Perjalanan Kehidupan Karierku Bagian ke 23
Tagur hari ke 105
Saya bertambah panik setelah melihat kondisi ibu yang semakin sesak nafasnya, tidak lama bibi yang rumahnya di samping rumah datang mendengar suara jeritan saya. Tidak lama mobil tetangga datang untuk segera membawa ibu ke klinik terdekat. Tubuh ibu langsung di angkat dibawa ke dalam mobil. Kemudian langsung dibawa ke klinik yang hanya lima menit sudah sampai.
Setelah sampai klinik ibu di bawa ke IGD, dan di langsung ditangani oleh dokter klinik, ada beberapa menit dokter memeriksa kondisi ibu. Wajah dokter terlihat murung kemudian melihat ke arah saya sambil mengucapkan innalilahi wainnailaihi Roji'iun ibu sudah tidak ada. Saya langsung menjerit jerit histeris mendengar ucapan dokter lalu tidak sadarkan diri.
Ketika sadar suami sudah ada di samping saya, dan langsung memeluk saya ikut menangis mengetahui ibu sudah meninggal dunia. Badan saya lemah sekali tidak kuat jalan, akhirnya mas Karim memapah saya jalan keluar klinik karena ibu sudah masuk mobil ambulan.
Dengan perasaan tidak menentu saya bersama teteh masuk ke dalam mobil ambulan. Perasaan hancur melihat tubuh ibu terbujur kaku di dalam mobil. Ya Allah secepat itu ibu pergi, mudah sekali ibu pergi menghadap Allah. Setelah 11 tahun ibu berpisah dengan Abah akhirnya hari ini ibu menyusul Abah.
Setelah sampai rumah para tetangga sudah ramai berdatangan membantu membereskan rumah. Saya yang kondisi waktu itu masih mengenakan baju seragam Pemda hanya bisa terbaring lemah tidak berdaya melihat kepergian ibu yang begitu tiba-tiba. Ya Allah berikanlah ibu tempat yang terbaik di sisimu ya Rabb.
Kini saya dan teteh saya sudah menjadi anak yatim-piatu, tidak ada lagi yang akan mendoakan saya, tidak akan ada lagi yang mengkhawatirkan saya, tidak akan lagi merasakan cerewetnya ibu. Suasana di rumah semakin malam semakin ramai dengan para penglayat. Saya sempatkan mandi sebentar dan berganti pakaian kemudian menemui para pelayat.
Esok paginya ibu dikuburkan saya menghantarkan ketempat peristirahatan terakhir ibu, selamat jalan ibu, insyaallah ibu Husnul khotimah ðŸ˜ðŸ˜. Hati terasa sesak saat menuliskan ini, jadi teringat kembali saat saat sulit melepaskan kepergian ibu 11 tahun yang lalu.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
