nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 29)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 29)

Dengan Basmallah Aku Mencintaimu, dengan Hamdallah Aku Menjaganya (Part 29)

Suasana ruang tamu mendadak terasa sempit, meski sebenarnya cukup luas. Dua lelaki dari masa lalu dan masa kini duduk berhadap-hadapan di depanku. Aku seperti seorang terdakwa yang menunggu palu hakim diketukkan—tanpa tahu vonis apa yang akan dijatuhkan untuk hidupku.

“Diminum dulu kopinya, mumpung masih panas,” ucapku, sekadar berusaha memecah kecanggungan yang menggantung.

“Makasih,” jawab Mas Yo dan Mas Haris serentak, nyaris tanpa jeda. Keserempakan itu justru membuat dadaku makin sesak.

“Sarah, ini Yohan—teman kecilku waktu di kampung dulu,” Mas Haris membuka percakapan dengan senyum tipis. “Kami sering main bareng, renang di sungai sampai pulang-pulang dibawakan pecut sama orang tua.”

Ia terkekeh kecil, larut dalam kenangan.

“Kami ini kompak sehati. Selera makanan, baju, sepatu… banyak hal,” lanjutnya.

Aku menunduk. Setiap katanya seperti menyusun kepingan takdir yang terasa kejam.

“Aku tak pernah tahu kalau Yohan adalah cinta pertamamu,” ujar Mas Haris lagi. “Masyaallah, ternyata kita selalu kompak. Bahkan sama-sama mencintai wanita yang sama.”

Senyumnya kali ini terasa dipaksakan. Ada luka yang berusaha disembunyikan.

“Mas, …” aku mencoba menyela.

“Sarah, biar aku selesaikan dulu ceritaku,” potongnya lembut tapi tegas.

“Yohan sudah banyak bercerita tentang kesalahannya dulu. Dia tak berani memperjuangkanmu saat Ustaz Romi datang melamarmu. Sekarang dia ingin menebus semuanya.” Mas Haris menarik napas panjang. “Dulu aku berjanji padanya, akan memberikan apa pun. Dan Yohan… dia sangat baik. Dia rela mendonorkan salah satu ginjalnya untukku. Aku berutang nyawa padanya.”

Dadaku bergetar.

“Maksud Mas Haris apa? Apa Mas menganggapku seperti barang?” suaraku lirih, nyaris gemetar.

“Jangan salah paham.” Ia menatapku dalam. “Aku sangat mencintaimu, bahkan melebihi nyawaku sendiri. Tapi aku juga menyayangi Yohan sebagai saudara. Aku hanya ingin tahu satu hal… apakah kamu masih mencintainya?”

“Mas Haris, aku sudah mengambil keputusan akan menikah denganmu. Aku akan mencintaimu.”

“Sarah,” katanya pelan tapi menekan, “jawablah. Apa kamu masih mencintai Yohan?”

“Mas—”

Aku tidak suka caranya. Pertunangan ini terasa seperti sesuatu yang bisa ditawar-menawar. Seolah hatiku bisa dipindahkan begitu saja.

“Aku sudah mengubur cintaku untuk Mas Yo,” jawabku akhirnya, memaksa diriku terdengar tegas.

“Kalau begitu dengarkan ini,” ujar Mas Haris. “Jika kamu masih mencintainya, aku rela mundur. Aku hanya ingin melihatmu bahagia dengan orang yang kamu cintai. Sama seperti aku ingin melihat Yohan bahagia dengan wanita yang ia sayangi.”

Aku melirik Mas Yo. Ia diam, membisu, menunduk. Kali ini Mas Haris jelas tidak sedang bercanda. Bahkan tanggal pernikahan kami sudah ditentukan. Sederhana, katanya—cukup keluarga, saudara, dan tetangga dekat.

“Mas, aku memilihmu,” ucapku lirih tapi pasti. “Aku tidak bisa menerima Mas Yo kembali. Aku juga tidak bisa menjadi ibunya Feli.”

“Tanyakan pada hati nuranimu, Sarah,” balasnya. “Aku tahu kamu masih menyimpan rasa yang besar untuk Yohan.”

“Mas Haris tidak bisa memaksaku!” suaraku naik satu oktaf. Setelah itu, kata-kata berhenti. Hanya air mata yang tersisa, mengalir tanpa bisa kutahan.

“Ma… ma…”

Aku tersentak. Di ambang pintu berdiri seorang anak perempuan kecil, sekitar dua tahun, bersama seorang wanita paruh baya.

“Feli…” Mas Yo segera berdiri dan menggendongnya.

Jadi ini Feli. Anak Mas Yo dan Rani.

Entah mengapa, ada rasa aneh menjalar di dadaku. Iba, haru, atau naluri yang tak bisa kujelaskan. Aku seperti ingin menyayanginya—tanpa tahu alasannya.

“Ma… ma…”

Anak kecil itu kembali memanggil, menatapku penuh harap sambil mengulurkan tangannya.

“Feli menyukaimu, Sarah,” suara Mas Haris terdengar lirih. “Dia sangat membutuhkanmu.”

“Cukup, Mas…” aku terisak. “Aku capek.”

Dunia terasa berputar. Gelap perlahan menelan pandanganku. Kaki-kakiku melemah, dan sebelum sempat meraih apa pun, aku terjatuh.

Aku pingsan, bersama segala keputusan yang belum benar-benar selesai.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post