Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 10)
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 10)
#POV Sarah
Pertemuan tersembunyi dengan Mbak Khadijah di Pantai Payangan membuatku semakin tak berdaya. Dulu, zaman di kampus aku selalu keras meneriakkan "jangan mau dipoligami", tetapi sekarang kondisi ini seperti berbalik ke arahku.
Malam semakin merambat, aku masih terjaga bersama kegamangan yang tak kunjung reda. Di hadapanku ada dua jalan, sama-sama terjal, sama-sama menyisakan luka. Melanjutkan pernikahan dengan Ustaz Romi, menjadi istri kedua, menundukkan egoku, merapikan hati agar ikhlas berbagi. Atau memilih pergi, melepaskan semuanya, namun membawa serta rasa malu yang mungkin akan menimpa keluarga, seolah kegagalanku adalah aib yang harus mereka tanggung.
Usiaku hampir dua puluh lima. Angka itu kini seperti penanda yang terus berdetak di kepalaku, seakan waktu tak memberiku ruang untuk ragu. Setiap bisik orang, setiap tatap mata yang menunggu kabar bahagia, menjelma beban yang kian menekan dadaku.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Di tengah kebimbangan itu, bayangan Mas Yo kembali hadir. Wajahnya, suaranya, kenangan yang belum benar-benar sembuh. Andaikan dulu ia memperjuangkan cinta kami, niscaya aku pun akan berdiri di sisinya, melawan arus, menolak lamaran Ustaz Romi tanpa ragu. Aku akan memilih cinta, meski harus berhadapan dengan dunia.
Namun Mas Yo memilih pergi. Ia melepaskan, meninggalkanku sendirian di persimpangan ini.
Kini tak ada lagi “andaikan”. Yang ada hanyalah pilihan yang harus kuambil sendiri: bertahan di sini, belajar menerima peran sebagai istri kedua, atau pergi jauh dengan risiko mengecewakan banyak hati. Di antara doa yang lirih dan air mata yang jatuh, aku hanya berharap satu hal, apa pun jalanku nanti, Engkau tidak meninggalkanku sendirian.
Kembali aku tuliskan puisi untuk Mas Yo, yang entah masih menyimpan kenangan indah kita atau bahkan sudah mengubur kisah kita. Tak bisa dimungkiri, aku masih merindukannya. 3 tahun bersama bukan waktu yang singkat, terlalu banyak kenangan indah bersamanya. Sampai mungkin Tuhan mengambil semua, membolak-balikkan hatinya. Tak mau memperjuangkanku. Luka yang tak berdarah. Aku tak lagi istimewa.
Bait-Bait Rindu
Seperti angin perlahan hilang dalam sapa hujan
Tak sempat memeluk gairah segar bunga ungu
Dalam sepi yang menggigit luruh hati sempit
Tak lagi terdengar dawai asmara dalam pangkuan jiwa
Aku tercecer dilorong waktu
Dalam rindu yang terus mengalir deras
Serupa bayang, tak pernah tergapai
Serupa mimpi, selalu tersembunyi
Seperti mata sang pendaki
Meninggalkan kisah air mata sunyi
Pada rapuh jiwa, aku rindu syahdu suaramu
Dan aku mulai takut, akan kehilanganmu
Serupa embun terperangkap daunan kering
Kau menghilang tanpa jejak kau beri
Jika rindumu tak lagi jadi milikku
Berikan aku waktu bertahan
Karena aku cemburu pada awan
Yang sering kali kau pandang
Hanya syair dan wajahmu yang masih bisa aku reka
Lalu kutuliskan pada butiran hujan yang datang.
Bersambung
#literasi
#tantanganmenulisharuke11
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
