nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 6)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 6)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 6)

#POV Sarah

Dengan basmallah aku mencintaimu, bukan sekadar rasa yang tumbuh diam-diam, melainkan niat yang kutitipkan pada Tuhan, agar cintaku tak melukai, tak tergesa, dan selalu berjalan dalam ridha-Nya.

Sarah,

izinkan aku mencintaimu, bukan untuk menggenggammu dengan ego,

tetapi untuk menemanimu dengan sabar. Aku tak bertanya siapa yang pernah singgah, tak menuntut masa lalu untuk dipertanggungjawabkan. Yang kuinginkan hanya hari ini dan esok, tempat kita saling menguatkan.

Jika hatimu pernah retak, biarkan aku merapikannya perlahan, dengan doa-doa yang kupanjatkan setiap sujud, dengan hadir yang tak berisik, namun setia menjaga.

Dengan hamdallah aku menjaganya, menjaga amanah bernama cinta, agar tetap sederhana, jujur, dan bersih.

Jika kelak Tuhan mengizinkan, biarlah cintaku padamu tumbuh sebagai ibadah, yang menenangkan, bukan yang menyakiti.

Dari yang mencintaimu

Ustaz Al-Karomi

***

Sepucuk surat yang dikirimkan Ustaz Romi pada Eni untukku. Aku membacanya perlahan, seolah merasakan emergi yang luar biasa. Luka karena harus berpisah dengan Mas Yo, perlahan mulai kering. Ada harapan besar yang dia tawarkan, ada tantangan aku ikut berjuang di jalan dakwahnya. Surat itu datang tanpa banyak kata pengantar, sederhana, bersih, seperti niat yang dituliskan tanpa ingin dipuji.

Tulisan Ustaz Romi rapi, tenang, setiap kalimatnya seperti doa yang dilipat pelan, lalu dikirim tepat ke ruang hatiku yang paling sunyi.

Entah mengapa, saat kubaca satu per satu, aku merasa terhipnotis, bukan oleh rayuan, melainkan oleh ketulusan yang tak memaksa.

Ada energi positif yang mengalir, seperti air jernih yang menenangkan luka lama, tanpa bertanya dari mana asal retaknya.

Ia tak menjanjikan bahagia tanpa ujian, tak pula menghapus masa lalu dengan kata-kata manis. Ia hanya menuliskan kesiapan: siap berjalan perlahan, siap belajar bersama, siap menjaga jika kelak aku lelah.

Di antara baris-baris itu, aku menemukan harapan yang lama tertidur.

Bukan harapan yang membuncah, melainkan yang tumbuh tenang, tentang rumah yang dibangun dari saling percaya, tentang cinta yang dijaga dengan hamdallah, bukan sekadar diperjuangkan dengan emosi.

Aku menutup surat itu dengan napas panjang, hatiku tak lagi berisik seperti sebelumnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tak takut membayangkan masa depan. Mungkin inilah cara Tuhan menenangkan, bukan dengan menghapus rasa yang pernah ada, melainkan menggantinya dengan keyakinan: bahwa bersamanya, aku punya harapan untuk sembuh, dan keberanian untuk memulai.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post