Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 22)
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 22)
Aku pulang menjelang senja. Langit menggantung kelabu, seperti ikut menahan air mata yang tak sempat jatuh sejak tadi. Mesin motor terus berdengung, tapi pikiranku tertinggal di ruang tamu rumah Sarah—di kalimat-kalimat yang ia ucapkan dengan begitu lembut, namun cukup untuk merobohkan harapanku.
Aku mengira kedatanganku hari ini adalah keberanian. Ternyata hanya penundaan dari luka lama yang belum benar-benar sembuh.
Angin sore menerpa wajahku, dingin, menampar kesadaranku. Setiap meter yang kulewati terasa seperti menjauhkan diriku dari kemungkinan yang sempat kurajut kembali. Sarah telah memilih. Bukan aku. Dan aku tak punya hak untuk kecewa—karena akulah yang lebih dulu pergi.
Tanganku gemetar saat memarkir motor di halaman rumah. Rumah ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Tak ada suara tawa, tak ada langkah kecil Feli berlari menyambut. Hanya sunyi yang menyambutku pulang, seperti penghakiman yang paling jujur.
Aku duduk di kursi kayu dekat jendela. Kopi yang kusuguhkan pada diriku sendiri terasa pahit, jauh lebih pahit dari kopi Bu Husna siang tadi. Aku menyeruputnya pelan, seolah berharap pahitnya bisa mengalahkan perih di dada. Tapi tidak ada yang bisa.
Sarah benar. Ia tidak bisa menjadi pengganti Rani. Dan aku pun sadar—aku datang bukan hanya membawa cinta, tapi juga duka, tanggung jawab, dan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Aku mengetuk hatinya dengan tangan yang masih berdarah, lalu berharap ia membukakan pintu.
Aku bodoh.
Aku menatap dinding kosong, membayangkan wajah Feli. Anak kecil itu tak tahu apa-apa tentang ayahnya yang baru saja kalah dari masa lalu sendiri. Aku mengusap wajah, menarik napas panjang, mencoba kuat—karena ayah tidak boleh runtuh terlalu lama.
Malam turun perlahan. Lampu rumah menyala, tapi tak ada yang benar-benar menerangi isi dadaku. Di luar, hujan mulai jatuh, satu per satu, seperti air mata yang akhirnya berani keluar.
Aku teringat ucapan Sarah: *tidak semua yang pernah kita cintai harus kita miliki kembali.*
Mungkin benar. Ada cinta yang hadir hanya untuk mengajarkan kita cara kehilangan dengan lebih dewasa.
Aku berdiri, menutup jendela, lalu berdoa dalam diam—bukan agar Sarah kembali, tapi agar hatiku cukup lapang untuk benar-benar melepaskan.
Dan malam itu, aku tidur dengan satu kesadaran yang pahit namun jujur:
aku pulang sendirian, membawa penolakan yang paling halus… sekaligus paling menyakitkan.
Pertemuanku dengan Sarah hari itu seolah membuka pintu yang selama ini kukunci rapat. Kenangan lama berhamburan keluar, menari-nari di kepala tanpa izin. Wajahnya, suaranya, caranya menunduk ketika berbicara—semuanya terasa terlalu akrab untuk disebut masa lalu.
Sarah sudah menolak. Dengan tenang, dengan dewasa. Ia menyatakan sikapnya jelas: ada hati yang harus ia jaga. Ia akan menikah.
Seharusnya aku berhenti di situ. Seharusnya aku ikhlas.
Namun entah mengapa, justru sekarang dadaku terasa makin sesak. Ada dorongan aneh yang tak bisa kujelaskan—rasa ingin memperjuangkan, rasa takut kehilangan untuk kedua kalinya. Aku tidak tahu apakah ini bisikan setan atau jeritan hatiku sendiri. Yang jelas, sebelum janur kuning melengkung, sebelum akad nikah terucap, aku masih merasa punya kesempatan.
Kenangan itu datang tanpa aba-aba.
Hari itu kita duduk di kafe kecil, menikmati kopi hitam dan siomay. Kita hanya diam, sesekali berbincang ringan, sambil memandang orang-orang berlalu lalang di depan kafe. Kamu tersenyum, lalu menyodorkan sebuah kotak kecil.
“Selamat ulang tahun, Mas Yo. Semoga makin sukses, bahagia, dan selalu sayang Sarah.”
“Amin, ya Rabb,” jawabku waktu itu. “Makasih, Non. Aku selalu menjaga rasa itu. Selamanya.”
Kamu memberiku sepatu biru. Warnanya sama persis dengan sepatu kets yang kamu pakai hari itu—seolah ingin mengatakan bahwa langkah kita seharusnya selalu seirama.
“Aku juga punya hadiah untukmu, Non,” kataku.
“Wah, terima kasih, Mas. Penasaran apa hadiahnya?”
“Yuk, kita ke mall. Aku mau kasih hadiah spesial.”
Kamu mengangguk. Mall itu tepat di seberang kafe. Kita hanya perlu menyeberang jalan, seperti menyeberangi hari-hari yang waktu itu terasa begitu mudah.
“Non, pilih tas sesukamu. Ini hadiah istimewa.”
“Masyaallah… makasih, Mas. Semua hadiah darimu selalu spesial. Pilihkan saja, aku pasti menjaganya.”
Kamu tersenyum manja. Aku tahu kamu tidak terlalu suka tas yang terlalu feminin. Kamu lebih sering memakai ransel. Mataku tertuju pada sebuah tas warna krem, ukuran sedang, dengan tali panjang.
“Ini kayaknya cocok untukmu.”
“Aku suka, Mas. Makasih banyak.” Kamu lalu tertawa kecil. “Tapi aku kan gak ulang tahun, kok dapat hadiah?”
“Ini hadiah untuk hari jadi spesial kita, Non.”
“So sweet… makasih, Mas Yo.”
Aku menggenggam tanganmu. Matamu berbinar, penuh bahagia, penuh percaya. Saat itu aku yakin—aku tidak akan pernah kehilangamu.
Namun waktu membuktikan sebaliknya.
Kini, semua kenangan itu kembali menghantamku. Terlalu hidup. Terlalu nyata. Aku terjebak di antara kenyataan dan penyesalan. Di satu sisi, aku tahu Sarah telah memilih jalannya. Di sisi lain, hatiku menolak untuk benar-benar melepas.
Andai waktu bisa diputar, aku ingin mengulang semuanya—tanpa ragu, tanpa menunda, tanpa melepaskan.
Aku bertanya pada diriku sendiri, dengan suara yang nyaris seperti dosa:
haruskah aku memohon pada calon suami Sarah untuk membatalkan pernikahan itu?
Pertanyaan itu menggantung di kepalaku, berat, tak terjawab.
Dan aku sadar—kadang yang paling menyakitkan bukan kehilangan orang yang kita cintai,
melainkan menyadari bahwa kita datang terlambat… dengan cinta yang masih utuh.
Malam turun perlahan, membawa sunyi yang terasa lebih berat dari biasanya. Aku menggelar sajadah di sudut kamar, lampu kupadamkan setengah. Hanya cahaya temaram yang menemani doa-doa yang tak lagi rapi.
Aku berdiri menghadap kiblat, tapi hatiku berlari ke arah lain.
“Allahu Akbar…”
Tanganku terangkat, namun dadaku bergetar. Bacaan demi bacaan kulalui dengan suara yang nyaris tak terdengar. Di setiap ayat, bayangan Sarah hadir tanpa permisi. Wajahnya, senyumnya, kata-kata penolakannya yang lembut namun tegas.
Saat sujud, keningku menempel lama di sajadah. Di titik paling rendah itulah pertarungan batin benar-benar dimulai.
*Ya Allah…*
*Jika rasa ini salah, mengapa Engkau biarkan ia hidup begitu lama di dadaku?*
*Dan jika ia bukan jodohku, mengapa Engkau pertemukan kami kembali setelah semua ini berlalu?*
Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. Aku malu pada-Mu, Tuhan. Aku datang membawa doa yang setengah ikhlas, setengah memaksa.
Aku tahu batas. Aku tahu cinta bukan alasan untuk merebut yang telah Engkau titipkan pada orang lain. Aku tahu janur kuning bukan sekadar hiasan, melainkan tanda amanah dan tanggung jawab.
Tapi hatiku membantah pelan:
*Bukankah sebelum akad, belum ada yang sah?*
*Bukankah Engkau Maha Membolak-balikkan hati?*
Aku tersentak oleh pikiranku sendiri. Astaghfirullah.
Aku sadar—ini bukan lagi tentang cinta, tapi tentang adab. Tentang bagaimana seorang hamba menerima keputusan Tuhan, meski terasa paling menyakitkan.
“Ya Allah,” bisikku, “jika Sarah bukan takdirku, jangan biarkan aku mencintainya dengan cara yang melukai orang lain.”
Aku terdiam lama. Nafasku mulai teratur, meski dada masih sesak.
*Ajari aku ikhlas sebelum aku menjadi nekat.*
*Ajari aku merelakan, sebelum aku tergoda melampaui batas.*
Aku tidak meminta Engkau memisahkan Sarah dari calon suaminya. Aku hanya memohon satu hal yang terasa jauh lebih berat:
*Patahkan rasa ini dengan cara-Mu yang paling lembut.*
Jika cinta ini ujian, maka aku ingin lulus tanpa merampas kebahagiaan siapa pun. Jika kehilangan ini jalan menuju-Mu, maka kuatkan kakiku untuk tetap melangkah, meski tertatih.
Aku bangkit dari sujud dengan mata sembab dan hati yang belum sepenuhnya sembuh. Tapi malam itu aku belajar satu hal yang pahit sekaligus menenangkan:
Tidak semua doa harus dikabulkan dengan *memiliki*.
Sebagian cukup dijawab dengan *dikuatkan untuk melepaskan*.
Dan di antara ikhlas dan nekat, aku memilih tetap bertahan sebagai hamba—
meski sebagai lelaki, hatiku masih berdarah.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
