Nani Yuliani Fahmuji

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pesan Terakhir Bik Ijah ( Episode Terakhir )

Pesan Terakhir Bik Ijah ( Episode Terakhir )

Tagur hari ke 38

Karjo merasa tertegun melihat kotak kayu yang ditunjukkan oleh putrinya, dia menarik napas dalam-dalam. Lama dia memandangi kotak kayu tersebut.

"Kapan bude kamu memberikan kotak kayu ini nduk?" Tanya Karjo pada putrinya.

"Malam pada saat Ratmi menginap di rumah Bude, sebelum paginya kejadian kecelakaan itu yah," jawab Ratmi

"Ratmi belum berani membuka kotak ini yah, waktu itu Bude berpesan dibukanya pada saat yang tepat, gitu pesan Bude yah," lanjut Ratmi

"Sebaiknya kita buka kotak ini di depan Suroto dan Darsono, biar mereka juga melihat apa isi kotak ini, sepertinya ini isinya surat wasiat Bude kamu untuk kedua anaknya," jelas Karjo pada Ratmi

"Baiklah kalau begitu nanti malam kita ke rumah Bude ya yah," ajak Ratmi

Malamnya lepas Isa, Karjo, istrinya dan Ratmi menuju rumah Bik Ijah, rupanya Darsono dan Suroto sedang mengaji. Setelah selesai mengaji barulah Karjo menjelaskan makna kedatangan mereka. Sambil menyerahkan kotak kayu tersebut Karjo berkata.

"Lek, ini Ratmi dapat amanah dari ibu kalian malam sebelum kejadian kecelakaan itu, ibumu menitipkan kotak kayu ini kepada Ratmi, dan amanat beliau disuruh dibuka pada saat yang tepat. Mungkin inilah saatnya dan sepertinya isinya surat wasiat dari ibu kamu Lek," jelas Karjo pada kedua keponakannya itu.

Darsono dan Suroto saling berpandangan melihat kotak kayu tersebut, kemudian memberikan kode supaya pak Leknya yang membuka kotak kayu tersebut.

Pelan-pelan Karjo membuka kotak kayu itu, semua yang ada di ruangan matanya tertuju pada kotak kayu tersebut. Setelah kotak itu terbuka ternyata isinya beberapa amplop yang masing-masing amplop sudah ditulis namanya, semuanya ada tiga amplop.

Yang pertama tertulis nama teruntuk anakku Darsono, amplop yang kedua tertulis teruntuk anakku Suroto, dan yang terakhir ditujukan untuk Karjo. Selain amplop ada beberapa foto lama yang sepertinya itu foto Darsono dan Suroto waktu masih kecil.

Karjo menyerahkan amplop tersebut kepada Darsono dan Suroto, pelan-pelan Darsono membuka amplop tersebut setelah dibuka isi suratnya panjang sekali, sambil berderai air mata Darsono membaca semua pesan yang dituliskan oleh ibunya itu untuk dirinya.

Anehnya isi pesan yang ada di surat tersebut, isinya sama persis seperti mimpi Darsono sewaktu masih di rumah sakit. Ibunya menginginkan dia kembali ke pondok pesantren.

Sedangkan surat yang diberikan untuk Suroto berisikan suruh banyak membimbing kakanya dan diajak ke pondok pesantren tempat Suroto menimba ilmu.

Sedangkan surat yang diberikan untuk adiknya Karjo berisikan tentang suruh membimbing dan mengarahkan kedua putranya dan menghubungi adik bapaknya Suroto dan Darsono mengabarkan tentang kedua keponakannya itu.

"Karjo adiku, disaat kamu membaca surat ini, mungkin mbakmu ini sudah pergi jauh, mbak ada beberapa pesan untuk kamu, tolong didik, bimbing, kedua anakku ini, anggaplah mereka seperti anakmu sendiri. Mbak percayakan sepenuhnya mereka kepadamu.

"Untuk masalah biaya hidup, di kampung bapaknya anak-anak ada tabungan tanah untuk masa depan Darsono dan Suroto, tanah itulah satu-satunya peninggalan almarhum bapaknya Suroto dan Darsono.

Semua surat-surat tanah itu ada disimpan oleh pamannya anak-anak pa Joko. Bawalah anak-anak ke rumahnya pak Joko,"

"Untuk masalah hutang alhamdulilah mbakmu ini tidak pernah terlibat hutang dengan orang lain, jadi kamu jangan khawatir masalah hutang,"

"Hanya kepadamu mbak menaruh harapan untuk kedua anak mbak. Maafkan atas semua kesalahan mbak selama ini yang sudah selalu merepotkan kamu" itu isi pesan yang tertulis dalam surat wasiat untuk Karjo.

Keesokan harinya Karjo membawa kedua keponakannya itu ke kampung halaman almarhum bapaknya, dan menuju rumah pak Joko.

Sesampainya di rumah pamannya, keluarga pak Joko menyambut gembira kedatangan keponakannya itu. Dan Joko berjanji akan mengurus dengan baik tanah peninggalan almarhum kakannya.

Darsono dengan penuh keikhlasan kembali melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren. Darsono semakin hari semakin banyak berubah prilakunya bertambah baik dan sangat sopan kepada siapa saja.

Kehidupannya sudah benar benar berubah menjadi anak yang manis dan Soleh. Dia berkeyakinan ibunya bahagia di alam sana, melihat semua perubahan dia selama di pondok pesantren.

Bahkan Darsono berencana setelah lulus sekolah dari pondok pesantren dia akan mengabdikan hidupnya di pondok pesantren ini.

Ketika Darsono sedang duduk sendirian di teras kamarnya, dari kejauhan dia melihat ibunya sedang berdiri memandangi wajahnya dari kejauhan sambil tersenyum manis dan mengacungkan jempol manisnya kepada putranya Darsono. Tapi lama-kelamaan bayangan ibunya perlahan lahan menghilang.

Selesai.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post