nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 13b)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 13b)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 13b)

Aku segera menuju kampus hijau dengan motor kesayanganku. Angin siang menerpa wajah, namun pikiranku jauh lebih riuh daripada jalanan yang kulewati. Aku sudah menyiapkan mental, membentengi hati, bersiap menerima kenyataan sepahit apa pun yang mungkin menungguku.

Aku berhenti di kafe dekat Masjid Al-Falah. Sebuah kafe dengan ornamen kuno—bangunannya, kursi-kursinya, semua disetting menyerupai peninggalan zaman Belanda. Pintu dan jendelanya tinggi menjulang, khas arsitektur kolonial. Bangku-bangku panjang tertata di beberapa sudut, sementara kursi bundar mengisi ruang-ruang kecil yang terasa intim. Suasananya tenang, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat ini.

Pandangan mataku kuedarkan, mencari sosok Nurul. Dia bilang akan memakai jilbab merah. Kontras dengan jilbabku yang berwarna biru—jilbab kenangan, pemberian Mas Yo, saat kami ziarah ke makam Sunan Ampel dulu. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyusup, bercampur getir.

Di sudut kafe, seorang gadis berjilbab merah melambaikan tangan. *Pasti itu Nur,* bisikku dalam hati. Aku melangkah mendekat.

“Assalamualaikum, Mbak Sarah, ya?”

Dia mengulurkan tangannya, senyum manis terbit di wajahnya.

Aku menjabat tangannya, mengangguk pelan sambil tersenyum.

“Sarah,” ucapku singkat.

“Ayo duduk, Mbak. Mau pesan apa?” tanyanya penuh keakraban.

“Kopi hitam saja,” jawabku.

Nur segera memesan kopi hitam, jus jambu, dan dua piring kentang goreng. Tak lama kemudian, pelayan datang menyajikan pesanan kami. Keren, pelayanannya cepat dan sigap. Tak seperti beberapa kafe yang membuat tamunya hampir tertidur karena menunggu terlalu lama.

“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya Nur.

Aku tersenyum tipis, menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan tenaga untuk memulai percakapan yang terasa jauh lebih penting daripada sidang pleno RW sekalipun.

“Begini, Mbak Nur… saya ingin bertanya. Apakah sampeyan mengenal Ustaz Romi?” tanyaku hati-hati.

“Oh ya,” jawabnya ringan, “dia tunangan saya, Mbak. Kami mau menikah bulan depan.”

**Jeduaaaaarrrrrrr…**

Jawaban lugas itu menghantam kepalaku. Dadaku sesak. Ustaz Romi yang menghilang, dengan cerita sakit dan luka, ternyata tengah menyiapkan pernikahan dengan gadis lain.

“Kenapa, Mbak Sarah?” lanjut Nur santai. “Bukankah Mbak sudah menolak Ustaz Romi? Sampeyan nggak mau dimadu, kan?”

“Apa?”

“Iya,” katanya tanpa ragu. “Ustaz Romi pernah cerita tentang Mbak Sarah sebagai jurnalis kampus. Beliau bilang Mbak Sarah menolak lamarannya karena nggak mau dimadu.”

Aku tertegun. Ustaz Romi begitu lihai mengarang cerita. Aku belum pernah memberikan keputusan apa pun. Seandainya dia memang ingin pergi, seharusnya pamit. Datang dengan cara baik, pergi pun dengan cara baik.

“Sejujurnya, saya belum memberikan keputusan apa-apa,” kataku pelan. “Waktu itu saya menerima lamarannya karena beliau bilang sudah bercerai. Ternyata, Mbak Khadijah nggak mau dicerai, dan gugatan cerainya ditolak pengadilan.”

“Mungkin Ustaz Romi nggak mau digantung dan nggak mau menunggu lama,” sahut Nur. “Jadi dia memilih saya untuk menjadi istrinya.”

Nada bicaranya datar, seolah aku tak punya hati.

“Saya dan Ustaz Romi beberapa bulan ini sering keluar bersama untuk acara kampus. Beliau donaturnya. Bahkan… kami sudah menikah sirri.”

**Jeduaaaaarrrrrrr…**

Kali ini lebih keras. Lebih menyakitkan.

“Kapan menikahnya?” tanyaku nyaris tak bersuara.

“Enam bulan lalu.”

“Hah…? Enam bulan lalu? Bukankah Ustaz Romi sedang sakit? Katanya kakinya terserempet peluru dan harus dirujuk ke RS Solo?”

Nur tersenyum kecil. “Nggaklah. Kakinya baik-baik saja. Bukan kakinya yang terserempet, tapi hatinya yang terserempet… dan jatuh cinta padaku.”

Tak ada empati dalam kalimat itu. Justru seperti sengaja menyulut api di dadaku. Dia merasa menang. Kopi hitam di hadapanku tak lagi menggugah selera. Aku ingin segera pergi. Yang terpenting, aku sudah mendapatkan kepastian: Ustaz Romi benar-benar tidak menginginkanku lagi. Dia telah ingkar janji, menutupinya dengan cerita-cerita fiksi.

“Alhamdulillah, selamat ya, Mbak Nur,” ucapku, berusaha tegar. “Semoga segera dilangsungkan pernikahan sahnya. Samawa selalu. Saya izin pulang, terima kasih atas waktunya.”

“Sama-sama, Mbak,” jawabnya. “Saya mewakili Ustaz Romi mohon maaf ya. Biarkan kami bahagia.” Senyumnya penuh kemenangan.

Ya Rabb… aku tak pernah menyangka Ustaz Romi *nulayani janji*. Seharusnya datang tampak muka, pulang tampak punggung. Bukan menggantung, memberi harapan palsu, padahal dia bahkan belum membatalkan pertunangan kami.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post