Dengan Basmallah Aku Mencintaimu dengan Hamdalah Aku Menjaganya
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, Dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 6)
Part 6. Aku Jatuh Cinta
Dalam ruang yang sunyi, di antara gemuruh waktu yang terus berlalu, terdapat sebuah perasaan yang melampaui batas-batas dunia ini. Ia adalah cinta, sebuah kekuatan yang mengalir dari lubuk terdalam hati, memayungi segala yang ada dengan kehangatan dan keindahan yang tak terlukiskan.
Sejak jumpa yang tak sengaja di cafe Sedoyo malam itu dengan Satria, hatiku merasa sangat bahagia. Bunga cinta di taman hatiku bermekaran sangat indah.
Awalnya ada keraguan di hatiku. Sikapnya di depan Raihan adalah sandiwara belaka, pura-pura mencintaiku agar Raihan tidak mengganggu. Namun, Satria menolaknya. Dia meyakinkan bahwa apa yang keluar dari bibirnya adalah suara hatinya.
“Aku tidak tahu sejak kapan mencintaimu. Perasaan ini begitu dalam. Aku tak bisa menggambarkannya. Aku anggap ini anugerah Tuhan yang sangat besar. Aku tidak akan pernah menyesalinya, andai pun kau tak mencintaiku.” Satria menggenggam erat tanganku. Aku bisa melihat cinta yang begitu besar dari sorot matanya yang teduh. Lalu apa yang aku ragukan, bukankah aku telah jatuh cinta padanya lama. Aku menyimpan semua rasa itu rapi dalam hati, karena aku takut kecewa, aku takut jatuh cinta.
“Zahra sayang, dengan Basmallah aku mencintaimu, dengan hamdallah aku menjaganya. Apa kamu masih ragu?” tanya Satria dengan tatapan teduhnya. Wajahnya yang tampan, membuatku terhipnotis karenanya. Matanya, seperti dua permata yang berkilauan di bawah cahaya mentari, menyimpan sikap yang tak tergoyahkan.
Satria, begitu tampan memesona. Bibirnya, seperti busur yang sempurna, terlukis dengan senyuman yang menyejukkan. Ketika ia berbicara, kata-kata yang mengalir dari bibirnya bagai melodi yang merdu, mengisi ruang dengan kebijaksanaan dan kelembutan yang menggetarkan jiwa.
Raut wajahnya, seperti pahatan yang dilahirkan dari tangan yang ahli, menampilkan keanggunan yang memikat. Pipi yang lembut, dagu yang kokoh, dan hidung yang mancung, semuanya menyatu dalam harmoni yang sempurna, menciptakan pesona yang tak terlupakan.
“Zahra, sayang kamu melamun?” Aku sedikit tersentak kaget, dari tadi aku cuma diam dan mengagumi wajahnya yang begitu sempurna. Tiada henti hati ini berucap syukur. Akhirnya aku bisa memiliki hati Satria. Rasa bahagia ini membuncah di dada.
“Aku seperti mimpi, sedikit tak percaya dengan ini. Namun satu hal yang pasti, aku pun telah lama jatuh cinta padamu.”
Mendengar ucapanku, Satria memelukku erat. Pelukan yang dalam penuh kasih sayang.
Terimakasih Tuhan, telah kau kirimkan pengganti Mas Diaz. Satria yang kini sedang bertahta di hatiku. Cinta yang mendalam ini bak lautan yang sangat luas, tak terhingga kedalaman dan kebesarannya. Ia meluap dari setiap sudut jiwa, mengalir tanpa henti bagai sungai yang tak pernah kering. Dalam cinta kita, terdapat kekuatan yang mampu mengatasi segala rintangan, menghapuskan segala ketakutan, dan menyatukan dua hati dalam kebersamaan yang abadi.
Di dalam relung hati yang sunyi beberapa tahun ini, kini cinta itu tumbuh subur bagai bunga yang merekah di musim semi. Ia menghiasi setiap harapan, setiap mimpi, setiap doa yang terucap. Dengan kekuatan cinta, segala sesuatu menjadi mungkin, karena cinta menggerakkan langkah-langkah ke arah kebajikan.
Cinta yang hadir ini bukanlah sekadar kata-kata yang terucap, tetapi tindakan nyata yang mengalir dari kesetiaan dan pengorbanan. Ia memancar dalam setiap senyum, dalam setiap tatapan, dalam setiap pelukan yang erat. Dalam cinta kita, terdapat kekuatan yang mampu menyembuhkan luka, mengubah kegelapan menjadi terang, dan memberi makna pada setiap langkah kehidupan.
Pada hati yang gersang ini, cintamu adalah oase yang memberi kehidupan, kedamaian. Cintamu adalah pelipur lara bagi hati yang terluka, penyemangat bagi jiwa yang lelah, dan penuntun bagi langkah yang terhenti. Dalam cinta yang demikian, terdapat keajaiban yang membuat hidup ini menjadi indah, karena cinta adalah bahasa yang menghubungkan dua jiwa dalam satu ikatan yang tak terpisahkan.
Aku tahu untuk kita bersatu rasanya sedikit lebih rumit, karena kamu adalah adik kandung Mas Diaz. Kamu adalah anak kandung Umi Sarah. Sedangkan Mas Diaz yang hanya anak tiri Umi Sarah, dulu hubungan kami ditentang. Umi Sarah memberikan restu, mau mengalah dan melamarku ketika Mas Diaz sudah kondisi kritis di rumah sakit.
Umi Sarah sangat membenci kisah masa lalu Ibuku. Beliau tidak ingin menjalin hubungan apa pun dengan masa lalu Ibuku dan suaminya. Bisakah Satria meluluhkan hati Umi Sarah, memberikan restu pada cinta kami? Entahlah, jika aku memikirkannya seolah hanya ada jalan buntu di depanku.
Biarlah aku jalani seperti air mengalir, biarlah cinta yang mendalam ini terus bersinar dalam kegelapan, terus berkembang dalam keterbatasan, dan terus hidup dalam keabadian. Aku masih berharap dengan cinta, ada keajaiban bisa melunakkan hati Umi Sarah dan memberikan restu untuk cinta kami.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
