nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 21)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 21)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 21)

Dengan sedikit ragu aku melangkah menuju halaman rumah Sarah. Beberapa tahun lalu aku pernah berdiri di titik yang sama. Halamannya masih seperti dulu—luas, lapang, dan teduh. Pohon mangga dan apokat menjulang, membuat rumah itu seolah bernaung di bawah pelukan alam. Di batang mangga, anggrek- anggrek menempel rapi, sementara bogenvile tumbuh memanjang, bunganya jatuh seperti percik kenangan.

Halaman seluas kurang lebih 20×40 meter itu khas rumah desa. Terlalu luas untuk sekadar halaman, lebih pantas disebut lapangan sepak bola kecil. Tiga gazebo mungil berdiri di antara pohon mangga dan apokat, sementara satu gazebo besar menempati posisi paling depan, tepat menghadap teras rumah—tempat dulu aku dan Sarah sering berbincang tentang mimpi.

“Assalamualaikum,” ucapku sambil mengetuk pintu dan memencet bel.

“Waalaikumussalam,” terdengar jawaban dari dalam.

Tak lama kemudian, seorang wanita setengah baya muncul. Wajahnya masih sama: teduh dan hangat.

“Oh, Nak Yohan. Ayo, silakan masuk. Monggo, duduk,” katanya ramah.

Aku menyalami dan mencium tangan Bu Husna, ibu Sarah.

“Terima kasih, Bu.”

“Njanur gunung ini… lama sekali gak pernah ke sini,” beliau tersenyum kecil. “Mencari Sarah?”

“Iya, Bu. Saya ingin ketemu Sarah… dan Ibu Husna.”

“Alhamdulillah. Nak Yohan apa kabar?” Beliau lalu menatap sekeliling, seakan mencari sosok lain. “Kok sendirian? Gak sama anak istri?”

Dadaku mengencang. “Iya, Bu. Istri saya sudah meninggal. Anak saya sementara bersama neneknya.”

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Suara Ibu melembut. “Ibu ikut berbela sungkawa. Sabar ya, Nak. Insyaallah nanti Allah pertemukan jodoh lagi.”

Tak lama kemudian, Yuk Ti datang membawa kopi hitam, ketela kukus, dan sukun kukus, lalu meletakkannya di atas meja.

“Ayo diminum, Nak,” kata Ibu Husna.

“Terima kasih, Bu.”

“Ibu sudah kirim pesan ke Sarah, tapi kayaknya HP-nya gak aktif. Mungkin sebentar lagi pulang. Ditunggu dulu ya.”

“Iya, Bu. Tidak apa-apa.”

Sambutan Bu Husna tetap sama seperti dulu—hangat, tulus, tanpa jarak. Seolah waktu tak pernah mengubah caranya memandangku.

Beliau bercerita tentang Sarah. Tentang TK dan PAUD yang didirikannya. Tentang hidup yang diwakafkan sepenuhnya untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Semua gratis. Bahkan antar jemput siswa pun ditanggung yayasan. Aku mendengarkan dengan dada yang perlahan dipenuhi rasa kagum… dan penyesalan.

Waktu berjalan lambat. Menunggu Sarah terasa seperti dulu, saat aku menunggu jawabannya atas pernyataan perasaanku—degupnya sama, gugupnya serupa.

“Assalamualaikum.”

Suara itu. Aku tak mungkin salah.

“Waalaikumussalam,” jawabku bersamaan dengan Ibu.

Sarah berdiri di ambang pintu. Matanya membesar sesaat saat melihatku, namun ia cepat menyembunyikan keterkejutannya. Ia mencium tangan ibunya, lalu menyalamiku.

“Apa kabar, Mas Yo?”

“Alhamdulillah baik. Kamu sendiri gimana?”

“Alhamdulillah baik. Seperti yang Mas Yo lihat, saya sehat.”

Ada canggung yang menggantung di udara. Ibu Husna lalu berpamitan, meninggalkan kami berdua di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sempit oleh kenangan.

Beberapa saat kami terdiam, masing-masing sibuk bercengkerama dengan pikiran sendiri.

“Sarah…” suaraku akhirnya pecah. “Izinkan saya menebus kesalahan yang dulu. Kesalahan yang membuatmu merasa tidak diperjuangkan.”

Ia menatapku. “Maksud Mas Yo?”

Aku menarik napas panjang, menyiapkan diri pada kemungkinan terburuk.

“Aku memang bukan Yohan yang dulu. Keadaanku sudah berbeda.” Aku menelan ludah. “Aku punya anak, namanya Feli. Dia butuh kasih sayang seorang ibu. Rani—istriku—meninggal beberapa tahun lalu, setelah lama berjuang melawan sakitnya.” Aku mengangkat wajah, menatap Sarah penuh harap. “Aku juga butuh kamu. Izinkan aku mengetuk hatimu kembali. Memohon… agar kamu bersedia menerima cintaku.”

Sarah terdiam. Wajahnya memucat, seolah baru saja ditarik dari dunia nyata ke dalam kisah yang terlalu mirip film atau sinetron. Matanya berkaca-kaca—antara kaget, ragu, dan rasa yang mungkin belum sempat ia beri nama.

Dan aku hanya bisa menunggu. Seperti dulu. Dengan seluruh hidupku sebagai taruhannya.

Sarah terdiam cukup lama. Matanya menunduk, jemarinya saling bertaut seakan sedang menahan sesuatu yang ingin tumpah. Ketika ia kembali menatapku, senyumnya tipis—bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang sudah berdamai dengan masa lalu.

“Mas Yo…” suaranya lembut, nyaris berbisik. “Terima kasih sudah datang. Terima kasih karena akhirnya Mas berani mengatakan semua ini.”

Ia menarik napas pelan. “Jujur… kalau Mas datang beberapa tahun lalu, mungkin jawabanku akan berbeda.”

Kalimat itu menancap tepat di dadaku.

“Tapi sekarang,” lanjutnya, “aku sudah berada di titik di mana hatiku harus kujaga. Ada seseorang yang sedang aku doakan, seorang lelaki yang datang bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk menata masa depan.”

Aku terdiam. Sarah melanjutkan dengan mata yang berkaca-kaca namun suaranya tetap tenang.

“Mas Yo adalah bagian penting dalam hidupku. Mas adalah pelajaran tentang cinta, tentang sabar, dan tentang ikhlas. Tapi tidak semua yang pernah kita cintai harus kita miliki kembali.”

Ia tersenyum kecil, getir namun tulus.

“Aku tidak bisa menjadi pengganti Rani, dan aku juga tidak ingin hadir di hidup Mas sebagai pelipur luka. Feli pantas mendapatkan ibu yang utuh, dan Mas pantas mendapatkan perempuan yang bisa mencintai Mas tanpa bayang-bayang masa lalu.”

Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatapku dengan keyakinan yang matang.

“Maafkan aku, Mas Yo. Bukan karena aku tak peduli… justru karena aku peduli. Aku tidak ingin mengkhianati hatiku sendiri, dan aku tidak ingin melukai lelaki yang sudah datang dengan niat baik dan kesiapan untuk menikahiku.”

Aku mengangguk pelan. Ada sesak yang tak bisa kusembunyikan, tapi juga ada kelegaan aneh—kelegaan karena akhirnya semua terang.

“Terima kasih sudah jujur,” ucapku lirih.

Sarah tersenyum, kali ini lebih hangat.

“Terima kasih juga karena Mas pernah menjadi rumah, meski hanya singgah. Semoga Mas diberi kekuatan, dan Feli tumbuh dengan cinta yang cukup. Doaku selalu menyertai Mas.”

Aku bangkit, membawa pulang jawaban yang tidak kuharapkan, namun justru paling jujur.

Dan di halaman rumah itu, di bawah pohon mangga dan apokat yang masih setia berdiri, aku akhirnya belajar:

tidak semua pintu yang tertutup harus didobrak—sebagian memang ditutup agar kita belajar mengikhlaskan.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post