nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 26)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 26)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 26)

Setelah aku memberikan jawaban kepada Mas Haris, waktu seakan berjalan lebih cepat dari biasanya. Tepat satu minggu kemudian, keluarga Mas Haris datang ke rumah untuk melamarku.

Tidak ada gemerlap, tidak ada dekor berlebihan, apalagi pentas yang menyita perhatian. Lamaran itu berlangsung sederhana, hangat, dan penuh keteduhan. Mas Haris datang membawa sasrahan: perlengkapan rias, perlengkapan salat, baju, sepatu, sandal, perhiasan berupa kalung dan gelang, dan yang paling membuat dadaku bergetar—sebuah cincin sebagai pengikat.

Bukan sekadar cincin.

Ia adalah ikatan janji.

Ikatan dua hati.

Ikatan dua keluarga.

Acara lamaran berjalan sangat lancar. Bahkan, keluarga Mas Haris sempat menawarkan agar ijab kabul segera dilangsungkan saat itu juga. Dengan alasan menjaga dari kemaksiatan dan fitnah.

Dengan tenang aku menyampaikan pendirianku.

“Aku tidak ingin menikah sirri. Menjaga diri dan kehormatan tidak harus lewat jalan itu. Ada cara yang lebih elegan—kita menikah secara sah melalui KUA.”

Alhamdulillah, keluarga Mas Haris memahami dan menerima keputusanku. Dua keluarga pun segera bermusyawarah menentukan tanggal pernikahan kami. Disepakati, satu bulan setelah proses lamaran ini.

Setelah acara selesai, keluarga Mas Haris berpamitan. Namun, pandanganku tertahan pada satu wajah yang tidak asing bagiku.

Aku terkejut.

“N… Nurul?” tanyaku ragu.

Mas Haris mengangguk. Perempuan di depanku pun ikut mengangguk dengan mata yang tampak teduh.

“Iya, Mbak. Kita pernah bertemu di kampus. Saya adik keponakan Mas Haris.”

“Oh… iya,” sahutku pelan. Lalu aku menoleh pada Mas Haris. “Kenapa kamu nggak pernah cerita?”

“Untuk apa aku cerita,” jawabnya lembut. “Aku tahu kamu masih terluka.”

Aku menghela napas sejenak, lalu memberanikan diri bertanya, “Nur, sekarang tinggal di mana setelah menikah dengan Ustaz Romi?”

Tiba-tiba mata Nurul berkaca-kaca. Aku langsung merasa bersalah. Ada sesuatu yang tidak beres.

“Nur nggak jadi menikah dengan Ustaz Romi,” Mas Haris menjawab, menggantikan Nur.

Jeduaaarrr…

Aku terpaku. Jantungku berdegup tak karuan.

“Maaf… aku nggak tahu. Aku tidak bermaksud membuka lukamu,” ucapku lirih.

“Tidak apa-apa, Mbak Sarah,” jawab Nur. “Aku yang bodoh. Terlalu percaya. Bahkan sempat mau menikah sirri. Ternyata, Ustaz Romi tidak jadi menikahiku secara sah… karena Mbak Khadijah hamil.”

Aku semakin terkejut. Bukankah dulu dokter memvonis Mbak Khadijah tidak bisa memiliki anak?

Namun aku segera sadar—kita hanya manusia. Jika Allah berkehendak, *kun fayakun*, maka terjadilah.

“Ya Allah… sabar ya, Nur,” ucapku.

Nur tersenyum tipis. “Aku ikhlas. Ini takdir terbaik. Bahkan, setahun lalu Ustaz Romi sudah menghadap Sang Khalik.”

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahummaghfirlahu, wa‘afihi, wa‘fu ‘anhu,” ucapku refleks.

Terlalu banyak kisah yang tak pernah aku ketahui. Dan memang dulu, aku sengaja tidak ingin mencari tahu.

“Ustaz Romi sakit parah,” lanjut Nur. “Jenazah beliau bahkan tidak boleh dimandikan di rumah. Semua proses dilakukan di rumah sakit.”

“Kena Covid?” tanyaku pelan.

“Bukan. Beliau terkena HIV.”

Jeduuuaaarrr…

Aku benar-benar tak mampu berkata apa-apa. Kepalaku dipenuhi tanda tanya. Aku tidak ingin bersuuzan. Bisa saja beliau dijebak, seperti kisah-kisah kelam dalam novel yang pernah kubaca.

“Nur… kamu?” tanyaku ragu, khawatir dengan kesehatannya.

“Alhamdulillah aku sehat, Sarah,” jawabnya. “Kami memang pernah menikah sirri, tapi tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Pernikahan itu hanya agar kami bisa keluar bersama tanpa merasa berdosa.”

Aku menghela napas lega. “Alhamdulillah… Allah masih melindungimu. Sekarang kamu sudah menikah?”

“Iya. Alhamdulillah, aku menikah dengan teman kuliahku beberapa bulan lalu.”

“Alhamdulillah, selamat ya, Nur. Semoga samawa selalu.”

Nur menunduk. “Aku minta maaf. Dulu aku pernah menyakitimu. Aku sombong, merasa menang karena bisa merebut hati Ustaz Romi darimu. Kupikir kamu yang kalah… ternyata kamulah yang menang.”

Aku tersenyum, menahan haru. “Sudahlah. Itu masa lalu. Tidak perlu dibahas lagi. Aku sudah memaafkan semuanya. Ini takdir yang harus kita jalani.”

Aku menoleh pada Mas Haris. “Benar begitu, Mas?”

Mas Haris tersenyum teduh. “Betul, Sarah. Jika bukan karena takdir Allah, mana mungkin aku bisa meminangmu. Takdir Allah selalu yang terbaik.”

Ucapan itu menenangkan jiwaku. Aku bersyukur—akhirnya, kisah asmara masa lalu benar-benar selesai. Tanpa harus mencari jawaban, aku justru menemukan kenyataan yang jauh di luar perkiraan manusia.

“Dengan basmalah aku mencintaimu, dengan hamdalah aku menjaganya,” ucap Mas Haris dengan suara yang tenang, seolah setiap kata telah melewati perenungan panjang.

“Bismillah,” jawabku lirih, “bimbing aku agar selalu mampu mencintaimu, tanpa lupa mencintai Rabbku.”

Mas Haris tersenyum. Bukan senyum yang membakar dada, melainkan senyum yang menenangkan jiwa.

“Cinta itu,” katanya pelan, “seharusnya membuat kita bahagia dan semakin dekat dengan Allah. Jika cinta justru menyakiti, membuat kita jauh dari-Nya, maka yang perlu kita pertanyakan bukan takdirnya, tetapi ketulusan rasa dan cara kita memandang serta memaknainya.”

Aku terdiam. Kalimatnya terlalu dalam. Kadang aku merasa tak cukup cakap untuk mencerna filsafat hidup yang ia ucapkan dengan begitu sederhana. Namun justru di sanalah aku belajar—bahwa cinta tidak selalu tentang kata manis, melainkan tentang arah.

Terima kasih, ya Allah.

Atas nikmat yang tak pernah kuminta dengan suara lantang, namun Engkau kirimkan dengan cara paling lembut. Engkau hadirkan seorang calon imam yang saleh, meneduhkan, dan membimbing tanpa merasa lebih tinggi.

Mas Haris memang bukan berasal dari keluarga pesantren. Ia tumbuh di lingkungan biasa, namun kesungguhannya dalam menuntut ilmu agama membuatku kagum. Salat wajib tak pernah ia tinggalkan, bahkan ia menjaganya seolah napas hidup. Dan aku—yang sering lalai—justru merasa diingatkan tanpa harus dinasihati.

Aku belajar banyak darinya. Tentang sabar, tentang menundukkan ego, dan tentang cinta yang tidak menuntut untuk dimiliki dengan segera, tetapi dipersiapkan untuk dipertanggungjawabkan kelak.

Di hadapannya, aku tidak merasa perlu menjadi sempurna. Cukup menjadi hamba yang terus belajar, dan perempuan yang ingin tumbuh bersama.

Dalam diam, aku kembali berdoa:

Jika cinta ini memang titipan-Mu, ya Allah, maka jagalah ia.

Jadikan ia jalan pulang, bukan jalan menjauh.

Jadikan ia penenang jiwa, bukan ujian yang melukai iman.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku yakin—

aku sedang berjalan menuju masa depan dengan langkah yang benar.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post