Jamilah ( Episode ke 22 )
Tagur hari ke 73
Sekitar 20 menit berlalu ketika ada yang melontarkan ide untuk memanggil penjaga vila. Semua setuju karena mereka tidak tahu harus bagaimana. Serta bingung apa yang harus dilakukan untuk menolong Toni yang sepertinya kerasukan makhluk halus.
Sekitar lima belas menit, akhirnya penjaga vila datang dengan membawa seorang bapak tua, yang sepertinya orang pintar yang akan menolong Toni. Kondisi Toni masih berteriak teriak dengan kalimat yang sama terus berulang ulang.
Sosok bapak tua itu badannya kecil, dia mengenakan kemeja berwarna biru tua. Peci berwarna hitam yang dikenakan di atas kepalanya terlihat agak janggal namanya Pak Joko.
Dia masuk ke bangunan vila dengan tangan kanannya menggenggam sepotong kunyit yang sudah dikupas. Dia menyuruh kami memberi ruang.
Bapak tua itu mulai beraksi untuk menolong Toni dari pengaruh makhluk gaib, dengan gayanya yang khas mulai memegang kepala Toni sambil mulutnya sedikit komat kamit entah apa yang tengah diucapkannya, lalu pa Joko berkata.
“Nggak usah dipegangi nggak papa. Mundur dikit ya.” perintahnya kepada kami
Kami manut, dan mundur agak menjauh dari bapak tua itu, Pak Joko duduk bersila di bawah sofa, di bawah badan Toni, yang betul-betul terbujur kaku. Sofa itu agak melesak ke bawah. Setelah bersila, Pak Joko berdoa. Dua telapak tangannya terbuka dan diletakkan di atas lututnya Toni.
Setelah membaca doa singkat, Pak Joko jongkok dan mendekati kepala Toni. Beliau menggosokkan potongan kunyit itu di kening Toni. Setelah menggoreskan kunyit beberapa kali, Pak Joko pindah ke jempol kakinya Toni.
“Biar nggak dibawa,” gumam Pak Joko Kami semua diam tak mengerti.
Kunyit tadi digoreskan lagi ke jempol, tumit, dan betis Toni, setelah itu, bagian-bagian tadi dipijit perlahan. Lama-kelamaan, tubuh Toni kembali “terasa”. Jadi agak hangat dan mulai bisa didudukkan.
Pak Joko meminta kami mendudukkan Toni di bawah lalu kaosnya dilepas. Pak Joko menggoreskan kunyit di tengkuk, lalu sepanjang punggung dan tulang belakang.
Setelah ditandai dengan kunyit, bagian-bagian itu dipijat. Tidak lama, bola mata Toni kembali normal. Napasnya tak lagi tersengal-sengal. Semuanya kembali normal.
Setelah melihat kondisi Toni sudah mulai membaik, pak Joko istirahat sejenak sambil meminum kopi hitam yang sudah dibuatkan oleh penjaga vila. Pak Joko agak memarahi kami. Karena sudah menggangu makhluk gaib penghuni vila ini.
Kehadiran kami di vila ini rupanya tidak disukai oleh penghuni makhluk gaib yang ada di vila ini, karena memang vila ini sudah lama tidak ditempati. Mungkin ada salah satu peserta makrab yang sudah melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan.
Sepertinya mereka tidak berkenan untuk “para penunggu”. Kami tidak pernah permisi, tapi malah bikin gaduh. Para panitia meminta maaf dan sekalian mohon pamit.
“Pak, tadi sebelum saya begitu, saya lihat ada bapak-bapak yang melayang tiba-tiba ada di atas kepala saya. Agak udah tua. Pakainnya biru gelap kayak Pak Joko. Tapi ini cuma kain. Matanya keruh dan ekspresinya kayak orang marah. Itu siapa, Pak?” Toni yang sudah separuh sadar, bertanya.
“Ada baiknya Masnya nggak perlu tahu. Siapa itu, anggap saja memberi peringatan kepada Masnya. Kenapa memberi peringatan?"
"Nah, saya balik nanya ke Masnya. Masnya tadi malam ngapain? Kalau nggak kelewatan, beliau nggak semarah itu.” ucap Pak Joko sambil menatap tajam Toni.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
