nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 27)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 27)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 27)

 

Hari ini aku sangat terkejut.

Tidak ada hujan. Tidak ada petir.

Namun tiba-tiba Mas Yo datang ke rumah.

 

Sejujurnya, masih ada getar di hati ini. Getar yang lama kupendam, lama kuredam, dan kupikir sudah netral. Nyatanya, rasa itu belum sepenuhnya mati. Namun aku segera menegakkan diri—aku sudah menerima lamaran Mas Haris. Bahkan kurang dari tiga minggu lagi, kami akan menikah.

 

Dari ambang pintu kamar, aku melihat Ibu berbincang dengan Mas Yo di ruang tamu. Semuanya masih sama seperti dulu. Nada suara Ibu, sorot matanya, perhatian yang tak berubah sedikit pun. Seolah waktu tak pernah beranjak.

 

Aku menarik napas panjang, menenangkan degup yang mendadak tak beraturan. Aku mendekat, salim pada Ibu, lalu mengulurkan tanganku pada Mas Yo.

 

“Apa kabar, Mas? Mimpi apa semalam, tumben?” tanyaku, berusaha terdengar biasa saja.

 

“Alhamdulillah baik, Non,” jawabnya pelan.

 

Ibu tersenyum hangat, lalu berdiri.

“Ibu ke belakang dulu ya. Kalian lanjutkan ngobrolnya.”

 

Langkah Ibu menjauh ke dapur. Ruang tamu mendadak hening. Sunyi yang berat, seolah dipenuhi kata-kata yang belum siap diucapkan.

 

“Non,” Mas Yo memecah keheningan, “aku ingin minta maaf. Dulu aku tidak memperjuangkanmu. Sekarang aku datang untuk menebus kesalahanku.”

 

Aku menunduk, jari-jariku saling menggenggam.

 

“Aku tahu aku sudah berbeda,” lanjutnya. “Sekarang ada Feli… anakku. Rani sudah berjuang melawan sakitnya, tapi Allah berkehendak lain. Rani menghadap Allah satu tahun lalu.”

 

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…” ucapku lirih, terkejut sekaligus iba.

 

“Rani sempat berwasiat,” katanya lagi, suaranya bergetar, “ia memintaku mencarikan ibu untuk Feli. Jika kamu belum menikah, Rani berharap kamulah orangnya. Tapi jangan salah paham, Non. Bukan hanya Feli yang membutuhkanmu… aku juga. Rasa itu masih sama seperti dulu.”

 

Aku terdiam.

 

Angin apa yang membawa Mas Yo datang sejauh ini? Tiba-tiba melamarku menjadi istrinya, menjadi ibu bagi anaknya—saat hidupku hampir memasuki bab baru.

 

Memang benar, hanya butuh satu jam untuk menyayangi seseorang. Satu hari untuk mencintai seseorang. Namun butuh seumur hidup untuk melupakan seseorang.

 

Sejujurnya, rasa sayangku pada Mas Yo belum sepenuhnya hilang. Aku tidak melawan, karena setiap kali melawan, justru luka itu semakin terasa. Namun di saat yang sama, aku sedang belajar membuka hati. Belajar menerima Mas Haris sebagai calon imamku. Belajar menata masa depan yang lebih tenang.

 

Aku tidak boleh plin-plan dengan keputusan.

 

Andai waktu bisa diputar. Andai Mas Yo datang sebelum Mas Haris. Mungkin pikiranku tak serumit ini. Hatiku tak sekacau ini.

 

Aku mengangkat wajahku, menatap Mas Yo dengan mata yang mulai basah.

 

“Mohon maaf, Mas. Andai Mas Yo datang lebih awal, mungkin ceritanya tidak akan seperti ini. Tapi sekarang ada hati yang harus aku jaga. Aku sudah dilamar, dan tiga minggu lagi aku akan menikah.”

 

Aku melihat wajahnya berubah. Kecewa tak bisa ia sembunyikan. Berkali-kali ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan berat.

 

“Andai kamu mengizinkan, Non,” katanya lirih, “aku rela berlutut memohon pada calon suamimu agar membatalkan pertunangan. Aku janji akan menjagamu dengan seluruh jiwa ragaku.”

 

Hatiku perih. Namun aku harus tegas.

 

“Maaf, Mas. Pertunangan ini bukan permainan. Aku tidak bisa menerimamu. Aku tidak bisa menjadi ibunya Feli. Maafkan aku.”

 

Mas Yo bangkit. Wajahnya kusut, matanya merah. Tanpa banyak kata, ia pamit dan melangkah pergi.

 

Aku tahu ia terluka. Namun aku juga tahu—aku harus setia pada keputusanku. Aku harus memegang janji pada diriku sendiri: belajar mencintai Mas Haris, dan membuka lembaran baru yang lebih jujur, lebih tenang, dan lebih bahagia.

 

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post