Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 12)
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 12)
Satu bulan, dua bulan, hingga setengah tahun berlalu, aku benar-benar kehilangan jejak Ustaz Romi. Ia seperti ditelan bumi, lenyap tanpa kabar, tanpa jejak, tanpa satu pun penjelasan. Aku telah meyakinkan orang tuaku bahwa dia bukan jodohku. Perlahan, beliau pun belajar menerima.
Aku membuka lembaran baru dengan langkah yang lebih ringan, meski ada perih yang tak sepenuhnya hilang. Aku tahu, orang tuaku menyimpan rasa malu karena pernikahan yang batal. Tapi bagiku, lebih baik pahit sekarang daripada pahit setelah akad terucap. Luka sebelum pernikahan masih bisa disembuhkan; luka setelahnya bisa menjadi penyesalan seumur hidup.
Aku tak pernah tahu ke mana Ustaz Romi menghilang. Apakah ia terjebak oleh keadaan, atau justru sengaja menghilang, meninggalkan serpihan cerita dan hati yang terluka.
Pagi ini, teleponku berdering tiba-tiba. Nama Dik Yati muncul di layar, adik kelasku semasa aliyah dulu.
“Mbak, boleh bertanya?” suaranya terdengar ragu.
“Iya, tentu saja, Dik.”
“Sampeyan kenal Ustaz Romi?”
“Iya, aku kenal.”
“Apakah benar ini orangnya?”
Tak lama, sebuah foto masuk lewat WhatsApp.
“Iya, betul. Ada apa, Dik?”
“Mbak… aku dengar kabar dari Nurul, temanku satu kelas. Katanya dia mau menikah dengan Ustaz Romi.”
Jeduuuuarrrr.
Dadaku seperti dihantam petir. Kata-kata itu menggema lama di kepalaku.
“Ini aku berikan nomor Nurul ya, Mbak,” lanjut Dik Yati, seolah tak menyadari getaran di suaraku.
“Iya, makasih Dik. Aku akan coba menghubunginya. Aku ingin memastikan.”
“Siapa Nurul itu?” tanyaku pelan.
“Temanku satu pondok, Mbak. Dia aktivis pergerakan mahasiswa. Gadis yang smart, sering mewakili kampus—lomba MHQ, lomba baca kitab kuning juga.”
Aku terdiam. Gadis yang sempurna.
Ya Allah… apa sebenarnya yang selama ini disembunyikan Ustaz Romi? Ia menghilang tanpa pamit, membiarkan luka menggantung tanpa penjelasan. Lalu tiba-tiba kabar itu datang: ia akan menikah dengan Nurul.
Drama apa ini, Ya Rabb?
Mengapa aku harus menjadi penonton dari cerita yang bahkan tak pernah aku pahami utuh alurnya?
Bersambung
#literasi
#cerpen
#tantanganmenulis
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
