nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 30)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 30)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 30)

Lama aku tak sadarkan diri.

Tubuh ini seperti kehilangan daya, lelah yang tak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata. Saat perlahan mataku terbuka, ingatan tentang persiapan pernikahan itu kembali menyerbu. Semua sudah disiapkan—tanggal, niat, harap. Namun bayang-bayang masa lalu menyelinap, membuat dadaku sesak.

Apakah aku harus kembali membatalkan pernikahan, seperti dulu saat segalanya runtuh menjelang hari bahagiaku bersama Ustaz Romi?

Aku tahu Mas Haris sangat menyayangiku. Tak seharusnya ia memintaku memilih Mas Yo. Aku tidak ingin ia merasa harus bersaing dengan masa lalu yang bahkan belum sepenuhnya aku kubur. Aku yakin aku bisa mencintai Mas Haris sepenuhnya—aku hanya butuh waktu. Waktu untuk mengubur kenangan, waktu untuk menenangkan hati yang masih menyimpan sisa rasa pada Mas Yo.

“Alhamdulillah, kamu sudah sadar,” ucap Mas Haris. Wajahnya tampak pucat, matanya menyimpan kekhawatiran yang tak ia sembunyikan.

Aku menatapnya lama. “Mas Haris masih peduli denganku?”

Ia menghela napas, lalu menggenggam tanganku dengan erat.

“Sarah, maafkan aku. Tidak seharusnya aku bersikap seperti tadi. Aku janji, aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu, selama aku masih ada di sampingmu. Kita akan segera menikah. Lekas sehat, Sayang.”

Masyaallah.

Untuk pertama kalinya, ia memanggilku *Sayang*.

Ada rasa hangat yang mengalir perlahan, menenangkan. Selama ini ia selalu memanggil namaku—tanpa kata manis, tanpa gombal ala drama Korea. Tapi keromantisan Mas Haris memang tak pernah lahir dari kata-kata. Ia hadir dalam perbuatannya, dalam tanggung jawab dan kesungguhannya menjaga.

“Terima kasih, Mas. Aku akan segera sembuh. Aku hanya… lelah dengan semua ini,” ucapku lirih. Kepalaku masih terasa berat, pikiranku penuh.

Kadang aku bertanya dalam hati, mengapa untuk sampai pada pernikahan, jalannya begitu terjal? Mengapa kebahagiaan harus diuji sedemikian rupa?

“Sekali lagi aku minta maaf, Sayang,” katanya lembut. “Percayalah, aku selalu mencintaimu. Hari ini, besok, dan selamanya. Kita akan menikah minggu depan.”

“Makasih, Mas,” jawabku singkat, namun tulus.

Mas Haris menggenggam tanganku semakin erat. Dari sorot matanya, aku melihat penyesalan—atas sikapnya yang tadi, atas ketakutannya kehilangan, hingga tanpa sadar membuatku terpojok oleh pilihan yang tak seharusnya ada.

Aku menutup mata perlahan.

Semoga Allah memberi kemudahan bagi kami.

Dan jika pernikahan ini adalah jalan terbaik, semoga di dalamnya Allah titipkan ketenangan, kesetiaan, dan kebahagiaan yang tak lagi goyah oleh masa lalu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post