nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 16)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 16)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 16)

#POV_Yohandika

Aku tak pernah menyangka, ternyata Sarah gagal menikah. Kabar itu datang terlambat, atau mungkin memang seharusnya tak pernah datang sama sekali. Ah, andai waktu bisa diputar kembali, tapi aku tahu, hidup tak mengenal kata andai. Semua sudah terjadi, dan aku berdiri di sini dengan keputusan yang juga kupilih sendiri.

Menikah dengan Rani adalah pilihanku. Aku sangat menghargainya, menghormatinya sebagai istriku. Ia perempuan baik, tulus, dan layak dicintai sepenuh hati. Namun aku tak bisa membohongi diriku sendiri: ada satu ruang kosong di hatiku. Ruang yang dulu ditempati Sarah, jauh sebelum segalanya menjadi seperti sekarang.

Sejak Sarah bercerita bahwa ada Ustaz Romi yang melamarnya, aku sengaja mundur. Bukan karena rasa itu hilang, justru karena rasa itu masih ada. Pantang bagiku memperjuangkan perempuan yang sudah dilamar orang lain. Bagiku, menjaga adab jauh lebih penting daripada memuaskan keinginan hati sendiri.

Kini Sarah lebih menjaga jarak. Perpustakaan yang dulu menjadi tempat favorit kami, selain kantin, tak lagi mempertemukan kami seperti dulu. Aku jarang menemukannya di sana. Mungkin ia sengaja menghindar, atau mungkin takdir memang mengatur jarak ini agar tak ada lagi cerita yang berlanjut. Sarah paham kondisi ini. Bahwa meski rasaku masih sama seperti awal pertemuan, Tuhan tidak mengizinkan kami berjalan bersama.

Dengan sekuat tenaga aku berusaha mencintai Rani, sebaik-baiknya, sepenuh yang aku bisa. Namun tak bisa dimungkiri, kadang bayangan Sarah masih menari-nari di benakku, datang tanpa permisi, lalu pergi meninggalkan sesak yang sunyi.

Sarah benar-benar menjauh. Persahabatan hangat seperti dulu telah usai. Kini, jika berpapasan menuju kelas, kami hanya saling menyapa singkat sekadar "hello". Tak ada lagi obrolan panjang, tak ada curhat lewat chat, tak ada kopi yang menghangatkan sore. Semuanya berhenti, seolah tak pernah ada.

Ya Tuhan, ambillah rasa ini. Aku tak ingin tersiksa oleh perasaan yang tak semestinya kupelihara. Aku tak ingin ada hati yang terluka, baik hatiku, hati Sarah, maupun hati Rani. Berikanlah kami kebahagiaan kami masing-masing, dengan jalan yang Engkau ridai.

Tanpa sengaja, hari ini aku dan Sarah bertemu. Ia baru saja menyelesaikan sidang proposal tesisnya, lalu menikmati makan siang sederhana di kantin. Aku melihatnya dari kejauhan, duduk sendiri, dengan raut wajah lega yang tak bisa disembunyikan. Ada kebanggaan yang tenang di matanya.

“Non, boleh aku duduk di sini?”

Sarah mengangguk sambil tersenyum, tanpa berkata apa-apa. Senyumnya masih sama seperti dulu, hanya kini lebih hemat bicara, seolah setiap kata harus dipilih dengan hati-hati.

“Bagaimana sidangmu tadi?” tanyaku, mencoba terdengar biasa saja.

“Alhamdulillah lancar. Mas Yo lagi sibuk apa?”

“Gak ada sih. Ini aku lagi ngerjain proyek penelitian saja,” jawabku, lalu menambahkan dengan nada pelan, “sambil nunggu kelahiran anakku bulan depan.”

“Alhamdulillah,” katanya tulus. “Senangnya. Semoga lancar semuanya.”

“Amin, makasih, Non.”

Belum sempat suasana itu mengendap, gawaiku berdering. Nama Ibu mertuaku tertera di layar. Entah kenapa, dadaku mendadak terasa sesak. Aku menjauh sedikit, lalu mengangkat telepon itu.

Suara di ujung sana gemetar. Rani terpeleset di kamar mandi. Pendarahan hebat. Butuh transfusi darah secepatnya.

Aku kembali ke hadapan Sarah dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kepanikan.

“Non, aku harus pergi dulu. Rani pendarahan, butuh transfusi darah. Aku harus segera ke PMI.”

Wajah Sarah berubah pucat. “Ya Allah. Apa golongan darahnya?”

“Golongan darahnya agak langka AB Rhesus negatif,” jawabku cepat. “Agak jarang.”

Tanpa ragu, tanpa jeda, ia berkata, “Ambil saja darahku. Kalau Mas Yo tidak keberatan. Darahku AB Rhesus negatif.”

Aku terdiam sejenak. Ada perasaan haru yang menyesak, bercampur rasa bersalah yang sulit kujelaskan. “Baiklah. Terima kasih, Non. Ayo, kita segera ke rumah sakit.”

Kami bergegas. Perjalanan terasa begitu singkat sekaligus panjang. Di dalam mobil, tak banyak kata terucap. Doa-doa bergulir pelan di dalam hati, saling bersahutan dengan bunyi klakson dan deru mesin.

Di rumah sakit, prosedur berjalan cepat. Pemeriksaan darah dilakukan, dan hasilnya menyatakan kecocokan: AB -. Tanpa banyak tanya, Sarah berbaring di ranjang donor. Jarum menusuk lengannya, dan darah itu mengalir, tenang, seperti dirinya.

Aku berdiri tak jauh darinya, menggenggam doa, menahan gemetar. Di hadapanku, perempuan yang pernah menempati ruang terdalam di hatiku kini menyelamatkan nyawa istriku dan anakku.

“Terima kasih, Non,” ucapku lirih ketika proses itu selesai.

Sarah tersenyum lemah. “Gak apa-apa, Mas. Ini sudah seharusnya.”

Aku menunduk. Saat itu aku sadar, cinta tak selalu harus memiliki. Kadang, cinta justru hadir dalam bentuk paling sunyi: pengorbanan, tanpa menuntut apa pun kembali.

Bersambung

#literasi

#ceritafiksi

#cerpen

#ceritabersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post