nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part8)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part8)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 8)

Namaku Khadijah, aku istri atau mantan istri Ustaz Romi. Secara agama dua sudah menjatuhkan talak, namun secara hukum negara, kami belum resmi bercerai.

Mas Romi, nama yang dahulu kupeluk dengan doa dan harap, kini terasa berat di dada. Aku istri yang tak mampu memberi keturunan untuk melanjutkan dakwahnya. Karena itulah, Mas Romi menggugat cerai diriku.

Kami duduk berhadapan dengan kesepakatan yang dingin, dan talak satu telah jatuh. Sejak saat itu, hatiku hancur, sehancur-hancurnya. Sebentar lagi aku akan menyandang satu status yang tak pernah kuimpikan: janda.

"Dik, aku minta maaf dan minta izinmu. Untuk kelangsungan dakwah kita, aku butuh penerusku. Izinkan aku menikah dengan Sarah. Tentu saja setelah proses pengadilan agama selesai."

Jeduuuaaarrr ....

Belum selesai proses di pengadilan, Mas Romi datang membawa kejujuran yang menyayat. Ia meminta izinku untuk menikahi seorang gadis bernama Sarah, setelah putusan pengadilan agama kelak selesai. Aku tak marah—atau mungkin terlalu lelah untuk marah. Aku melihat Sarah sebagai gadis yang baik, lembut, dan pantas. Ia beruntung dipilih oleh lelaki yang pernah menjadi seluruh duniaku. Sementara aku, perlahan belajar menerima bahwa peranku dalam hidupnya telah usai.

"Aku ikhlas, Mas. Tetapi sungguh ini sangat berat. Andaikan aku masih boleh memilih, aku tidak mau perceraian ini. Aku siap berbagi dengan Sarah," ucapku lirih dengan air mata yang terus berurai.

Mas Romi menghela nafas panjang.

"Maafkan aku, Dik. Sarah tidak mau menjadi istri kedua." Jawaban Mas Romi, seperti pisau menusuk tepat di jantungku. Artinya, dia tetap akan menceraikanku walaupun aku sudah memohon dan ikhlas dimadu.

Aku tidak menyalahkan Mas Romi, tidak menyalahkan takdir ini. Hanya saja ini terlalu menyakitkan buatku. Kadang aku merasa ini tidak adil, walau sebenarnya apa pun yang terjadi ini adalah yang terbaik dan ini bentuk keadilan Allah. Mungkin sekarang aku belum bisa mengambil hikmah, pelajaran dari kejadian ini.

Di sepertiga malam yang sunyi, aku berlatih ikhlas. Aku berusaha rida pada takdir yang terasa timpang ini. Air mata menjadi sahabat, sajadah menjadi saksi. Aku berkata pada Tuhan, jika ini jalan yang harus kulalui, kuatkanlah hatiku untuk melangkah tanpa membenci siapa pun.

Namun hatiku yang rapuh masih sempat berharap. Aku memohon pada Mas Romi untuk tidak melanjutkan perceraian. Di hadapan pengadilan, aku ajukan keberatan. Aku katakan dengan suara bergetar, "aku siap menerima Sarah sebagai maduku, siap berbagi suami, demi menjaga rumah tangga yang pernah kami bangun dengan doa. Aku tidak ingin menjadi janda yang kerap dipandang sebelah mata. Aku hanya ingin tetap utuh sebagai Khadijah, perempuan yang mencinta dengan setia, meski harus mengalah pada takdir."

Mas Romi terkejut mendengar jawabanku. Namun, dia tidak berani menatapku. Aku tahu ini juga berat baginya.

Bersambung

"Sidang kita lanjutkan bulan depan."

Hakim menutup persidangan kali ini, belum ada keputusan final.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post