nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 20)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 20)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 20)

Aku mendatangi kampus dengan langkah ragu, seolah bangunan-bangunan itu masih menyimpan jejak kita. Aku bertanya pada beberapa orang, berharap namamu masih tercatat di sana. Namun jawabannya sama: kamu sudah lulus. Nomor ponselmu tak lagi bisa dihubungi, seperti pintu yang sengaja dikunci dari dalam.

Entah dari mana keberanian itu datang, aku akhirnya berdiri di depan rumahmu. Aku tidak membawa apa-apa, selain harapan yang rapuh. Aku hanya ingin melihatmu baik-baik saja. Dan, jika tak berlebihan, aku ingin kembali menikmati secangkir kopi hitam bersamamu—kopi yang dulu selalu kita minum sambil bercerita, tertawa, dan saling menggenggam diam-diam. Meski aku sadar, aku kini bukan lagi aku yang dulu. Banyak hal telah berubah, termasuk hatiku yang kini memikul tanggung jawab dan rasa bersalah.

Bayangan masa lalu berputar tanpa aba-aba.

Saat itu kamu sangat cemburu.

Aku masih ingat jelas bagaimana aku, dengan bodohnya, menggenggam tangan Mbak Wardah di hadapanmu. Sebuah guyonan yang kupikir lucu, padahal menyisakan luka.

“Kalau LDR seperti Mbak Wardah paling selalu rindu ya, nggak pernah bertengkar. Kalau ketemu pasti melepas kangen. Mas Boy menggenggam erat tangan Mbak begini,” kataku sambil tertawa.

Wardah tampak kaget, tapi akhirnya ikut dalam canda itu.“Iya dong, kami saling menggenggam erat begini.”

Aku menoleh padamu. Wajahmu memerah. Matamu tak lagi berbinar. Kamu tak berkata apa-apa, hanya diam—dan diam darimu selalu berarti marah yang paling dalam.

“Aku ke parkiran dulu, sekalian ke toilet,” katamu singkat, lalu pergi.

Aku menyusulmu.“Non, kenapa diam?”

“Gpp,” jawabmu pendek, terlalu pendek untuk sebuah kebohongan.

“Kamu marah? Kamu cemburu?”

“Kamu nggak lucu. Menggenggam tangan Mbak Wardah di depanku.”

“Kita cuma guyonan,” sahutku, meremehkan perasaanmu.

Kamu diam, lalu menutup pintu mobil dengan keras.

Braaaaakkkkk.

“Kita pulang.”

“Siap, Non,” kataku pelan. “Senyum dulu dong, jangan marah. Aku minta maaf. Kadang aku kelewatan, cuma ingin menggoda kamu. Ingin tahu seberapa besar rasa sayangmu padaku.”

Kamu menatapku lama.“Apakah selama ini sikapku, perhatianku ke kamu masih kurang meyakinkan, Mas? Ini konyol. Nggak lucu, walau hanya guyonan pegangan tangan.”

Saat itu, aku baru sadar: cintamu tidak perlu diuji. Ia hanya perlu dijaga.

“Aku minta maaf, Non,” kataku lirih. “Percayalah, hati ini hanya untukmu. Kemarin, hari ini, dan selamanya.”

Kini, di depan rumahmu, kata-kata itu kembali menggema. Entah masih sampai padamu atau tidak. Yang jelas, kopi hitam itu masih hangat di ingatanku—dan rasa bersalah ini masih sama pahitnya.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post