Nopiranti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Sebebas Apakah Kita Boleh Mengungkapkan Perasaan di Media Sosial?
Suara merdeka

Sebebas Apakah Kita Boleh Mengungkapkan Perasaan di Media Sosial?

Sebebas Apakah Kita Boleh Mengungkapkan Perasaan di Media Sosial?

Malam tadi saya menyimak berita di beranda FB tentang beberapa orang mahasiswi yang diusir oleh warga ketika sedang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di video yang beredar, terlihat 9 mahasiswi sedang mengungkapkan unek-unek mereka tentang fasilitas yang diterima selama menjalani KKN di sebuah desa. Mereka mengeluhkan rumah yang harus bayar dan air yang sulit didapat.

Postingan video mahasiswi salah satu universitas negeri di Sumatra Barat ini sontak mendapat tanggapan dari aparat desa dan warga masyarakat. Karena warga merasa tersinggung dengan isi postingan tersebut, mereka akhirnya mengusir para mahasiswi itu keluar dari desa mereka.

Setelah menyimak berita ini, seketika ingatan saya melayang pada kurun waktu 2002. Ketika itu saya harus mengikuti program KKN dari UPI Bandung ke sebuah desa di Kabupaten Majalaya, Bandung. Jujur, dulu saya termasuk anak yang sangat manja. Walaupun tidak mewah, tetapi saya terbiasa mendapatkan kemudahan fasilitas dari orang tua. Namun, saat mengikuti KKN, saya justru berubah 180 derajat.

Di sana saya belajar banyak hal positif yang semakin mendewasakan dan memperkaya pengalaman batin serta spiritual saya. Contohnya saya belajar bagaimana berkomunikasi yang baik dengan rekan-rekan dari berbagai jurusan yang baru saya kenal yang memiliki beragam sifat dan kepribadian. Jika tidak pintar mengolah perasaan, pasti kami akan sering mengalami perselisihan.

Saya juga belajar untuk menyesuaikan diri dengan rumah yang angker karena jarang ditempati dan terletak di ujung desa yang agak jauh dari rumah tetangga. Rumah yang saya tempati itu kecil. Hanya ada satu kamar tidur. Sesuai kesepakatan bersama, diputuskan bahwa kamar itu khusus untuk tidur para mahasiswi. Sementara teman-teman pria tidur di ruang tengah. Kami tidur beralaskan tikar dan karpet tipis saja. Kami berusaha saling menguatkan. Rasa takut, kedinginan, sumpek, dan tidak nyaman berhasil kami taklukan bersama. Oh, ya, rumah itu kami sewa dengan cara iuran bersama.

Belum lagi kondisi kamar mandi yang airnya harus ditimba atau dipompa manual terlebih dahulu. Karena hanya ada satu kamar mandi, kadang-kadang untuk mengefektifkan waktu kami harus menggunakannya bareng-bareng. Sekali mencuci atau mandi bisa dua atau tiga orang yang masuk.

Untuk kegiatan sehari-hari juga kami kompak iuran. Seperti untuk biaya makan pagi, siang, dan malam. Per orang dikenakan berapa rupiah (saya lupa nominal pastinya) dan diberi jadwal masak yang wajib dilaksanakan dengan disiplin dan penuh rasa tanggung jawab.

Untuk acara bersama masyarakat juga kami mengeluarkan dana sendiri. Misalnya untuk membeli suvenir yang kami berikan pada pemilik rumah yang kami tempati, untuk menjamu tetangga sekitar rumah dalam acara silaturahmi, untuk para siswa dan guru di sekolah yang kami datangi, untuk aparat pemerintah, untuk ongkos pemateri dalam acara pengajian yang kami adakan bersama warga sekitar, dan untuk berpartisipasi meramaikan acara HUT RI yang diadakan sangat meriah di lapangan desa.

Semua itu kami lakukan dengan senang hati. Kami sadar bahwa saat itu kami tamu di desa tersebut. Kamilah yang harus banyak beradaptasi dengan kehidupan warga. Bukan malah menuntut warga untuk menyesuaikan dengan keinginan dan kepentingan kami. Kesiapan fisik dan mental ini kami dapatkan dari hasil arahan dosen pembimbing sebelum berangkat ke tempat KKN. Juga hasil menyimak pengalaman para senior kami.

Namun, tidak bisa saya mungkiri bahwa selama menjalani KKN dulu tentu saja ada banyak hal yang sering membuat saya dan teman-teman sedih, kesal, dan marah. Bahkan pernah berpikir untuk menyerah saja alias izin pulang lebih dahulu dengan alasan sakit misalnya. Namun, semanja-manjanya saya waktu itu, tidak tebersit sedikitpun niat untuk curhat pada orang tua. Sebisa mungkin saya justru menyampaikan cerita-cerita seru dan menarik saja supaya mama dan bapak tidak merasa khawatir pada putri bungsunya ini. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. Mereka tidak sembarangan curhat atau cerita kesulitan yang dialami.

Karena saat itu belum banyak mahasiswa yang punya hp dan bermain medsos, jadilah kami saling curhat satu sama lain pada forum-forum kumpul bersama. Misalnya ketika masak di dapur, ketika mencuci baju, ketika makan bersama, selesai salat berjemaah, atau menjelang tidur. Dari seringnya curhat dan mendapatkan banyak masukan dari sesama teman inilah, kami semua berhasil mengelola aneka gejolak perasaan sampai akhirnya mampu menyelesaikan masa KKN dengan mulus. Hubungan kami dengan aparat desa dan warga sekitar juga terjalin dengan baik.

Meskipun hari ini para mahasiwa sudah sangat lekat dengan gawai dan medsos sebagai media berbagi cerita, tetapi untuk urusan mengungkapkan perasaan sepertinya tidak ada salahnya mengadopsi pengalaman saya dan teman-teman waktu KKN dulu. Yaitu menahan diri untuk tidak sembarangan mengumbar unek-unek pada pihak yang tidak ada kaitan langsung dengan masalah yang dihadapi. Terlebih jika curhatnya di media sosial.

Ada baiknya mereka belajar mengedepankan komunikasi lisan secara langsung dengan pihak terkait dan menyelesaikan masalah dengan rapi. Kalaupun teramat ingin berkeluh kesah di media sosial, sampaikanlah dengan cara yang baik. Gunakan kata-kata yang sopan dan gestur tubuh yang santun. Dengan cara ini, semoga mereka bisa menyelesaikan masalah tanpa mengundang timbulnya masalah baru. Yang ujung-ujungnya malah akan merugikan diri sendiri, keluarga, dan kampus tempat mereka belajar.

Sukabumi, 27 Juni 2023

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post