Sepenggal Kisah Yogyakarta Jombang
Sepenggal Kisah Antara Yogyakarta Jombang
Sejenak setelah kereta api berhenti di stasiun Yogyakarta, seorang ibu datang tergopoh-gopoh menghampiri deretan kursi tempatku duduk. Dia langsung menyimpan tasnya di kursi kosong yang ada di depanku, kursi nomor 9D.
Sejenak kami bertatapan. Aku tersenyum kepadanya. Dia balas dengan menganggukkan kepala. Tak begitu jelas apakah dia balik tersenyum atau tidak. Sebab, wajahnya tertutup masker berwarna hijau lemon yang senada dengan warna kerudungnya yang lebar menjuntai.
Ibu itu kemudian duduk. Lalu, terlihat memejamkan matanya.
"Mungkin dia lelah dan butuh tidur segera," gumamku dalam hati.
Sejurus kemudian aku pun kembali asyik dengan HP-ku. Berkirim pesan dengan keluarga atau melihat-lihat status media sosial teman-temanku.
Saat sedang tertunduk menatap layar HP, tiba-tiba ada yang memegang lututku. Aku terperanjat. Ketika aku menengadahkan kepala, tampak ibu yang tadi duduk di depanku sedang menyodorkan sekotak makanan. Didorongnya kotak itu tepat di depan tangan kiriku. Sementara gerakan wajahnya mengisyaratkan supaya tangan kananku segera mengambil kue dari kotak tersebut.
Spontan aku menggeleng. Kukatakan terima kasih banyak seraya tangan kananku sedikit mendorong kotak kue itu menjauh dari hadapanku.
Ibu itu tetap memaksaku untuk mengambil makanan yang dia tawarkan.
"Ambil. Jangan ditolak. Ini berkah. Kita makan sama-sama. Ayo, ambil," ujar ibu itu dengan dengan nada lembut, tapi penuh penekanan.
Aku masih tetap bermaksud menolak. Tetapi, ketika mataku bersitatap dengan matanya, seketika aku luruh. Wajah mungilnya yang sekarang tidak bermasker, terlihat putih bersih bercahaya. Tatap matanya teduh dan senyumnya menenangkan.
Setelah mengucap basmallah dalam hati, perlahan kuambil sepotong kue tart dari kotak yang disodorkan ibu tadi. Jemariku menyentuh kue bolu yang lembut. Ada dua lapis kue bolu ternyata. Bagian atas bertabur krim vanila dengan toping kacang tanah sangrai. Sementara lapisan kedua berlumur krim yang sama dengan campuran selai coklat.
Sambil menyantap kue yang lezat itu, kami terlibat obrolan ringan. Mulai dari saling bertanya hendak ke mana atau dari mana, sampai saling berbagi informasi seputar pekerjaan kami. Ternyata kami sama-sama seorang pendidik. Ibu itu seorang guru PAI di salah satu sekolah swasta di daerah Jombang. Dia pulang dari Yogyakarta setelah menengok anaknya yang sedang mondok di salah satu pesantren di sana. Dia tinggal sendiri di rumahnya karena suaminya sudah meninggal. Sesekali ada anaknya yang tinggal berdekatan dengannya datang menemani.
Pembicaraan terus berlanjut hingga membahas tentang tunjangan sertifikasi dan kondisi di sekolah kami. Ketika tak sengaja terlontar keluh kesah dari lisanku, ibu tersebut dengan lembut mengingatkan tentang pentingnya berbaik sangka dan memperbanyak rasa syukur. Ah, rasanya seperti sedang berbincang dengan sahabat lama saja. Terasa akrab dan penuh kehangatan.
Terdengar suara petugas kereta api memberi pengumuman bahwa kami akan segera memasuki stasiun Jombang. Ibu baik tadi segera berkemas. Tas ransel segera dipasang ke punggungnya. Sementara tas jinjing besar dia letakkan di pangkuannya. Kami saling tatap dalam pandangan haru.
Ibu itu kemudian tertunduk. Tangannya tampak mengambil sesuatu dari tas jinjing di pangkuannya. Sekotak bakpia patok dan sekantung keripik jagung dia keluarkan. Lalu, disimpannya di pangkuanku.
"Dimakan ya," ujarnya dengan lembut.
Lalu tangan kanannya terulur mengajak bersalaman. Kusambut jemarinya dengan bersemangat. Lalu kukecup penuh takzim. Spontan ibu itu memelukku dengan erat.
"Hati-hati di jalan ya. Assalamualaikum," ucap ibu itu mengakhiri perjumpaan kami.
Kulepas kepergiannya menuruni kereta dengan rasa haru. Seraya hatiku tak henti melangitkan doa kebaikan yang sama untuknya.
"Terima kasih untuk sepenggal kisah yang kau suguhkan, ibu. Kau ingatkan aku bahwa berbuat baik yang didasari ketulusan hati, pasti akan dengan mudah sampai lagi ke hati," gumamku berbicara pada diri sendiri.
Sukabumi, 29 September 2023
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
