela. Yang dilihat hanya langit yang masih mendung.
Tapi belum ada tanda-tanda mau turun hujan, sambil merenung di jendela kamar putranya, Bik Ijah memandangi rimbunan daun mangga arumanis yang meneduhi bagian samping rumahnya.
Ketika Bik Ijah sedang merenung di jendela kamar putranya, Darsono terdengar berteriak-teriak histeris, setelah dilihat ternyata Darsono seperti sedang mengigau masih dalam kondisi tertidur lelap.
"Ampun pa, jangan pukul saya, ampun pa, Darso janji tidak akan membuat susah ibu lagi, ampun pa, ampun," teriak Darsono dalam tidurnya.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
