nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya(Part 5)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya(Part 5)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya(Part 5)

(POV Yohan)

Maafkan aku, Sarah. Sengaja kupilih menjadi lelaki yang kau benci. Lelaki yang tampak tak mau memperjuangkanmu, seolah cintaku kalah sebelum perang. Padahal bukan karena aku tak mampu, melainkan karena aku tahu batas yang tak boleh kulewati, karena kau telah dikhitbah orang lain.

Aku hidup di zaman yang memberi banyak celah untuk melawan keadaan. Aku bisa saja mengajakmu lari, mengatasnamakan cinta, menabrak adat, menantang keluarga. Namun cinta yang kupeluk tak pernah mengajariku merusak marwahmu. Aku memilih menjaga namamu tetap utuh, kehormatan keluargamu tetap tegak, meski hatiku harus remuk dalam diam.

Aku juga tahu satu hal yang tak bisa kutawar. Aku tak akan melamar perempuan yang telah dilamar orang lain, meski seluruh jiwaku memanggil namanya. Cintaku padamu tidak membuatku lupa adab, tidak pula membuatku menutup mata dari luka yang bisa kutinggalkan pada banyak orang.

Biarlah luka ini aku rawat sendiri. Aku belajar tersenyum tanpa bahagia, belajar kuat tanpa ditemani. Perpisahan ini akan jauh lebih berat bagimu jika kau tahu aku masih mencintaimu. Maka sengaja kupilih jalan yang paling kejam bagi diriku, merelakanmu sepenuhnya.

Aku mundur, bukan karena cintaku kecil, tapi karena cintaku terlalu besar untuk membuatmu bersalah. Jika dengan membenciku kau bisa lebih mudah melupakanku, maka biarlah aku menjadi alasan yang kau hapus dari hatimu.

Aku ikhlas, meski tidak pernah benar-benar sembuh.

Tiga tahun bukan waktu yang singkat.

Ia bukan sekadar angka di kalender, melainkan kumpulan hari yang dipenuhi namamu, doa-doa yang kusebut diam-diam, dan rindu yang belajar bersabar. Terlalu banyak kenangan manis yang tak bisa begitu saja kuhapus, meski kini aku berpura-pura lupa.

Aku masih ingat awal kita bertemu, tanpa sengaja, tanpa rencana di sebuah kereta yang melaju, seolah tak memberi kesempatan untuk menunda takdir. Kau duduk berhadapan denganku di restorasi kereta, membawa senyum yang sederhana namun menetap lama di ingatan. Dari jendela, pemandangan berlalu cepat, tapi perasaan itu justru berhenti, menetap, dan diam-diam tumbuh.

"Suka kopi?" tanyaku basa-basi.

Kamu mengangguk pelan.

"Yohan," aku mengulurkan tanganku.

"Sarah," kamu menyebutkan namamu dengan senyum manis. Lesung pipit menambah pesonamu malam itu.

Akhirnya kita ngobrol hal-hal ringan tentang hobi, atau kegiatan kita masing-masing.

Kamu juga cerita habis terpeleset jatuh, dan kaki kirimu sedikit cedera.

"Ternyata jatuh di aspal, tak seindah jatuh cinta ," kataku dan Sarah tertawa mendengarnya.

Aku suka, kamu orangnya tidak jaim dan sedikit suka mbanyol juga.

"Betul, dan jatuh cinta terindah mencintai setulus hati dengan seseorang yang ada chemistri," Sarah menambahkan sambil kita menikmati kopi hitam.

"Sarah, kamu di gerbong berapa? Aku antar ya."

"Yakin mau antar, gak merepotkan?. Aku di gerbong 3." Jawabmu sambil mengangguk tanda setuju aku antarkan sampai di gerbongmu.

Aku berjalan mengantar ke tempat dudukmu di gerbong 3 yang ternyata bersebelahan juga, aku di gerbong 5.

Sebenarnya jalan di gerbong dengan guncangan kereta gak terlalu ekstrim dari pada kita jalan di atas bus, namun aku lihat beberapa kali kamu hampir terjatuh. Maklum, kakimu sakit setelah jatuh.

Aku ulurkan tanganku dan kamu menyambutnya. Ada getar halus di hati ini, padahal aku juga baru mengenalmu. Aku antarkan kamu sampai di tempat dudukmu di gerbong 3. Aku pastikan kamu baik-baik saja.

"Selamat beristirahat dan melanjutkan perjalanan Sarah. Nanti aku pamit duluan turun di Stasiun Gubeng. Hati-hati sampai di Jember ya."

"Makasih banyak Yo, sudah mengantarkanku. Selamat jalan juga. Sampai jumpa."

Itulah awal pertemuan kita. Sejak itu kita sering berkomunikasi dan menjadi lebih akrab. Ada beberapa agenda kampus, yang kita juga sebagai panitianya, sehingga kita sering bertemu.

Aku ingat betapa sering aku harus meyakinkanmu bahwa cintaku utuh. Bahwa jarak hanyalah ujian, bukan alasan. Bahwa meski rel yang kita tempuh berbeda kota, bahkan berbeda waktu, hatiku tetap pulang ke tempat yang sama: padamu. Aku belajar memilih kata dengan hati-hati, menakar janji agar tak terdengar berlebihan, dan menyusun keyakinan agar kau percaya, aku sungguh-sungguh.

Ada malam-malam panjang ketika rindu lebih berat dari lelah, dan pagi-pagi ketika namamu menjadi alasan untuk bertahan. Kita merawat cinta dengan sabar, menumbuhkannya dari hal-hal kecil, dari pesan singkat, dari doa yang tak pernah kita ucapkan keras-keras.

Kini, semua itu menjadi kenangan. Manis, utuh, dan tak pernah benar-benar salah. Hanya saja, takdir memilih jalannya sendiri. Dan aku belajar satu hal yang paling sulit: mencintaimu bukan berarti harus memilikimu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post