nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 18)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 18)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 18)

Kondisi Rani kian melemah. Tubuhnya terbaring rapuh di ruang ICU, mesin-mesin medis mengelilinginya, sementara kesadarannya belum juga kembali. Aku tak punya apa-apa selain doa. Berkali-kali aku bersujud, merapal nama Allah, memohon dengan suara gemetar agar Dia berkenan mengangkat sakit istriku.

Hatiku remuk setiap kali memandang Feli, anak kami yang bahkan belum genap satu tahun. Terlalu kecil untuk mengerti kehilangan, terlalu polos untuk menerima kenyataan jika kelak harus tumbuh tanpa pelukan ibunya. Para dokter telah melakukan yang terbaik. Aku tahu itu. Namun sebagai suami, rasanya tetap tak cukup jika tak diiringi mukjizat dari-Nya.

Hari-hariku habis di ruang ICU. Menunggu. Berharap. Berdoa. Aku meminta dispensasi mengajar secara daring, sebab pikiranku tak lagi sanggup terbagi. Fokusku hanya satu: Rani harus sadar.

Di sela penantian itu, rasa bersalah perlahan menyelinap. Aku sadar, ada ruang kosong di hatiku yang tak sepenuhnya terisi. Mengapa hatiku tak sepenuhnya milik Rani? Pertanyaan itu menghantamku tanpa ampun. Aku menyesal. Sangat menyesal. Namun perasaan hampa itu tak bisa kulawan, meski aku membencinya.

Padahal Rani telah berjuang sekuat tenaga. Ia menjadi istri yang baik dengan caranya sendiri. Ia mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan Feli. Setelah itu, ia kembali berjuang—melawan penyakit yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Dan aku… aku masih bergulat dengan hatiku sendiri.

Hari ke sepuluh, seorang dokter memintaku masuk ke ruang ICU. Jantungku berdegup kencang. Saat kulihat mata Rani terbuka, dunia serasa berhenti berputar. Ia sadar. Lega itu menjalar cepat, nyaris membuat lututku lemas.

Aku menggenggam erat tangannya, seolah tak ingin melepas lagi.

“Semangat, kamu pasti sembuh,” bisikku penuh harap.

Rani menatapku lemah, namun suaranya terdengar begitu tenang.

“Mas… aku cuma titip Feli. Jaga dia dengan baik. Jangan berikan ibu tiri yang jahat. Kalau memang Sarah belum menikah… nikahilah dia.”

“Jangan bicara begitu. Kamu pasti sembuh. Ini kamu sudah melewati masa kritis,” jawabku cepat, menahan gemetar.

“Berjanjilah, Mas.”

“Iya… aku janji akan menjaga Feli sepenuh jiwa dan ragaku. Maafkan aku kalau belum bisa membuatmu bahagia selama ini.”

Rani tersenyum samar.

“Terima kasih, Mas. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Mas Yo orang yang sangat baik. Aku bahagia bisa memilikimu… walau hanya sebentar.”

Genggaman tangannya perlahan melemah. Matanya menatap ke atas, senyumnya mengembang dengan damai.

“Aku sudah dijemput, Mas. La ilaha illallah…”

Kelopak matanya menutup pelan. Kalimat thayyibah menjadi ucapannya yang terakhir. Rani benar-benar telah kembali kepada Sang Khalik.

*Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.*

Air mataku luruh tanpa bisa kutahan. Aku memeluk jasad Rani, tubuh yang dulu hangat kini terdiam dalam keabadian.

Selamat jalan, istriku yang salihah. Surga menantimu. Kini kau tak sakit lagi. Engkau pergi dengan cara yang begitu indah—senyum di wajah, kalimat tauhid di bibir. Engkau menghadap Sang Khalik dalam keadaan paling mulia.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post