Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 28)
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 28)
Hari ini aku bahagia.
Bukan karena peristiwa besar, melainkan karena cara sederhana kamu membuatku merasa berarti. Bagaimana tidak, puluhan tahun kita tak pernah bersua, waktu memisahkan langkah dan cerita, namun namaku masih tinggal rapi di daftar kontakmu. Seakan aku tak pernah benar-benar hilang dari ingatan.
Takdir mempertemukan kita kembali tanpa rencana, tanpa aba-aba, dalam sebuah agenda yang terasa biasa bagi banyak orang, tetapi menjadi istimewa bagiku.
“Boleh saya panggil Mbak?” pintamu hati-hati.
“Sekadar lebih akrab, apalagi Mbak masih muda. Saya bingung kalau harus memanggil Bu.”
Aku mengangguk, tersenyum kecil.
“Siap, Mas,” jawabku, ringan namun hangat.
Sejak agenda kedinasan itu, sesekali namamu hadir di layar ponselku. Tidak muluk, hanya sapaan sederhana: *“Apa kabar, Mbak?”*
Atau pengingat yang terasa tulus: *“Mbak, salat Zuhur dulu ya. Saya mau Jumatan.”*
Kadang kamu juga menyelipkan harapan kecil—ngopi sebentar, mengobrol tanpa beban, atau bernyanyi di sela waktu luang. Tidak ada janji, tidak ada ikatan, hanya niat untuk berbagi jeda.
Sepele, mungkin bagi orang lain.
Namun bagiku, semua itu cukup untuk membuat hari ini terasa utuh.
Kamu menempatkanku sebagai seseorang yang istimewa—
meski tanpa nama, tanpa status,
cukup dengan perhatian yang tahu caranya tinggal.
Itulah awal perjumpaan kembali dengan Mas Haris, tepat saat aku memutuskan melanjutkan kuliah S2.
Waktu seolah berputar pelan, membawa ingatan lama yang nyaris terlupakan. Dulu, kami pernah bertemu—entah kapan persisnya, aku pun tak lagi ingat. Yang kuingat hanya satu hal penting: dia pernah menolongku mengurus beasiswa ikatan dinas. Setelah itu, hidup berjalan ke arah masing-masing. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, tidak ada pertemuan. Sunyi, seperti garis yang terputus rapi.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukan kami kembali di tempat ini.
Saat itu posisiku masih rapuh. Hati yang belum sepenuhnya sembuh membuatku memilih untuk berhati-hati. Aku tak berani besar rasa, apalagi berani GR bahwa Mas Haris menyimpan perasaan. Kami bersahabat, titik. Tidak lebih. Dia ketua kelas jurusan Teknik Pertambangan, aku mengambil Teknik Perkapalan. Dua dunia yang berbeda, bertemu hanya di lorong-lorong kampus dan agenda akademik.
Semua tampak biasa saja. Mengalir seperti pertemanan lainnya—bercakap seperlunya, tertawa sewajarnya, saling menyapa tanpa beban. Tidak ada pengakuan, tidak ada janji, tidak ada tanda yang perlu ditafsirkan terlalu jauh.
Namun, ada hal-hal kecil yang tak bisa kupungkiri.
Cara dia memperhatikan tanpa membuatku merasa diawasi.
Cara dia mengingat hal-hal sederhana tentangku.
Cara dia menempatkanku seolah aku bukan sekadar teman lewat.
Tidak ada yang istimewa, kataku pada diri sendiri.
Tapi entah mengapa, hatiku tetap mencatat:
Mas Haris selalu memperlakukanku istimewa—
meski tanpa kata, tanpa nama, dan tanpa harus dimiliki.
Mendadak aku dikejutkan oleh kedatangan dua sosok yang sama-sama tak pernah benar-benar pergi dari pikiranku. Mas Haris dan Mas Yo berdiri bersamaan di depan pintu rumahku, dalam satu bingkai yang membuat dadaku seketika sesak.
“Mas Haris… Mas Yo…”
Sapaku lirih, nyaris seperti gumaman. Kakiku terasa berat, tubuhku terpaku.
“Kami tidak dipersilakan masuk?” tanya Mas Haris sambil tersenyum, mencoba mencairkan suasana yang mendadak beku.
Aku tersentak, baru menyadari betapa lama aku terdiam.
“Oh… silakan masuk,” ucapku tergesa.
Namun pikiranku sudah melayang ke pertanyaan lain yang tak kalah mengganggu.
“Kok bisa… bersamaan satu mobil?”
“Iya, memang kami berniat datang bersama,” jawab Mas Haris tenang, senyumnya tetap sama—hangat, yakin, tanpa ragu.
Berbeda dengan Mas Yo. Ia lebih banyak diam, tatapannya singkat, wajahnya menyimpan sesuatu yang tak mampu kuterjemahkan.
Aku mempersilakan mereka duduk di ruang tamu, tapi jantungku belum juga menemukan ritmenya. Dua lelaki yang sangat baik ini kini berada di rumahku, pada waktu yang sama, dalam satu kedatangan yang terlalu kebetulan untuk disebut kebetulan.
Kepalaku dipenuhi tanya.
Mengapa mereka bisa bersama?
Ada hubungan apa Mas Yo dan Mas Haris?
Padahal aku sudah berusaha mengubur semua cerita tentang Mas Yo. Aku memaksa diriku menutup lembar-lembar lama—tentang harapan, tentang luka, tentang cinta yang tak sempat selesai. Aku menenangkan hati dengan mengulang kenangan awal perjumpaanku dengan Mas Haris, tentang ketulusannya, tentang caranya hadir perlahan, hingga akhirnya ia melamarku untuk menjadi istrinya.
Aku sudah memantabkan hati.
Aku sudah memilih.
Namun kini, mengapa Mas Yo datang kembali?
Dan mengapa pula, ia datang bersama Mas Haris?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku, sementara mereka duduk berhadapan denganku, seolah tak menyadari badai kecil yang sedang pecah diam-diam di dalam dadaku.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
