nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 7)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 7)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 7)

Aku mulai terbiasa dengan kehadiran Ustaz Romi.

Bukan lagi sekadar nama yang muncul di layar ponsel, tetapi suara yang pelan-pelan menetap di ruang hatiku. Aku belajar menerima, menata ulang perasaan, meyakinkan diri bahwa sebelum menikah dengannya, hatiku harus benar-benar bersih, siap sepenuhnya, tanpa bayang masa lalu. Aku mengubur kenangan Mas Yo, yang pernah tumbuh, mengikhlaskannya sebagai bagian dari perjalanan menuju takdir yang baru.

Hari ini aku mulai menyiapkan segala kebutuhan pernikahan. Daftar demi daftar kutulis dengan rapi, seolah keteraturan itu bisa menenangkan kegelisahan yang sesekali muncul. Setiap hari Ustaz Romi menghubungiku. Menanyakan kabarku, memastikan aku sudah makan, sudah istirahat, dan dengan nada lembut yang khas, ia bertanya berapa lembar hafalan yang sudah kumurojaah hari ini. Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, aku merasa diperhatikan, diyakinkan, dan perlahan percaya bahwa aku berada di jalan yang benar. Dan, aku merasa istimewa, begitu dicintai.

Namun, hari ini ada sesuatu yang menusuk lebih dalam dari yang pernah kuduga.

Suara di seberang telepon terdengar berat, tak lagi setenang biasanya.

“Dik, maafkan aku. Khadijah tidak mau diceraikan. Dia siap dimadu. Gugatan ceraiku ditolak pengadilan.”

Kalimat itu jatuh satu per satu, seperti batu yang menghantam dadaku. Tubuhku terasa lemas, napasku tertahan, dunia seolah berhenti berputar sesaat. Semua rencana yang kususun rapi tiba-tiba berantakan dalam kepalaku. Artinya… aku harus menjadi istri kedua? Mengapa dulu Ustaz Romi mengatakan sudah bercerai? Ya Allah, ternyata mungkin yang dia maksud dia sudah menjatuhkan talak, tetapi belum selesai proses di pengadilan agama.

Aku terdiam.

Antara iman yang diajarkan untuk taat, dan hati perempuan yang gemetar oleh kenyataan. Antara niat untuk mengikhlaskan masa lalu, dan luka baru yang bahkan belum sempat kusebut namanya. Aku bertanya pada diri sendiri, pada Tuhan dalam diam: apakah ini jalan yang harus kutempuh, atau ujian untuk menguji seberapa kuat aku mencintai, dan seberapa ikhlas aku merelakan diriku sendiri.

Bersambung

#literasi

#cerpen

#tantanganmenulishari8

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post