nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 25)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 25)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 25)

 

Rasanya, tidak ada satu pun alasan logis untuk menolak Haris.

*Lidīnihā*, agamanya baik.

*Lijāmalihā*, wajahnya rupawan.

*Lināsabihā*, nasabnya jelas dan terhormat.

*Limālihi*, ia datang dari keluarga berada—bahkan telah berdiri di atas kakinya sendiri sebagai seorang kontraktor.

 

Nyaris sempurna.

Dan justru di situlah letak kegelisahanku. Aku malah merasa minder di hadapannya.

 

Namun, cinta dan rasa sayang memang bukan barang dagangan yang bisa dibeli di toko mana pun. Aku mencoba jujur pada diriku sendiri: tidak ada getar di dadaku saat bersamanya. Tak ada debar yang tiba-tiba membuat napasku tercekat. Tidak seperti ketika aku berada di dekat Mas Yo—yang hanya dengan diamnya saja mampu membuat jantungku berlari tak karuan.

 

Tapi itu pun bukan alasan yang cukup untuk menolak Haris.

 

*Witing tresna jalaran saka kulina.*

Cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Aku menggantungkan harapanku di sana. Barangkali, dengan sering bertemu, terlebih dalam ikatan pernikahan, benih cinta itu akan menemukan tanahnya, lalu bersemi pelan-pelan.

 

“Kamu beruntung, Sar. Dilamar Haris. Banyak perempuan yang mengharapkannya, bahkan mengejar-ngejar dia,” ucap Mbak Mira sore itu di perpustakaan.

 

Kami memang cukup akrab. Dulu, aku sering menunggu jam tutup perpustakaan bersamanya. Akhir-akhir ini pun, aku kerap berada di sana bersama Haris. Meski begitu, kami jarang berbincang serius. Sesekali ia mengajakku makan malam, atau sekadar membawakan tas dan buku-buku praktikku.

 

Sore itu aku pamit, karena esok aku akan pulang ke kampung.

 

“Mbak Mira kayaknya paham banget sama Haris?” tanyaku.

 

“Paham lah,” jawabnya ringan. “Dia selalu jaga jarak dengan teman perempuan. Hanya ke kamu saja dia mau makan malam, nungguin sampai kamu selesai kuliah, bahkan bawain barang-barangmu.”

 

“Hah? Itu kan biasa, Mbak.”

 

“Menurutmu biasa. Tapi tidak dengan Haris. Banyak yang nanya ke aku, apa kamu itu istrinya Haris.”

 

“Apa?”

 

“Iya. Teman-teman sejurusannya kepo. Dia dikenal cool sama perempuan. Jadi sejak sering lihat kalian bareng, itu jadi gosip hangat.”

 

Aku terdiam.

“Terus, aku harus gimana, Mbak?”

 

“Tanya hatimu. Tidak ada alasan kamu menolaknya. Aku tahu dia sangat mencintaimu. Itu kelihatan dari sorot matanya, dari caranya memperlakukanmu—kamu istimewa buat dia.”

 

Aku menghela napas. “Iya, Mbak. Memang tidak ada alasan menolaknya. Dia hampir sempurna.”

 

Mbak Mira menatapku lama, lalu berkata pelan,

“Sarah, ada satu hal yang tidak pernah aku ceritakan pada siapa pun.”

 

Aku menoleh.

 

“Sejujurnya, aku kagum pada Haris. Aku menaruh hati padanya. Tapi aku tahu diri. Cintanya hanya untukmu. Jadi aku mundur teratur, dan cukup mencintai dalam diam.”

 

Aku terkejut.

Perempuan baik, cantik, cerdas, dan enerjik seperti Mbak Mira—ternyata menyimpan rasa yang sama, dalam diam dan keikhlasan.

 

Saat itu aku sadar, seharusnya aku jauh lebih bersyukur.

Ada laki-laki yang begitu mencintaiku, menjagaku, memuliakanku—meski aku sendiri belum mampu membalas cintanya dengan kadar yang sama.

 

Dan barangkali, cinta memang tidak selalu datang dalam bentuk debar.

Kadang ia hadir sebagai keteguhan.

Sebagai kesabaran.

Sebagai seseorang yang memilih bertahan, meski hatiku belum sepenuhnya pulang.

 

---

 

Kereta melaju pelan meninggalkan kota. Aku duduk di dekat jendela, membiarkan sawah, sungai, dan rumah-rumah kecil bergantian menyapa lalu menghilang. Angin sore menembus celah jendela, membawa bau tanah basah—bau yang selalu mengingatkanku pada rumah.

 

Pulang selalu menghadirkan dua rasa: lega dan luka.

Lega karena kembali pada akar.

Luka karena ada begitu banyak cerita yang tak pernah selesai.

 

Di pangkuanku, ponsel bergetar pelan.

Haris: "Hati-hati di jalan. Kabari kalau sudah sampai."

 

Singkat. Tidak berlebihan. Seperti dirinya.

Aku membalas dengan emotikon senyum dan doa. Sesederhana itu, tapi entah kenapa dadaku terasa penuh.

 

Rumah menyambutku dengan sunyi yang akrab. Ibu sudah menungguku di teras, senyumnya hangat meski rambutnya semakin memutih. Aku memeluknya lama, seakan ingin menitipkan semua kebimbanganku di pundaknya.

 

“Mbak, kamu kenapa, Nak?” tanya Ibu ketika kami duduk berdampingan di ruang tengah.

 

Aku menggeleng pelan. “Lagi banyak mikir, Bu.”

 

Ibu tidak mendesak. Seperti biasa, beliau tahu kapan harus bertanya dan kapan harus diam. Malam itu aku memilih berlama-lama di kamar, membuka koper, merapikan pakaian, tapi pikiranku justru semakin berantakan.

 

Nama Haris dan Mas Yo silih berganti muncul di benakku—satu menawarkan ketenangan masa depan, satu lagi menyisakan debar masa lalu.

 

Aku menutup mata.

Dan akhirnya tahu, aku tidak bisa memutuskan apa pun hanya dengan logika.

 

 

Malam semakin larut. Rumah terlelap. Aku mengambil wudu, airnya dingin, menyentuh kulit sekaligus menyadarkan. Di atas sajadah yang sudah mulai usang, aku berdiri—sendiri, kecil, dan rapuh di hadapan-Nya.

 

“Allahu Akbar.”

 

Dalam sujud, air mataku jatuh tanpa suara.

Aku tidak meminta tanda yang ajaib.

Aku hanya ingin dituntun.

 

“Ya Allah…

jika Haris adalah yang terbaik untuk agamaku, duniaku, dan akhiratku, maka dekatkanlah.

Tenangkan hatiku.

Hilangkan keraguanku.”

 

Dadaku sesak. Aku melanjutkan doa dengan suara bergetar.

 

“Namun jika dia bukan untukku, meski dia baik, meski dia hampir sempurna, maka jauhkanlah perlahan.

Jangan biarkan aku menyakiti hatinya.

Dan jangan biarkan aku mengkhianati diriku sendiri.”

 

Aku terdiam lama setelah salam. Tidak ada mimpi aneh. Tidak ada bisikan. Hanya sunyi—sunyi yang terasa lapang.

 

Beberapa hari berlalu. Aku menjalani rutinitas di kampung: membantu Ibu di dapur, menyapu halaman, menyiram bunga. Anehnya, setiap kali nama Haris terlintas, hatiku tidak lagi gelisah. Tidak berdebar, tapi juga tidak menolak.

 

Tenang.

 

Sebaliknya, setiap kali bayangan Mas Yo muncul, ada rasa perih yang kembali menyayat—rindu yang tidak sehat, luka yang belum sembuh.

 

Di situlah aku paham.

Istikharah tidak selalu memberi jawaban berupa rasa cinta yang tiba-tiba tumbuh.

Kadang, ia hanya membersihkan hati dari kegaduhan yang tidak perlu.

 

Sore itu, aku mengambil ponsel. Jemariku sempat ragu, lalu mengetik.

 

Aku: "Mas Haris, terima kasih sudah menungguku. Insyaallah, aku siap melangkah bersama, sambil belajar menumbuhkan cinta. Mohon bimbingannya."

 

Aku menutup mata setelah mengirim pesan itu.

Bukan dengan euforia.

Bukan dengan debar.

 

Tapi dengan keyakinan yang pelan,

bahwa memilih yang baik, dengan niat yang lurus,

adalah bentuk cinta yang paling dewasa.

 

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post