nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 24)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 24)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 24)

Akhirnya, hari yang kutunggu itu tiba. Hari wisuda.

Alhamdulillah, aku masih ditemani Ibu dan teman-teman seangkatan. Senyum Ibu tak pernah lepas, meski di sudut matanya terselip rindu yang tak terucap—rindu pada Bapak yang telah lebih dulu berpulang beberapa tahun lalu. Andai beliau masih ada, mungkin tangannya akan menggenggam erat tanganku hari ini.

Setelah prosesi wisuda selesai, seperti tradisi yang tak pernah absen, kami mengabadikan momen kebersamaan. Tawa, peluk, dan kamera yang tak berhenti memotret. Hari itu terasa hangat, meski hatiku masih menyimpan ruang kosong yang tak bernama.

“Sarah, selamat ya.”

Aku menoleh. Sedikit terkejut ketika Haris—ketua kelasku—berdiri di hadapanku sambil menyodorkan buket bunga.

“Makasih banyak. Selamat juga untukmu,” jawabku, berusaha tersenyum setenang mungkin.

“Sama-sama, terima kasih, Sarah,” ucapnya pelan. Lalu suaranya berubah, lebih dalam, lebih hati-hati. “Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Izinkan aku melamarmu?”

Jeduaaarrrr.

Dunia seakan berhenti berputar. Suara di sekeliling mendadak menghilang. Kata-katanya menghantam tanpa aba-aba.

“Maaf,” lanjutnya, “mungkin selama ini kita hanya sekadar saling sapa, mengerjakan tugas bersama. Tapi sejujurnya, sejak awal bertemu denganmu, aku telah jatuh cinta padamu.”

Ia menarik napas. “Aku tidak memaksamu menjawab sekarang. Usia kita juga sudah tak lagi muda. Jika kamu menerimanya, izinkan aku segera menikahimu.”

Aku membisu. Lidahku kelu. Aku berdiri seperti orang bodoh yang kehilangan kata, hanya menatap wajah Haris yang tampak begitu tenang, begitu yakin.

Haris tersenyum kecil. “Besok aku akan ke rumahmu. Apa pun jawabanmu, aku siap menerimanya dengan lapang dada. Aku tidak memaksa.”

Lalu, seolah ingin menegaskan keseriusannya, ia berkata pelan namun mantap,

“Mungkin aku jauh berbeda jika dibandingkan dengan Ustaz Romi, penghafal Al-Qur’an. Namun aku siap memberimu mahar tiga puluh juta dan hafalan Ar-Rahman.”

Dadaku sesak. Kata-kata itu terlalu besar untuk kuterima dalam sekali dengar.

Aku masih terhipnotis, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku. Haris pun pamit. Dengan takzim ia menyalami Ibu, menundukkan kepala penuh adab. Setelah itu, ia pergi meninggalkan halaman wisuda yang masih ramai.

Aku masih mematung.

Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Haris—ketua kelas yang selama ini tak pernah masuk dalam deretan nama yang kusebut dalam doa—tiba-tiba datang membawa keberanian, kesungguhan, dan niat suci.

Ia siap menikahiku.

Dan aku… masih berdiri di antara masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh, dan masa depan yang tiba-tiba mengetuk tanpa permisi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post