Nopiranti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hampir Terlambat
Dokumen Nopiranti

Hampir Terlambat

Hampir Terlambat

Ketika mendapat informasi bahwa pelatihan swasunting dan editing naskah yang diadakan oleh IPP Jatim dan MediaGuru akan dihelat di Kota Surabaya, pikiran saya langsung berlabuh kepada seorang sahabat. Dia teman sekelas saya waktu kuliah di jurusan sastra Inggris UPI Bandung.

Wahidatul Husna namanya atau biasa dipanggil Una. Dia asli Bogor, tapi menikah dengan orang Surabaya. Sejak menikah, dia menetap di Surabaya karena suaminya bertugas sebagai dosen di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya. Saya dan Una juga pernah tiga tahun tinggal di tempat kost yang sama. Alhamdulillah, sudah beberapa tahun ini saya tergabung di grup WA yang isinya mantan para penghuni tempat kost tersebut.

Saat saya yakin akan ikut pelatihan, saya memberi kabar pada Una. Saya berharap bisa bertemu dia di Surabaya. Qadarullah, kata Una rumahnya di daerah Rungkut dekat dengan tempat pelatihan. Jadi, kami bisa kopi darat nanti.

Tak sabar rasanya menunggu waktu pertemuan. Ketika pelatihan hari pertama selesai sekitar pukul 4 sore, Una bertanya apa saya mau dijemput untuk jalan-jalan.

"Kita main ke Jalan Tunjungan, salah satu ikon terkenal Kota Surabaya, Ran," jelas Una di pesan WA.

Sungguh saya tergoda untuk mengiyakan tawarannya. Namun, saya teringat tugas mengedit naskah yang belum selesai. Ditambah malam itu ada jadwal webinar 365 seri 4. Saya merasa wajib mengikuti webinar itu sebagai rasa terima kasih karena ketika saya tampil jadi narasumber di webinar 365 sesi 1 juga para sahabat ini hadir menyimak. Maka, dengan berat hati saya sampaikan permintaan maaf pada Una bahwa saya tidak bisa keluar malam itu.

"Gimana kalau besok saja Una jemputnya, sekalian nanti pulangnya Una antar ke stasiun?" Wah, ide yang cemerlang ini. Pekik saya dalam hati.

Begitu acara hari kedua selesai sekitar pukul 12 siang, segera saya kabari Una.

"Siap. Una meluncur ke tempat Ranti jam 2 ya." Pesan WA dari Una saya terima dengan perasaan bahagia.

Una datang bertepatan dengan kumandang azan asar. Dia ditemani suami dan putri bungsunya. Masyaallah, senangnya bisa bersua kembali dengan sahabat setelah bertahun-tahun tak bertemu.

Setelah menunaikan salat asar di masjid yang berada di kompleks BBPMP, kami meluncur keluar meninggalkan tempat pelatihan. Sebelumnya saya berpamitan terlebih dahulu dengan teman sekamar yang baik hati dan membuat saya merasa sangat nyaman, Bu Robingah yang berasal dari Kendal.

"Kita ke mongkasel ya, Ran. Terus jalan ke Tunjungan. Baru nanti ke stasiun," ujar Una memaparkan rencana.

Sejenak saya terdiam, mencoba mencerna satu kata di kalimat pertama yang Una ucapkan, mongkasel. Terdengar seperti istilah dalam bahasa perancis. Saya teringat jika selain fasih berbahasa inggris, Una juga menguasai bahasa perancis. Mungkinkah Una mengajak saya ke restoran perancis?

Tunggu, kayaknya saya pernah dengar deh istilah itu. Setelah berpikir sejenak, saya lalu teringat pada salah satu tulisan dan video youtube yang pernah dibagikan di grup WA oleh Pak Eko Prasetyo, pemred MediaGuru. Ya, bukan mongkasel, tapi Monkasel alias Monumen Kapal Selam. Saya tertawa dalam hati mengingat kelucuan itu. Mongkasel, oh mongkasel.

Una menunjukkan pada saya nama-nama tempat yang kami lalui. Ada toko es krim legendaris Zangrandi. Saya pernah lihat Kak Fataty, salah satu panitia pelatihan, memosting foto di FB sedang menikmati es krim di tempat ini. Lalu, ada juga sungai Kalimas dengan perahu-perahu kecilnya yang bisa disewa oleh pengunjung untuk berwisata menyusuri sungai tersebut. Kami tidak berhenti di dua tempat itu, karena tujuan utama kami ke Monkasel dan Tunjungan Plaza.

Namun, rupanya belum rezeki saya bisa masuk ke Monkasel karena ternyata tempatnya tutup.

"Gimana sih ini? Hari Minggu itu kan waktunya orang-orang libur dan berekreasi. Ini tempat hiburannya kok malah tutup. Aneh banget!" Saya geli melihat Una yang ngedumel marah-marah.

"Mungkin petugasnya lagi liburan juga, Na. Jadi, tempatnya ditutup dulu," ujar saya.

"Ya sudah, kita ke Tunjungan Plaza saja ya, cari makan," ujar Una sambil mengajak saya berlalu dari pelataran Monkasel.

Saya, Una, dan putri bungsunya lalu masuk ke Tunjungan Plaza. Sementara suaminya Una pergi ke mall yang lain, karena barang yang hendak dia beli ada di sana. Sebelum menuju ke pusat makanan di lantai 5, putrinya Una minta mampir ke toko buku yang ada di lantai dasar. Siswi kelas 5 itu sudah terbiasa membaca dan mengoleksi buku. Bahkan sudah menghasilkan dua buku antologi bersama teman-teman sekelasnya.

"Mau makan apa, Ran?"

Saya bingung saat Una bertanya. Saya lihat ada pempek Ferina. Langsung saya teringat pada salah satu video youtube milik pemred lagi. Beliau sempat posting sedang menikmati pempek Ferina. Saya pikir di Sukabumi juga ada pempek, walaupun bukan merek Ferina. Akhirnya pilihan saya jatuh pada rujak cingur. Saya penasaran seperti apa sih rasanya makanan khas Kota Surabaya itu.

Saya pilih rujak cingur campur yang isinya ada sayuran matang dan irisan buah-buahan. Minumnya saya pilih teh tawar dingin. Ketika pesanan saya tiba, saya kaget. Ternyata porsinya jumbo alias banyak banget. Saya coba singkap apa saja isinya piring besar itu. Paling atas ada bumbu petis. Di sampingnya ada potongan cingur alias lidah sapi goreng. Lalu ada potongan mentimun, nanas, bengkoang, mangga muda, dan jambu air. Kebawahnya lagi ada tempe goreng dipotong kotak, kangkung dan toge rebus, serta potongan lontong.

Bismillah, saya mulai suapan pertama. Hmm, rasanya lumayan. Mengingatkan saya pada bumbu rujak plus terasi yang biasa ada di tempat saya. Potongan buah yang segar, cingur, dan tempe gorengnya habis saya santap. Tapi, sayur dan lontangnya tak kuasa saya tandaskan. Perut saya sudah menolak.

Selesai makan, saya melirik jam. Sudah pukul 5 sore. Pikiran saya mulai tidak tenang. Saya harus sampai di stasiun Gubeng minimal 30 menit sebelum keberangkatan yang dijadwalkan pukul 18.20 WIB.

Kami belum bisa beranjak dari Tunjungan Plaza karena masih menunggu suami Una. Begitu beliau tiba, langsung Una memintanya untuk menyantap dulu nasi goreng yang sudah dipesan. Pukul 17.30 suami Una selesai makan. Lalu, bergegas mengajak kami turun. Setengah berlari kami menuju tempat parkir.

"Tenang, Ran. Dari sini ke stasiun paling 9 menitan saja," ujar Una menenangkan saya.

Masuk gerbang stasiun Gubeng jam menunjukkan pukul 18.02. Sebelum mobil berhenti, saya sudah mengulurkan tangan untuk berpamitan pada Una. Saya peluk dia erat. Saya ucapkan banyak terima kasih atas kebaikannya menjamu saya. Tak lupa saya bisikkan doa juga untuk kesehatan Una sekeluarga.

Setelah menurunkan koper, sekali lagi saya dan Una berpelukan. Kembali kami saling mendoakan kebaikan. Setelah itu saya terburu-buru menuju tempat pencetakan tiket. Pukul 18.10 saya bergegas masuk. Pada petugas saya bertanya apa kereta yang akan saya tumpangi sudah datang. Jawaban petugas membuat saya tenang. Katanya kereta belum datang, paling sebentar lagi.

Ah, saya lega. Sejenak saya duduk dulu di bangku tunggu. Menenangkan diri yang merasa sangat gerah dan dag-dig-dug tidak karuan karena takut terlambat dan ketinggalan kereta.

Akhirnya pukul 18.15 WIB kereta Mutiara jurusan akhir Stasiun Bandung datang. Saya bergegas naik dan mencari tempat duduk saya. Setelah menyimpan koper dan tas di bagian penyimpanan barang, saya lalu duduk. Alhamdulillah kebagian kursi yang dekat jendela lagi. Di depan saya sudah ada sepasang suami istri. Lalu kemudian datang seorang penumpang laki-laki muda yang duduk di samping saya.

Tidak lama kemudian kereta mulai bergerak maju. Bismillah, saya gumamkan doa dalam hati. Selamat tinggal, Surabaya. Sejenak saja kujejakkan tapak di sini. Namun, berjuta kenangan indah telah kuraup. Terima kasih atas segala keindahan yang kausuguhkan. Izinkan kuabadikan semua kenangan itu dalam bingkai teristimewa: hatiku. Semoga kelak ada jodoh kita bersua lagi. Sayonara.

Sukabumi, 29 September 2023

(Izin berbagi tulisan yang panjang ini, untuk mengabadikan kenangan yang mungkin bisa lupa jika hanya disimpan di ingatan saja 🙏🙏😁)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post