nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 15)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 15)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 15)

#ceritafiksi

“Mas Yo,”

“Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan bertemu. Apa kabar?”

“Alhamdulillah, baik. Kita ngobrol di kantin saja, Mas. Kurang enak di perpus, mengganggu yang lain.”

Kami melangkah menuju kantin belakang. Tempatnya sederhana, ramah di kantong mahasiswa, dan soal rasa tak pernah mengecewakan. Seperti kebiasaan lama, kami memesan kopi hitam dengan sedikit gula.

“Kamu ambil S2 di sini, Non?”

Mas Yo membuka percakapan, suaranya tenang, seolah waktu tak pernah berjarak.

“Iya, Mas.”

“Apa Ustaz Romi mengizinkan? Kamu nggak ikut ke luar Jawa?”

“Kami nggak jadi menikah.”

Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa jeda. Mas Yo tampak terkejut. Ada perubahan di wajahnya yang tak mampu kuterjemahkan, antara kaget, menyesal, atau sedih. Aku tak paham, dan mungkin tak perlu paham.

“Kalau boleh tahu, kenapa nggak jadi menikah?”

“Ceritanya panjang. Intinya Ustaz Romi sudah menikah siri dengan Nur, mahasiswa kampus hijau. Nggak usah dibahas yang lain, Mas. Hanya menyisakan luka. Bukan karena aku ditinggalkan, tapi karena orang tuaku malu. Aku gagal menikah. Apalagi usiaku hampir 25.”

“Aku turut prihatin, Non.”

“Sampeyan sendiri gimana, Mas? Ini ambil S3?”

“Iya. Aku juga ngajar S1 di sini.”

“Alhamdulillah. Selamat, Mas.”

“Makasih, Non.”

Hening menyelinap di antara kami. Entah masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Sesekali kutangkap Mas Yo mencuri pandang, seolah ingin memastikan aku baik-baik saja.

“Non, aku minta maaf karena dulu nggak memperjuangkanmu. Bagiku, pantang melamar perempuan yang sudah dilamar.”

“Nggak apa-apa, Mas. Sudah berlalu. Oh iya, Mas Yo sudah menikah?”

“Alhamdulillah, sudah. Istriku hamil empat bulan.”

Ada nyeri yang pelan-pelan menjalar di dada. Ternyata Mas Yo telah menikah. Tapi apa yang bisa kulakukan? Kami memang tak lagi memiliki komitmen apa pun. Ya Allah, pikiran buruk apa yang sempat singgah di hatiku. Seharusnya aku bahagia. Mas Yo bahagia. Bukankah perpisahan dulu terjadi karena aku, bukan karena ia meninggalkanku?

“Selamat, Mas. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Ibu dan dedek bayi sehat selalu.”

“Amin.”

“Non, maaf. Waktu kamu dilamar Ustaz Romi, akhirnya aku menerima perjodohan orang tuaku. Memang sudah bukan zamannya Siti Nurbaya, tapi usiaku hampir kepala tiga. Mau menunggu apa lagi? Akhirnya aku menikah dengan Rani.”

“Iya, Mas. Itu takdir yang harus sampeyan jalani.”

Aku berdiri, merapikan tas.

“Oke, aku balik ke kelas. Ada jam kuliah. Salam ya ke Rani.”

“Aku antar, Non.”

“Nggak usah, Mas. Nggak enak juga. Sekarang sudah nggak seperti dulu. Ada hati yang harus dijaga.”

Mas Yo mengangguk. Aku pamit dan melangkah meninggalkan kantin menuju kelas.

Inilah takdir yang harus kujalani. Aku harus mengubur cinta dan kenangan tentang Mas Yo untuk selamanya. Kehidupan kami telah berjalan di jalur yang berbeda. Benarlah, hanya butuh satu jam untuk menyayangi seseorang, satu hari untuk mencintai seseorang, tetapi membutuhkan waktu seumur hidup untuk benar-benar melupakan seseorang.

Bersambung

#literasi

#cerpen

#ceritabersambung

#ceritafiksi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post