nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 9)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 9)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 9)

POV Khadijah

Mas Romi seolah terjepit di antara dua takdir yang saling bertolak belakang. Aku melihat kegamangan itu jelas di matanya. Di satu sisi, ia tak sampai hati menceraikanku, ada ikatan, ada sejarah, ada janji yang pernah diikrarkan dengan sungguh-sungguh. Namun di sisi lain, hasratnya untuk memiliki keturunan menariknya ke arah lain, ke arah Sarah. Lebih menyakitkan lagi, perasaannya tampak tumbuh, jatuh cinta pada gadis yang baru dikenalnya setahun lalu, di Bandara Juanda Surabaya, pertemuan singkat yang rupanya mengubah banyak hal.

Aku pun mulai berpikir, barangkali memang aku yang harus mengorbankan diri. Menundukkan ego, meremukkan harga diri. Memohon, bahkan bersujud pada Sarah, agar ia ikhlas menerima keputusan ini menjadi istri kedua. Aku ingin mengetuk pintu hatinya, bukan sebagai saingan, tetapi sebagai sesama perempuan yang sama-sama terluka oleh keadaan.

Pertemuan kami di Pantai Payangan menjadi ruang paling jujur bagi air mata. Debur ombak dan angin laut menyaksikan dua hati yang rapuh. Kami menangis bersama. Sarah adalah perempuan baik, dan dari sorot matanya aku tahu, ia pun tidak menginginkan pernikahan ini. Ada luka yang ia simpan rapi, ada cinta yang harus ia kubur. Namun seperti diriku, ia juga terikat oleh bakti harus patuh pada orang tua yang menghendakinya segera menikah.

“Sarah,” kataku dengan suara bergetar, “keikhlasanku ternyata masih terbatas. Andaikan kamu bersedia menjadi istri kedua, aku siap memberikan apa pun permintaanmu.”

Ia menunduk lama, lalu menatapku dengan mata basah.

“Mbak, aku minta maaf telah membuatmu menangis. Andai aku boleh memilih, izinkan aku pergi jauh.”

Kalimat itu menusuk sekaligus menenangkan. Pantai Payangan—yang sering disebut Raja Ampat-nya Jember menjadi saksi pertemuan tersembunyi kami. Dua perempuan, dua kisah luka, terjebak dalam takdir yang sama, saling menggenggam dalam diam, berharap Tuhan menurunkan jawaban terbaik di antara gelombang dan doa.

"Tidak Sarah, kamu jangan pergi. Kita bisa hidup berbagi," aku mencoba menenangkan hatinya walau hatiku sendiri sakit. Aku yakin di dunia ini tidak ada satu pun wanita yang mau berbagi cinta, kecuali terpaksa.

Aku melihat air mata Sarah terus berderai, membasahi pipinya yang kemerahan. Aku memeluknya erat, kami sama-sama dalam dalam dilema.

Bersambung

#literasi

#tantanganmenulis

#cerpen

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post