Mantan Terindah (Bab 2. Perawan Tua)
Mantan Terindah
Bab 2. Perawan Tua
Kembali aku melanjutkan rutinitas harian, masuk kantor, pulang ke rumah dan sore atau malam kegiatan ngopi bersama teman-teman aktivis sosial atau aktivis lainnya. Terkadang aku juga jenuh, bosan dengan rutinitas seperti ini. Ketika melihat teman-teman seusiaku sudah menggendong anak yang lucu-lucu, ada rasa nyeri di dada ini. Bukan aku iri, tetapi sangat manusiawi, aku ingin seperti mereka. Aku ingin membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, sampai detik ini Tuhan masih mengujiku untuk bersabar dan lebih bersabar. Aku belum bertemu dengan jodohku.
Wahyu adalah sahabat terbaikku sejak kecil, namun aku tak pernah ada rasa selain persaudaraan, walau aku tahu dia tulus mencintaiku. Tetapi itu tidak terlalu menyakitkan, lebih menyakitkan lagi kasih tak sampai. Ah, begitu rumitnya urusan asmara ini. Apakah benar mitos tentang bougenville aku akan menjadi perawan tua?
Hubungan asmaraku tidak pernah berjalan lancar, ketika kami saling mencintai ada saja halangan yang memisahkan. Terkadang ada yang cinta mati denganku, tapi aku tak ada rasa sama sekali padanya. Kadang aku mengagumi seseorang tetapi hatinya sudah dimiliki orang lain. Ah, menjadi cinta bertepuk sebelah tangan.
Hal paling menyakitkan ketika harus ikhlas berpisah, padahal masih saling cinta, saling sayang. Fikiranku berkelana jauh ke awan. Kembali aku teringat pada Erlangga. Kita dipertemukan tanpa kesengajaan dalam perjalanan di sebuah kereta malam. Saat ini aku merindukanmu, ingin kembali menikmati secangkir kopi berdua denganmu. Mengapa cinta, rindu kita tiada titik temu? bahkan terkadang rasanya aku sudah putus asa menunggu di ujung waktu.
Ketika merindukanmu, hanya bisa memandang fotomu, memelukmu dalam bait doa. Tak sengaja kutemukan sebuah catatan, dalam buku yang kamu kirimkan. Ketulusan dan keikhlasan yang kau berikan.Tak sanggup aku membuangnya. Tak sanggup pula aku menyimpannya. Hanya menghadirkan cerita lama saat kita bersama.
Pada larik puisi kutuliskan, kususun langkah menuju satu arah. Mengikuti jejak jawaban yang kau taburkan. Apa kabarmu penunggu jiwa? Apa kabarmu Sang pencinta?
Sore itu, aku dan Erlangga bertengkar hebat. Aku menyesal tidak memahami ketulusan cintanya. Aku dibutakan oleh rasa cinta pada Mas Setyo.
"Kamu gila, masak iya kamu mau jadi istri kedua!" Erlangga melotot ke arahku.
"Aku mencintai Setyo Lang," jawabku tak berani menatap matanya.
Erlangga tampak kecewa mendengar jawabanku. Dia menatapku tajam. Tatapan matanya seperti elang yang siap menerkam. Namanya Erlangga, namun aku sering memanggilnya Elang.
Dia sahabat penaku dari Pekalongan. Hari ini dia datang dari jauh sekedar untuk menemuiku. Sahabat penanya. Kami sering bertukar cerita, dan mencari solusi atau sekedar mengisi hari dengan bait-bait puisi.
"Gila, kamu. Apa kamu gak pernah berpikir bagaimana rasa sakit hati istrinya? Bagaimana dengan anak-anaknya? Ngaco ..ngawur kamu," ucap Erlangga marah padaku.
"Mencintai itu tidak salah, menyayangi itu tidak dosa," jawabku membela diri.
"Ooo iya ... cinta memang tidak salah. Hanya kadang cinta itu datang pada saat yang tidak tepat dan pada tempat yang salah. Termasuk cintamu," ucapan Erlangga nadanya makin tinggi.
"Sekarang dibalik. Seandainya kamu di posisi istrinya Setyo bagaimana? Setyo mau menikah dengan gadis yang lebih cantik darimu? Lebih muda darimu dan lebih segalanya?" tanya Erlangga padaku.
"Aku izinkan dari pada dia menjalani hubungan yang diharamkan," jawabku sekenanya.
"Cinta memang benar-benar membuat otakmu tidak waras. Kamu gila Ra...!"
Aku lihat Erlangga menghela nafasnya dalam, dia tidak berkata apa-apa lagi. Membiarkanku dalam kecamuk hati.
"Lang, aku minta maaf kamu jangan marah," ucapku sambil memohon dengan menaruh tanganku di depan dada.
"Please...jangan marah Lang. Aku sayang kamu. Kamulah sahabat yang paling mengerti aku. Ketika semua orang menganggapku gila. Kamu terus mendukungku,"
Erlangga tetap diam membisu. Aku lihat dia begitu marah padaku. Biasanya dia selalu lembut, menghiburku. Namun kali ini dia tampak kecewa padaku. Wajahnya tampak merah menahan amarah. Disulutnya rokok kretek dengan pandangan menerawang jauh ke depan. Berkali-kali dia membuang nafasnya bersama dengan asap rokoknya. Baru kali ini aku melihat dia merokok. Padahal sebelumnya dia tidak pernah merokok. Dia menikmati kopi tetapi bukan perokok.
"Kapan kamu menikah?" tanya Erlangga padaku dengan nada yang rendah. Bahkan suaranya hampir tak ku dengar.
"Mungkin secepatnya, kita nikah sirri dulu," jawabku.
"What ...? Kamu benar-benar edan Ra. Masa depanmu kamu pertaruhkan demi seorang Setyo yang sering membuatmu menangis. Oke lah, aku bisa terima kalau kamu menikah dengan Setyo sah secara agama dan sah secara hukum negara. Tapi kalau hanya nikah sirri, kayaknya itu bukan cinta. Hanya nafsu sesaat saja. Aku benar-benar kecewa padamu," Erlangga membuang rokok yang baru saja dia nyalakan.
"Aku kira, dengan setiap hari, setiap waktu aku menulis surat untukmu, menelponmu. Kamu bisa lebih kuat. Kamu bisa melupakan Setyo. Ternyata tidak. Kamu malah lebih gila." Perkataan Erlangga kali ini membuat dadaku sesak. Aku membenarkan ucapannya. Kenapa juga aku mau menerima Setyo dengan konsep nikah sirrinya? Aku lihat Erlangga bangkit dari duduknya.
"Sekarang terserah kamu, itu hidupmu. Aku tidak akan pernah melarangmu. Ranita, aku pergi dan jangan kau cari aku lagi. Sebagai sahabatmu aku sungguh kecewa." Erlangga meninggalkanku. Dia membuka pintu mobilnya. Tidak berapa lama dia segera menstarter mobilnya. Aku masih berdiri termangu.
Tidak ...aku tidak mau kehilangan Erlangga sahabatku. Hanya dia yang mengertiku segalanya.
Aku segera berlari menuju mobilnya.
"Lang ....tunggu..." Aku berdiri tepat di depan mobilnya sehingga Erlangga mengerem mendadak.
ccciiitttttt......ciitttt...
"Buka Lang ...buka dulu pintunya," teriakku berkali-kali pada Erlangga. Akhirnya Erlangga membuka pintu.
"Apalagi? Aku tidak mau mendukung kegilaanmu. Kamu bebas...silahkan pergi Ra. Kamu hanya terobsesi tidak ingin mendapat gelar perawan tua, iya kan?"
Ucapan Erlangga masih dengan nada tinggi.
"Jangan pergi Lang. Aku tidak ingin kehilanganmu. Kamu adalah sahabat satu-satunya yang paling mengerti aku," ucapku memohon padanya
"Kamu adalah sahabat yang paling tidak mengerti aku," ucap Erlangga menimpali.
"Maksudmu Lang?" tanyaku tidak mengerti.
"Ra... Hatimu itu terbuat dari apa? Kamu tidak bisa melihat ketulusanku. Percuma juga aku selalu menghiburmu. Percuma juga aku datang dari jauh untukmu. Aku sangat menyayangimu, mencintaimu. Namun, kamu tidak pernah melihat rasa sayangku, rasa cintaku. Kamu tidak melihatku yang mencintaimu tulus, cintamu yang buta pada Setyo menutup mata hatimu. Andai kamu mau, aku siap menikahimu sekarang juga. Sah bukan sirri!."
Aku kaget mendengar ucapan Erlangga. Aku tidak pernah menyangka dia mencintaiku. Aku pikir dia hanya sayang sebagai sahabat. Ya Tuhan... Erlangga maafkan aku telah membuatmu sakit hati. Maafkan aku yang buta karena cinta Setyo.
"Biarkan aku pergi ... Jangan mencariku lagi!" ucap Erlangga yang membuat dadaku sakit, aku merasakan sakit yang luar biasa. Seolah separo jiwaku hilang mendengar kata pamit Erlangga.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
