nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya(Part 1)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya(Part 1)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya

(Part 1)

"Dik, ayo kita kembali ke warung. Kita makan ikan bakar dulu sebelum pulang," ajak Ustaz Romi. Aku dan Eni mengekor di belakang menuju warung.

Senja di Pantai Papuma begitu elok sore ini. Ombak berkejaran, pecah di antara karang, seolah sedang menuliskan puisi putih yang tak pernah habis dibaca. Angin laut berembus lembut, membawa aroma asin yang bercampur dengan hangatnya matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Burung-burung camar terbang rendah, seolah ikut menjaga rahasia laut, rahasia yang kini juga kusimpan rapat dalam dadaku.

Namun keindahan itu tak mampu sepenuhnya menenangkan hatiku. Di hadapan birunya cakrawala, pikiranku kusut seperti jaring nelayan yang tersangkut karang. Ustaz Romi datang dengan maksud baik, membawa lamaran yang seharusnya menjadi kabar gembira. Tapi bagaimana mungkin aku tersenyum sepenuhnya, sedangkan hatiku masih tertambat pada seseorang yang lebih dulu mengisi ruang terdalamku? Nama dan kenangannya masih berdenyut di sela-sela detak jantungku, seperti ombak yang tak lelah kembali ke pantai.

Tadi aku berdiri cukup lama di pasir yang mulai dingin, memandang horizon yang perlahan berubah jingga. Di sana aku belajar, bahwa kadang takdir bukan hanya tentang siapa yang kita cintai, tapi juga siapa yang harus kita terima demi restu keluarga. Ketika orang tua menginginkanmu hadir dalam hidupku, aku hanya bisa tunduk, menyimpan kegelisahan ini dalam diam yang panjang. Aku ingin mempertahankan cintaku, tapi aku juga anak yang selalu diajarkan untuk patuh dan menghormati pilihan mereka.

Lalu aku bertanya pada angin yang meniup rambutku pelan, apakah cinta bisa tumbuh dari keterpaksaan? Ataukah cinta bisa tumbuh dari kebiasaan, "Witing Trisna Jalaran Saka Kulina"? Apakah mungkin kelak senyumku tulus saat menyebut namamu sebagai pendamping hidupku?

Di antara gulungan ombak dan langit yang memerah, aku hanya mampu berbisik pada laut:

"Aku bisa apa? Aku mencintai seseorang yang bukan jodohku, dan menerima seseorang yang belum sepenuhnya kurengkuh di hati."

"Dik, kenapa diam saja. Ayo di makan," ucapan Ustaz Romi membuyarkan lamunanku. Sementara Eni sahabatku tersenyum kecut melihat tingkahku. Dia menginjak kakiku di bawah meja sambil berbisik, "ayo cepat di makan dan kita pulang."

Aku mengangguk dan segera mengambil nasi dan ikan kakap merah bakar yang sudah tersaji di meja.

"Aku mengajakmu ke sini, ditemani Eni, ingin mengenalmu lebih jauh. Kamu pasti sudah tahu dari ibumu bahwa aku sudah menghitbahmu. Sekarang, aku ingin tahu jawabanmu, Dik?"

Aku tak lagi benafsu menghabiskan ikan bakar di depanku. Pertanyaan Ustaz Romi membuat rasa laparku hilang.

"Kalau boleh tahu, mengala Ustaz memilih saya? Bukankah masih banyak gadis lainnya? Mereka yang lebih cantik, penghafal Al-Qur'an juga. Sementara saya ini apa? Sekolah di umum semua, bukan di pesantren."

Ustaz Romi tersenyum mendengar pertanyaanku.

"Menikah itu nasib. Mencintai itu takdir, kamu boleh menikah dengan siapa, tapi tak bisa kamu rencanakan cintamu untuk siapa? Dan, ini mengapa alasan aku memilihmu."

Aku terkejut mendengar jawaban diplomatis atau jawaban puitis, tetapi hatiku gak terima jika harus menjadi orang ketiga.

"Maksudnya, ustaz sudah punya istri. Saya jadi istri kedua?"

"Saya sudah furqoh dengan istri saya. Ada alasan syar'i akhirnya kami memutuskan mengambil keputusan yang dibenci Allah. Saya ingin ada yang melanjutkan dakwah saya. Ingin memiliki keturunan, yang itu tidak bisa diberikan mantan istri saya. Beliau mandul."

Aku seperti tersengat petir mendengar jawaban Ustaz Romi. Betapa sakitnya hati istri yang diceraikan? Mungkin aku bisa saja menerima hadirmu seperti angin yang lembut menyapa sore hari, namun bagaimana mungkin langkahku tegap bila di balikmu ada hati lain yang tergores? Aku tahu, belum hadirnya buah hati di pelukanmu dan dia bukan karena ia tak ingin, bukan juga karena kurang doa atau kurang usaha. Itu adalah rahasia Allah, takdir yang tertulis dengan tinta yang tak terlihat.

Sebagai sesama wanita, aku memahami rindu yang tumbuh diam-diam dalam dekap yang belum terjadi. Memahami betapa setiap bulan bisa menjadi penantian yang menggigilkan harap. Aku tak ingin menjadi duri tambahan dalam dadanya, yang mungkin sudah penuh luka yang tak pernah ia tunjukkan pada dunia.

Izinkan aku memilih menepi dengan hormat, bukan karena tak cinta, tapi karena cinta tak seharusnya berbuah luka.

Bersambung

#literasi

#cerpen

#fiksi

#menulisharike1

(Foto hanya pemanis 😆)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post