Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya(Part 4)
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 4)
Ya Allah, di hadapan-Mu aku bersimpuh membawa hati yang lelah oleh pertimbangan. Jika hari ini aku melangkah menerima Ustaz Romi, mantabkanlah hatiku agar tak ada ragu yang tersisa, agar keputusan ini bukan sekadar tunduk pada keadaan, melainkan ikhtiar yang Engkau ridai.
Lepaskan aku dari beban masa lalu, dari bayang perempuan yang pernah tersakiti, juga dari lelaki yang dulu hadir mengisi hampir setiap waktuku. Aku tak ingin melangkah dengan rasa bersalah yang membeku, atau cinta lama yang diam-diam masih berbisik.
Ajari aku membuka lembar baru dengan lapang, mencintai tanpa membandingkan, menerima tanpa menyimpan luka, dan berjalan tanpa menoleh ke belakang. Jika pernikahan ini adalah jawaban atas doaku tentang jodoh, jadikan ia rumah yang tenang, tempat iman bertumbuh, tempat cinta belajar sabar dan setia.
Dan jika hatiku masih gemetar, genggamlah lebih erat, ya Tuhan, sebab hanya pada-Mu aku ingin berserah, menyerahkan masa depan, tanpa beban, tanpa ragu, dengan percaya sepenuh-penuhnya.
"Dik, kamu sudah mendengar keikhlasan Khadijah, menerima takdir perceraian ini. Namun, aku akan menunggumu sampai kamu sudah siap menerima kehadiranku sepenuh hatimu," Ustaz Romi menghela nafasnya dalam.
"Apakah rasa gamangmu, karena ada masa lalumu yang belum selesai?" Ustaz Romi bertanya, suaranya selembut angin sore, namun dampaknya menghantamku seperti badai.
Aku menunduk, tak sanggup menatap keteduhan di matanya. Bagaimana mungkin aku mengaku bahwa di balik hijab yang kukenakan dengan rapi ini, ada sebuah nama yang masih berdenyut kencang? Aku tidak sedang merebut milik siapa pun, namun rasanya aku sedang merampok hatiku sendiri untuk diberikan kepada orang lain.
Lalu, bayangan Mas Yo hadir tanpa diundang. Lelaki yang selama tiga tahun ini menjadi alamat bagi segala rindu yang kukirim lewat doa-doa malam. Aku sempat berharap, saat kabar lamaran ini sampai ke telinganya, dia akan datang sebagai ksatria, mencegahku pergi, atau setidaknya memintaku menunggu sedikit lebih lama.
Namun, kenyataan justru menebas harapanku dengan cara yang paling dingin.
"Terimalah Ustaz Romi, lupakan cinta kita. Aku bahagia, jika kamu bahagia," katanya di ujung telepon waktu itu.
Sederhana. Terlalu sederhana. Seolah tiga tahun yang kami rajut di atas jarak yang melelahkan hanyalah tulisan di atas pasir yang hilang disapu satu ombak kecil. Kalimat itu bukan pengorbanan bagiku, melainkan sebuah pengkhianatan yang dibungkus kata-kata bijak. Dia tidak sedang membebaskanku, dia sedang mengusirku dari hidupnya tanpa mau terlihat sebagai penjahat.
"Dik, kenapa diam?"
Lamunanku tentang Mas Yo buyar seketika. Di hadapanku, Ustaz Romi tersenyum dengan kesabaran yang seolah tak bertepi. Senyum itu adalah dermaga yang tenang, sementara hatiku masih berupa kapal yang hancur dihantam karang.
"Apakah masih butuh waktu untuk istikharah lagi?" tanyanya lagi.
Aku menarik napas panjang, mencoba menghirup oksigen yang terasa berat. Jika aku terus menoleh ke belakang, aku hanya akan melihat reruntuhan. Jika Mas Yo saja sudah sanggup membuangku ke pelukan takdir lain, untuk apa aku masih memeluk bayangannya?
"Tidak, Ustaz," jawabku, suaraku bergetar namun ada ketegasan yang kupaksakan lahir di sana.
"Lalu, apakah kamu menerima lamaranku?"
Aku memejamkan mata sejenak, membunuh sisa-sisa rindu yang masih berbisik di sudut hati.
Maafkan aku, masa lalu. Hari ini aku memilih untuk berhenti berdarah.
"Rasanya tidak ada alasan bagi saya untuk menolak niat baik ini. Kekhawatiran saya telah terjawab oleh ketulusan Ustaz. Saya siap... saya siap mendampingi Ustaz Romi."
(Bersambung)
(Foto hanya pemanis 😅)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
