nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Janji Satria

Janji Satria

Janji Satria.

(Part 1)

Entah hatimu terbuat dari apa, yang jelas aku tak bisa meluluhkannya. Sejak pertama jumpa, aku sudah jatuh cinta padamu. Mungkinkah ini cinta pada pandangan pertama? Entahlah yang jelas aku merasa bahagia. Mendengar suaramu, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Duduk disampingnya membuatku salah tingkah. Senyummu meluluhlantakkan pertahananku untuk tidak jatuh cinta.

Aku tak mau jatuh cinta, karena untuk menyembuhkan luka itu sangat lama. Aku tak mau luka yang sudah mengering, basah oleh air mata. Benarlah bahwa hanya butuh waktu satu jam untuk meyanyangi seseorang, butuh waktu satu hari untuk mencintai seseorang dan butuh waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.

Aku berjanji untuk melupakan kisah kita, menutup hati rapat-raoat untuk tidak jatuh cinta. Tuhan telah mengambil cintaku beberapa tahun yang lalu, namun mengapa kini Tuhan memberikan rasa yang sama. Seperti saat aku dan Mas Dias bertemu.

Satria, mengapa aku melihat bayangan Mas Dias padamu? Apakah aku belum ikhlas melepasmu menghadap Tuhan, sehingga aku melihatmu pada sosok yang lain. Tidak, ah tidak. Aku tidak sedang jatuh cinta pada Satria, aku masih setia pada Mas Dias.

"Mikir apa Ra?" Sapaan Satria membuat lamunanku buyar.

"Eh, kamu. Ehm ... gak ada," jawabku singkat dengan sedikit tergagap.

"Aku perhatikan mulai tadi kamu melamun."Ya Tuhan Satria memperhatikanku. Aku merasa bahagia sekali, seolah sedang terbang ke angkasa bercengkerama dengan bulan dan bintang. Laki-laki ketua BEM ini sangat cool tapi bisa perhatian juga padaku. Memperhatikan seorang Zahra yang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Aku juga jarang aktif di kegiatan kampus, hanya sesekali saja sebagai penggembira.

"Nah, melamun lagi. Awas kesambet kamu, Ra!"

Aku terkejut, tetiba Satria sudah duduk di depanku. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Aku seolah tak bisa mengontrol ritme jantungku. Mungkin wajahku sudah merah merona atau mungkin wajahku terlihat seperti kepiting rebus.

"Ra, ... ada yang ingin aku katakan padamu. Aku ..."

Wajah Satria semakin dekat, aku tak mampu berkata apa-apa, seperti terhipnotis oleh ketampanan dan wibawanya. Wajahnya begitu sempurna, aku seperti melihat bulan purnama di malam gelap gulita. Pantas saja dia menjadi idola. Banyak yang mengejar-ngejarnya, berlomba merebut hatinya. Sedangkan aku hanya bisa mengaguminya dalam diam.

Tetiba gawai Satria berdering, dia mengambil gawainya dari dalam sakunya.

"Maaf aku pergi dulu, ada rapat dengan teman-teman untuk acara bakti sosial besok. Kamu jangan melamun lagi ya."

Satria meninggalkanku yang masih termangu, bahkan aku tak mampu sekedar menjawab "iya". Apakah aku benar-benar sudah gila cinta?

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post