Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 17)
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 17)
#POV_Yohandika
Setelah mendonorkan darahnya, Sarah kembali menghilang. Aku jarang menemukannya di perpustakaan, tak lagi melihatnya nongkrong di kantin, atau di kafe kecil yang dulu menjadi saksi obrolan kami. Mungkin kini ia benar-benar fokus menuntaskan penelitian tesisnya. Bisa juga, dan ini yang paling masuk akal, ia sengaja menjaga jarak. Jarak yang memang harus ada. Jarak yang tidak boleh dilanggar.
Waktu berjalan membawa anugerah sekaligus ujian. Anak pertamaku lahir, seorang bayi perempuan yang cantik. Kami menamainya Felicitya, atau kami memanggilnya Feli. Kehadirannya melengkapi kebahagiaan keluarga kecil kami. Tangis pertamanya seperti penegasan bahwa hidup terus bergerak, apa pun luka yang tertinggal di masa lalu.
Namun ternyata, kebahagiaan ini menjadi pintu bagi ujian pertama rumah tangga kami.
Pasca melahirkan, Rani didiagnosis menderita penyakit autoimun. Sejak itu, hidup kami berubah. Aku harus ekstra sabar mendampinginya keluar-masuk rumah sakit. Berat badannya terus menurun drastis. Dari enam puluh kilogram, kini hanya tiga puluh dua. Tubuhnya seperti tinggal tulang yang dibungkus kulit. Rani tak lagi memungkinkan memberikan ASI. Feli terpaksa minum susu formula. Setiap botol yang kupegang terasa seperti pengingat: tidak semua rencana hidup berjalan sesuai harapan.
Suatu sore, sepulang dari rumah sakit, entah sudah berapa kali, Rani merebahkan badannya di sofa ruang tengah. Tatapannya kosong.
“Mas,” suaranya lirih, “apa aku bisa sembuh?”
“Kamu pasti sembuh, Dik,” jawabku cepat, meski dadaku terasa diremas. “Ini ujian rumah tangga kita. Kita lalui bersama.”
“Aku sudah tidak cantik lagi,” katanya pelan. “Aku juga tidak bisa merawat Feli dengan baik.”
Aku menggenggam tangannya. “Kamu tetap cantik. Kamu pasti sembuh. Kecantikan perempuan bukan pada lahirnya, tapi pada hati yang bersih. Kamu tetap cantik.”
Ia tersenyum tipis. “Makasih, Mas. Aku bahagia punya kamu.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat, mencoba menyalurkan seluruh cinta dan kekuatanku. Namun matanya menerawang jauh, seolah ada sesuatu yang ia pendam lama.
“Mas, boleh aku bertanya?”
“Tanya apa, Dik?”
“Apakah Mas Yo masih mencintai Sarah?”
Pertanyaan itu menghantamku tanpa peringatan. Aku tersentak. Aku tak pernah menceritakan masa laluku padanya. Tak pernah sekalipun.
“Sarah itu masa lalu,” kataku cepat. “Kamu masa depanku.” Aku berusaha menenangkan Rani dan diriku sendiri. Walau aku tahu, ada ruang kosong di hatiku yang belum sepenuhnya tertutup.
“Dari mana kamu tahu tentang Sarah?” tanyaku.
“Dulu aku tanpa sengaja menemukan foto kalian,” jawabnya. “Saat Mas Yo jadi pendamping wisuda Sarah.”
Aku terdiam.
“Oh ya, apa Sarah sudah punya anak?” tanyanya lagi.
“Aku tidak tahu,” jawabku. “Dan aku tidak mencari tahu. Terakhir yang aku dengar, dia tidak jadi menikah dengan Ustaz Romi.”
Aku sedikit berbohong. Bukan untuk menipu, tapi untuk melindungi. Padahal sesungguhnya, aku selalu ingin tahu kabarnya bahwa dia baik-baik saja. Aku hanya ingin Rani merasa bahwa dialah perempuan paling istimewa dalam hidupku.
Ya Tuhan, apakah aku salah? Rasa itu milik-Mu. Aku sudah berusaha melupakannya, membuangnya sejauh mungkin. Tapi semakin aku melawan, semakin aku tersiksa. Hapuslah rasa cintaku pada Sarah. Aku ingin hanya ada Rani di hatiku.
“Terima kasih, Mas,” kata Rani pelan. “Oh ya, aku punya permintaan.”
“Apapun,” jawabku tanpa ragu. “Asal kamu bahagia.”
“Nanti, kalau Allah memanggilku… dan jika Sarah belum menikah,” suaranya bergetar, “nikahilah dia. Rawat anak kita.”
Aku membeku.
“Aku tahu Sarah perempuan baik,” lanjutnya. “Saat aku kritis, harus SC karena pendarahan hebat, dan melahirkan Feli sebelum waktunya. Sarah yang mendonorkan darah langkanya. Setelah itu dia menghilang. Dia memilih pergi. Dia perempuan yang baik.”
“Jangan bicara begitu,” kataku panik. “Kamu pasti sembuh. Kita akan bahagia. Kita besarkan Feli bersama.”
Rani tersenyum tenang. Terlalu tenang.
“Aku tidak akan menyerahkan Feli dan kamu pada perempuan yang tidak baik. Aku tidak ikhlas. Aku tahu Sarah bisa mendidik Feli, menemanimu, merawatmu.”
Air mataku jatuh. Aku memeluk Rani erat. Aku tak pernah menyangka hatinya seluas ini, seluas samudera.
“Berjanjilah, Mas,” pintanya. “Aku tidak ingin apa-apa lagi.”
Hatiku hancur. Bingung. Tak berdaya. Namun akhirnya aku mengangguk.
“Baik,” ucapku lirih. “Aku janji akan mencari Sarah dan menikahinya. Tapi kamu juga harus janji untuk sembuh.”
“Aku janji akan berusaha sembuh,” katanya pelan. “Walau aku tahu kondisiku makin drop… dan mungkin aku tidak bisa bertahan lama.”
“Mas ...”
Tubuh Rani tiba-tiba limbung. Matanya terpejam. Ia pingsan di hadapanku.
“Rani!” teriakku panik.
Aku segera menghubungi ibu mertuaku, menitipkan Feli, lalu melajukan mobil secepat mungkin menuju UGD. Di dalam dadaku, doa bercampur ketakutan. Rani kritis. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar takut kehilangan.
Bersambung
#literasi
#ceritafiksi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
