Arti Sebuah Kejujuran
Hari ini aku kedatangan tamu seorang Ibu paruh baya. Ketika sedang menyiram bunga di pekarangan rumahku. Awalnya ibu itu menanyakan rumah seseorang, kebetulan yang sedang dicari ibu itu masih saudara sepupuku.
Ketika aku tanya ada keperluan apa dengan Bu Tati, Ibu itu tidak menjawab apalagi ketika aku tanya namanya siapa, ibu itu tidak mau menjawab. Setelah berbincang agak lama baru dia mengatakan tujuannya ingin bertemu dengan Bu Tati.
Karena dia dulu pernah punya hutang sama Bu Tati, setelah tahu alasannya. Kemudian aku coba menghubungi Bu Tati lewat ponselku, tapi sayang ponsel Bu Tati tidak aktif.
Karena ibu itu meminta alamat bu Tati, aku berikan rute jalannya saja, soalnya aku tidak paham kalau alamat tertulisnya.Tidak lama setelah ibu itu pergi menuju rumah Bu Tati, ponselku berdering dan ternyata Bu Tati yang menelponku.
Kemudian aku ceritakan dari awal sampai akhir tentang kehadiran ibu yang sedang mencari Bu Tati itu. setelah mendengar ceritaku ada sedikit rasa khawatir ibu itu punya niat tidak baik, dan aku baru kepikiran
“Jangan-jangan ibu itu penipu, duh yaa ceroboh sekali aku ini. Memberikan alamat rumah orang kepada orang yang belum aku kenal sebelumnya” Tidak lama ibu tadi sudah sampai rumahnya Bu Tati, lalu bu Tati menutup telponnya.
Singkat cerita setelah menyampaikann maksud dan tujuan ibu itu pada Bu Tati, ternyata ibu itu sekitar dua puluh tahun yang lalu memiliki utang pada Bu Tati sebesar 150.000 dan mau membayarnya.
Ibu itu bilang khawatir dia tidak ada umur dia mau membereskan urusan utang dia supaya kelak tidak ada ganjalan. Dan ternyata ibu itu sudah hampir satu minggu mencari-cari rumah ibu Tati
“Duh Ya allah kasiahan sekali, ternyata di zaman sakarang ini masih ada orang jujur seperti ibu itu. akhirnya karena merasa iba Bu Tati memberikan lagi uang 150.000 itu kepada ibu tersebut dan mengatakan.
“Uang ini saya terima, tapi saya berikan lagi buat ibu, untuk ongkos pulang ke rumah ya bu” cerita bu Tati kepadaku, karena memang ibu itu orang kurang mampu dan rumahnya sangat jauh. Makanya dengan keikhlasan Bu Tati diberikan lagi uang tersebut.
Kesimpulan yang bisa diambil dari cerita ini seberapapun utang kita, mau besar mau kecil tetap yang namanya hutang harus tetap di bayar.
"Hutang wajib dibayar walau tidak ditagih, meskipun orang tersebut sampai jatuh miskin karena membayar hutang, tapi itu jauh lebih terhormat daripada membawa hutang dalam kematian.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
