nikmatul khoiroh

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Talak Tiga

Talak Tiga

Talak Tiga

“Kita cerai!”

Kalimat itu kembali meluncur dari bibirmu, dengan nada yang tak lagi asing di telingaku. Ini yang ketiga kalinya. Ketiga kalinya kamu menjadikan kata cerai sebagai jalan keluar dari setiap badai kecil yang menerpa rumah tangga kita.

Pertama, hanya karena kesalahpahaman antara aku dan teman dekatmu. Kamu berdiri di sisinya, bukan di sisiku. Aku yang sudah menjadi istrimu, justru terasa seperti orang luar. Dengan mudah kamu meminta kita berpisah. Saat itu aku menangis sejadi-jadinya, memohon agar kamu membatalkan niatmu. Dan kamu melakukannya. Gugatan itu batal. Aku mengira cinta telah menang.

Padahal yang menang hanyalah rasa takutku kehilanganmu.

Aku terlalu mencintaimu. Terlalu menggantungkan hidupku pada keberadaanmu. Aku merasa tanpamu, duniaku runtuh.

Kedua kalinya, ketika cemburu mengetuk pintu hatiku. Aku hanya ingin memastikan tidak ada yang berlebihan di media sosialmu—emoticon hati, sapaan manis, candaan yang terasa terlalu intim. Tapi bagimu itu adalah penjara. Kamu merasa tidak merdeka. Kamu marah besar. Lagi-lagi kata cerai menjadi ancaman yang kau lemparkan tanpa ragu.

Dan lagi-lagi aku yang berlutut pada keadaan. Aku berjanji tak akan terlalu ingin tahu. Tak akan terlalu peduli. Tak akan terlalu mencintai dengan cara yang menurutmu mengganggu.

Hari ini, untuk ketiga kalinya, kamu tidak lagi sekadar mengancam. Kamu mengirim pengacara. Kamu benar-benar ingin menggugatku di pengadilan agama. Tangisku kali ini tak lagi disertai permohonan panjang. Aku hanya terdiam, menatap seseorang yang dulu bersumpah akan menjagaku seumur hidup.

Akhirnya aku menandatangani surat itu. Dengan tangan gemetar, tapi hati yang mulai belajar rela. Talak tiga, entah sengaja atau tidak sengaja, namun setiap permintaan pisah, itu sudah membuat hatiku terkoyak.

“Terima kasih sudah ikhlas menerima keputusan ini, Sayangku. Ini lebih baik untuk kita.”

Kalimatmu datar. Seolah tiga tahun bersama tak pernah menyisakan tawa, doa, atau bahagia. Seolah aku hanya jeda dalam perjalanan hidupmu.

“heem, terima kasih untuk semuanya,” jawabku lirih.

Tidak ada lagi yang bisa kupertahankan dari seseorang yang tak lagi ingin bertahan.

Maka terbanglah. Setinggi dan sejauh yang kamu mau. Jangan lagi merasa terkekang oleh cinta yang dulu kuanggap suci. Aku akan belajar mencintaimu dalam cara yang berbeda—dalam sunyi doa-doa yang kupanjatkan pada Tuhan.

Sampai Sang Pemilik Cinta perlahan mencabut rasa ini dari dadaku.

Kini aku mengerti, mencintai tidak selalu berarti memiliki. Jodoh bukan sekadar tentang bersama, tapi tentang siapa yang bertahan. Mungkin kamu hanyalah jodoh sementara—hadir untuk mengajarkanku bahwa harga diri tak boleh lebih rendah dari cinta, bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya, dan bahwa aku bisa tetap berdiri meski ditinggal pergi.

Aku tak pernah menyesal bertemu denganmu.

Karena dari luka ini, aku belajar menjadi lebih kuat.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post