Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 19)
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 19)
Duniaku terasa sunyi.Rani telah pergi, meninggalkanku dan Feli yang masih bayi. Bersamanya, seakan ada sebagian dari diriku yang ikut terkubur. Setiap sudut rumah menyimpan jejaknya—suara lembutnya, langkah kecilnya, doa-doanya yang sering ia bisikkan selepas subuh.
Setiap kali menatap Feli, hatiku terasa tersayat. Bayi kecil yang polos ini harus kehilangan pelukan ibunya terlalu cepat. Bahkan sebelum ia mampu memanggil, “Bunda.”Tuhan, mengapa secepat ini?
“Mas…”
Aku tersentak. Suara itu begitu akrab. Aku menoleh—Rani berdiri di belakangku, tersenyum seperti dulu, tanpa lelah, tanpa rasa sakit.
“Kamu kok melihatku begitu? Ada apa?” tanyanya lembut.
“Kamu kembali… kamu sembuh, Dik?” suaraku bergetar.
“Aku sudah sembuh, Mas. Aku nggak sakit lagi,” katanya pelan. “Aku cuma menagih janjimu. Memberikan kasih sayang seorang ibu yang baik untuk Feli. Kapan?”
“Untuk apa?” jawabku tergesa. “Sudah ada kamu, ibunya.”
Rani tersenyum, senyum yang membuat dadaku sesak.“Aku hanya mampir sebentar, Mas. Menagih janji. Sebentar lagi aku harus melanjutkan perjalanan.”
“Tidak… jangan pergi, Rani. Feli membutuhkanmu. Aku juga membutuhkanmu.”Tanganku terulur, tapi jarak di antara kami tak pernah benar-benar bisa kujangkau.
Rani berbalik, melangkah pergi.
“Rani… jangan pergi… baik… aku akan penuhi janjiku. Rani… Rani…”
“Yo, bangun… kamu mengigau.”
Aku terperanjat. Nafasku tersengal. Alhamdulillah—ternyata hanya mimpi. Mataku basah, dadaku terasa sesak.
“Kamu mimpi apa?” tanya Ibu lembut.
“Saya mimpi Rani, Bu. Dia menagih janji… untuk memberikan ibu yang baik untuk Feli.”
Ibu menghela napas panjang.“Mimpi bisa jadi hadir karena kamu masih sangat memikirkan Rani.”
Aku menunduk. “Sebelum meninggal, Rani juga berwasiat supaya aku mencari Sarah, Bu.”
“Apa?” Ibu terkejut. “Sarah belum menikah? Bukankah dulu dia sudah dilamar Ustaz Romi?”
“Dua tahun lalu, waktu aku bertemu Sarah di kampus, dia cerita gagal menikah dengan Ustaz Romi. Setelah itu dia melanjutkan S2 di sini.”
Ibu terdiam sejenak, lalu menepuk pundakku perlahan.“Terserah kamu. Semoga saja Sarah memang masih jodohmu. Dan belum menikah dengan orang lain.”
Aku menatap Ibu, ada haru yang mengalir di dadaku.“Coba kamu cari informasi tentang Sarah,” lanjut Ibu, suaranya penuh dukungan.
Untuk pertama kalinya sejak kepergian Rani, dadaku terasa sedikit lebih ringan.Aku bahagia—bukan karena melupakan, tapi karena Ibu merestui langkahku.Mungkin inilah caraku menepati janji Rani.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
