Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 23)
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 23)
Setelah darahku mengalir ke kantong bening itu, aku tahu ada sesuatu yang ikut pergi—keberanianku untuk berharap. Aku menatap Mas Yo sebentar saja, sekilas, seolah kalau terlalu lama aku akan runtuh. Lalu aku pamit. Dengan senyum yang kupaksakan tenang, padahal dadaku penuh oleh kata-kata yang tak pernah menemukan jalan keluar. Mungkin ini sekadar pamit biasa, pikirku. Tapi hatiku tahu, ini pamit untuk menutup semua kenangan dan harapan yang terlalu lama kubiarkan hidup diam-diam.
Sejujurnya, aku masih sangat menyayangi Mas Yo. Perasaan itu tidak pernah benar-benar mati, hanya belajar bersembunyi. Namun aku juga tahu diri. Ada hati lain yang kini harus dijaga, ada batas yang tak boleh kulangkahi, meski kakiku gemetar di ambangnya. Menyayangi tidak selalu berarti memiliki, dan aku harus belajar menerima itu, meski rasanya seperti menelan luka sendiri.
Aku mencoba meyakinkan diri untuk kembali pada hal yang paling masuk akal: penelitianku, tesisku, masa depan yang sedang kutata dengan susah payah. Aku ingin segera lulus. Aku ingin meninggalkan kota ini—kota yang terlalu pandai menyimpan jejak langkah kami, sudut-sudut kenangan, dan percakapan yang masih bergema di kepalaku. Pergi mungkin adalah satu-satunya cara agar aku bisa bernapas tanpa terus-menerus menoleh ke belakang.
Namun ternyata rindu tidak semudah itu ditinggalkan. Semakin keras aku berusaha melupakan, semakin kuat ia mencengkeram. Setiap nama Mas Yo yang terlintas, setiap ingatan yang datang tanpa permisi, membuatku tersiksa dengan cara yang sunyi. Aku berjalan maju, tapi hatiku tertinggal. Dan di antara langkah-langkah itu, aku hanya bisa berharap: semoga waktu, suatu hari nanti, cukup baik untuk menyembuhkan apa yang tak sanggup kusebutkan dengan kata-kata.
Bismillah. Dengan tangan sedikit gemetar, aku mengganti nomor ponselku, lalu satu per satu menutup semua akun media sosial. Seperti menutup pintu rumah lama yang penuh debu dan gema suara. Aku ingin memulai hidup baru—lebih sunyi, lebih tenang, tanpa perlu berpura-pura kuat di hadapan siapa pun. Luka-luka ini memang tak berdarah, tapi perihnya nyata. Rasa sakit karena berpisah dengan Mas Yo, rasa malu dan kecewa karena dikhianati Ustaz Romi, semuanya belum benar-benar sembuh. Masih berdenyut pelan di dada. Aku rindu suasana baru yang bisa menghiburku, menenangkanku, mengubur semua kisah lalu yang terlalu sering bangkit tanpa izin.
Hari ini aku menghadapi sidang ujian tesisku. Dengan napas yang kupanjatkan bersama doa, alhamdulillah semuanya berjalan sangat lancar. Aku dinyatakan lulus dengan nilai A. Tak banyak revisi, hanya sentuhan kecil yang bisa kuselesaikan dalam sehari. Menjilid, menyerahkan ke kampus, lalu mendaftar wisuda—semua kulalui dengan langkah cepat, seolah aku tak ingin memberi ruang pada keraguan untuk menyusul.
Namun di loket pendaftaran itu, bayangan Mas Yo kembali menyelinap masuk, tanpa mengetuk. Dulu, dialah pendamping wisudaku. Aku masih ingat wajahnya, senyumnya, suaranya yang penuh keyakinan. Aku wisuda S1, Mas Yo wisuda S2nya.
“Happy graduation, Non. I’m proud of you.”
“Makasih, Mas. Semua ini karena kamu selalu mendukungku, selalu menyayangiku. Semoga selamanya.”
“Sama-sama, Non. Percayalah, aku selalu menyayangimu. Hati ini hanya untukmu selamanya.”
“Kapan Mas Yo melamarku?”
“Aku akan cari waktu, segera menyampaikan ke orang tuaku, untuk melamarmu.”
“Makasih, Mas. Aku tunggu.”
Bayangan itu berputar-putar, menari seperti adegan film yang kupaksa tonton ulang. Lalu aku tersadar—itu semua masa lalu. Janji yang tak pernah sampai ke hari ini. Besok lusa aku akan wisuda, berdiri sendiri, tanpa Mas Yo di sisiku. Di usiaku yang sudah matang, aku masih sendiri. Label “perawan tua” terasa seperti bayang-bayang yang tak bisa kuhindari, meski aku tahu hidup tak sesempit itu.
Aku menarik napas panjang, menegakkan bahu.
Bismillah. Kuat.
Jika harus sendiri, biarlah aku belajar bahagia dengan kakiku sendiri. Jika harus terluka, biarlah waktu dan doa yang perlahan menyembuhkannya.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
