Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 14)
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 14)
Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan jawaban atas drama Ustaz Romi. Inilah jawaban dari istikharah yang selama ini kulakukan dengan penuh harap dan cemas. Benar katamu dulu, hasil istikharah bisa datang melalui tiga jalan: kemantapan hati, mimpi, atau peristiwa di dunia nyata. Aku tak mendapatkan kemantapan hati, tak pula mimpi. Namun Allah memilih cara paling nyata, menyingkapkannya langsung di hadapanku.
Ustaz Romi mungkin orang baik, tetapi dia bukan yang terbaik bagiku. Entah apa alasan sebenarnya hingga dia menghilang, lalu tiba-tiba muncul sosok Nur yang mengaku telah menikah sirri dengannya. Apa pun alasannya, aku memilih untuk tidak lagi menelusurinya. Cukup. Hatiku sudah lelah.
Kini yang terpenting bagiku adalah meyakinkan dan menghibur keluarga, terutama orang tuaku yang menanggung malu karena aku gagal menikah. Aku ingin mereka percaya bahwa kegagalan ini bukan aib, melainkan perlindungan. Bahwa dia memang bukan jodoh terbaikku, dan Allah pasti telah menyiapkan jodoh yang jauh lebih baik pada waktu yang tepat. Pertunangan belum dibatalkan, tetapi calonnya telah menghilang. Hatiku sakit, bukan semata karena ditinggal tanpa pesan, melainkan karena harus melihat raut malu dan kecewa di wajah orang tua.
Aku juga tak lagi memiliki kontak Mbak Khadijah. Sejak pertemuan di Payangan, tak ada kabar apa pun darinya. Benar-benar keluarga yang penuh misteri.
Dulu, saat meminangku, alasannya ingin memiliki keturunan, ada yang bisa melanjutkan dakwahnya. Anehnya, kemudian dia menghindar, menghilang, dan menyuguhkan cerita tentang kerusuhan di Poso; tentang kakinya yang terserempet peluru hingga harus dirujuk ke RS Solo. Ah, cerita fiksi dengan plot twist yang rapi, sayangnya tak berakar pada kejujuran.
Semua barang sasrahan lamaran pemberian Ustaz Romi kumasukkan ke dalam kardus. Termasuk gelang mutiara yang pernah membuatku tersenyum. Kardus itu kututup rapat, seperti menutup bab lama, siap membuka lembaran baru dengan cerita yang lebih bahagia.
Udara pagi ini terasa lebih segar. Dadaku lapang, seolah beban yang lama bertengger akhirnya luruh. Pagi ini aku berangkat ke Kota Pahlawan untuk mengikuti kuliah perdana S2 dengan kereta api. Kota yang menyimpan kenangan di setiap sudutnya. Kota yang selalu mengingatkanku pada Mas Yo.
Usai kuliah, aku kembali ke perpustakaan. Dulu, tempat ini menjadi lokasi nongkrong paling asyik bagi kami. Berjam-jam kami habiskan di sini, membaca buku fiksi, berdiskusi, atau sekadar mencari referensi tugas akhir.
“Non …”
Tiba-tiba sebuah suara memanggilku. Suara yang begitu lekat di ingatan. Non, panggilan yang hanya satu orang yang berhak mengucapkannya.
Aku menoleh perlahan. Jantungku serasa hendak meloncat keluar. Mas Yo berdiri di belakangku, dengan senyum khas yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatanku.
Bersambung
#literasi
#cerpen
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
