nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 2)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 2)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 2)

Seperti memakan buah simalakama, kutelan pahit yang tak pernah kupilih. Jika kumakan, aku melukai hati perempuan salihah, ia yang tak bersalah, ia yang setia menemani doa-doanya,

ia yang menerima takdir tanpa pernah meminta luka. Hatiku yang kecil menolak keras. Bagaimana mungkin kebahagiaanku tumbuh dari air mata wanita lain? Jika kutinggalkan, aku berdiri sendiri di hadapan takdir dan waktu yang terus mengetuk.

Tuhan, mengapa Engkau pertemukan aku dengan calon jodoh yang datang bersama riwayat pernikahan dan keputusan perceraian, atas nama keturunan? Seakan cinta dan takdir bersekongkol menempatkanku di persimpangan paling sunyi.

Aku bukan tak paham alasan, namun nurani tak pernah pandai berkompromi. Aku tahu, hidup tak selalu hitam putih, tapi mengapa abu-abu ini begitu menyakitkan?

Di sisi lain, orang tua menatapku dengan cemas yang tak terucap. Usiaku bukan lagi muda, kata mereka. Usia 24 tahun menjadi perbincangan di desa, ketika belum menikah. Waktu tak bisa terus ditunda. Peringatan itu menggema

lebih nyaring dari suara hatiku sendiri. "Kamu, ibarat bunga masih mekar-mekarnya. Banyak kumbang datang. Tetapi itu gak akan bertahan lama, bunga itu nanti juga akan layu, selaras bertambahnya usiamu. Segera ambil keputusan menikah." Inilah ucapan ibuku sore itu.

Aku terjepit di antara bakti dan nurani, antara restu dan rasa tak tega. Aku hanya perempuan biasa yang ingin mencintai tanpa melukai, ingin menikah tanpa merobohkan rumah orang lain.

Tuhan, jika ini ujian, kuatkan aku untuk jujur pada hati. Jika ini takdir, tunjukkan jalan yang tak menzalimi siapa pun. Sebab aku ingin bahagia tanpa harus menjadi alasan bagi air mata perempuan lain.

Ustaz Romi mencoba mengambil hatiku lewat Eni. Dia kembali mengajakku, Eni, dan Ria keluar ke Puncak Rembangan. Katanya ada mabit, event rakor dengan pengurus Yayasan Pesantren yang dipimpinya. Ingin mengenalkan saya sedikit demi sedikit pada dunianya. Kami keluar tidak berdua, tetapi banyak orang untuk menghindari fitnah.

Sebelum naik ke puncak, dia meminta Eni memilih barang sesuai kebutuhannya, termasuk diriku di sebuah Mall. Eni memilih gamis, celana jeans, hem, sepatu dan sebagainya, sementara aku masih mematung.

"Dik, kamu pilih baju sesuai kebutuhan. Apa mau celana jeans lagi gakpapa, walau aku tahu kamu gak pernah memakai rok atau gamis."

"Celana jeans saya masih banyak. Terima kasih Ustaz." Jawabku sambil menikmati es krim.

"Apa saya harus memakai gamis? Jilbab lebar?" tanyaku.

"Gak lah, hidup ini merdeka. Aku menghormati dirimu. Aku mencintai apa adanya. Tidak menuntutmu menjadi seperti yang aku mau."

"Baiklah, saya akan pakai gamis yang ustaz pilihkan. Saya tidak akan memilih sendiri. Saya akan coba mengikuti dunia pesantren."

"Dik, kamu yakin? Artinya kamu siap menerima lamaranku? Kamu siap menjadi pendampinglu untuk meengabdi pada umat?"

Lidahku kelu, seolah sulit untuk bisa menjawab antara iya dan tidak.

Di Puncak Rembangan alam seperti sengaja memperlambat waktu. Kabut pagi mulai turun lembut, menyentuh kulit dengan kesejukan yang jujur, seolah mengajak setiap napas untuk lebih bersyukur.

Kabut menggantung malu-malu di antara pepohonan pinus, menari pelan saat cahaya matahari mulai menyibak. Perkebunan kopi membentang hijau, rapi dan tenang menjadi saksi bisu kerja alam dan tangan manusia yang hidup berdampingan tanpa saling melukai.

Dari ketinggian, Jember terlihat seperti lukisan atap rumah kecil, hamparan sawah, dan jalan berkelok yang mengajarkan bahwa hidup tak harus lurus untuk sampai pada keindahan.

Angin Rembangan membawa aroma tanah basah dan kopi yang sedang tumbuh dalam diam. Ia tak bising, tak memaksa, namun cukup untuk menenangkan hati yang lelah oleh hiruk-pikuk dunia.

Di puncak ini, kita bisa belajar bahwa keindahan sejati tak selalu tentang gemerlap, melainkan tentang sunyi yang jujur, tentang alam yang memeluk tanpa bertanya, dan tentang hati yang akhirnya pulang pada rasa damai.

Di Resto Rembangan aku, Eni, dan Ria dan Ustaz Romi memilih sarapan di luar resto. Bangku-bangku masih basah oleh embun. Waiters menghidangkan menu yang sudah kami pesan. Soto Daging, Roti Maryam, Kopi Hitam, Kopi Gingseng dan air mineral.

"Maaf ustaz, saya belum paham kehidupan pesantren Panjenengan seperti apa? Apakah saya bisa menjadi istri yang baik, sementara kehidupan kita berbeda 180 derajat. Bainal masyriq walmaghrib."

"Gpp Dik. Kita hidup saling melengkapi, tidak harus sama. Mantan istri saya seorang hafidzah, dia sangat berbakti pada saya. Kesehariannya dia habiskan untuk mengajar. Paling hanya 1 jam dia bisa melayani saya. Selebihnya waktunya untuk umat."

"Ya allah... Wanita sebaik itu diceraikan?"

"Mungkin aku egois, tetapi perceraian jalan terbaik untuk tidak menyakiti siapa pun. Saya butuh ada penerus dakwah. Lagi pula saya tahu, kamu gak akan mau dimadu."

Aku terdiam, dadaku terasa sesak.

"Ohya Dik, ini aku berikan hadiah murotal AlQuran Digital, untuk lebih memudahkanmu menghafal Al-Quran. Ada terjemahannya juga. Ketika kamu capek, bisa diputar didingerkan saja sampai tertidur. Aku tahu kamu sedang belajar menghafal dan sudah dapat beberapa juz. Namun, bukan saya bermaksud mengaturmu untuk harus segera menyelesaikan hafalan. Kita nikmati prosesnya. Hasil serahkan pada Allah."

Entahlah, aku bingung dengan kenyataan yang terjadi begitu tiba-tiba. Kadang, aku menyalahkan takdir mengapa dulu tanpa sengaja aku bertemu Ustaz, Romi di Bandara, mungkin kalau tidak ada pertemuan itu takdir begini tidak terjadi.

"Assalamualaikum, boleh saya bergabung di meja ini, Ustaz Romi?"

Suara lembut wanita bercadar dengan makai gamis hitam menggetarkan hatiku. Aku melihat matanya teduh, tetapi terasa menusuk. Siapakah dia? Apakah wanita ini mantan istri Ustaz Romi?

Bersambung.

(Foto hanya pemanis 😅)

#literasi

#cerpen

#tantanganmenulis2

#eksplorejember

#puncakrembangan

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post