Nopiranti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Air Mata Tabu
https://health.kompas.com/read/23J16100100468/apakah-air-mata-bisa-habis-begini-faktanya-#google_vignette

Air Mata Tabu

Air Mata Tabu

Bunyi petasan korek meramaikan pelataran sempit yang penuh oleh rombongan calon pengantin pria, tuan rumah calon pengantin perempuan, dan para tetangga. Sudah jadi kebiasaan di kampung ini jika ada hajatan, entah itu khitanan, nikahan, atau hari besar Islam, petasan korek seolah menjadi menu wajib pembuka acara.

Petasan korek yang disusun seperti deretan anggur itu biasanya digantungkan di dahan pohon yang agak tinggi. Kemudian diaktifkan dari jarak yang agak jauh dari petasan itu dengan menggunakan api kecil yang dinyalakan di ujung kayu atau bambu. Jadi tidak membahayakan orang yang bertugas menyalakan petasan tersebut.

Banyak sedikitnya susunan petasan biasanya tergantung harga. Lebih mahal ya pastinya lebih panjang untaiannya. Dar-der-dor bunyi petasan yang biasanya berlangsung sekitar 5 atau 10 menit itu akan terdengar sampai ke desa-desa tetangga. Menjadi penanda jika di tempat itu tengah diadakan acara spesial.

Pagi itu aku datang sebagai tetangga yang punya hajat. Selain ikut membantu di dapur ala kadarnya sejak beberapa hari yang lalu, aku juga diminta menjadi salah seorang penjaga meja prasmanan. Kalau para ibu sudah berkumpul, dipastikan dapur takkan pernah sepi. Tawa dan canda saling bersahutan. Sesekali agak senyap ketika topik obrolan terlalu sensitif untuk didengar semua orang alias mode bisik-bisik diaktifkan.

Ini salah satu hal yang aku kurang suka ketika ikut melingkar bersama ibu-ibu tetangga. Memang tidak semua ibu dan tidak setiap waktu juga, tapi sebagian besar acara kumpul itu pasti diwarnai ghibah. Meski terkadang informasi itu penting juga untuk diketahui, tapi kebanyakan kabar yang kudengar hanya memantik prasangka buruk, rasa iri, atau malah menyulut emosi. Kecepatan ibu-ibu mengakses berita dan ketajaman analisis mereka terhadap berita itu sungguh luar biasa lah pokoknya.

Sebelum bertugas menjadi penjaga prasmanan, aku terlebih dahulu ikut menyimak prosesi akad nikah. Di ruang tamu yang dihias dengan kain nuansa biru langit itu, calon pengantin pria sudah duduk tegap didampingi orang tuanya. Sementara calon pengantin perempuan, masih ada di dalam kamar. Aku menyempatkan diri masuk 'tuk menemuinya. Sebagai guru yang tiga tahun kemarin membersamai, aku merasa masih belum percaya jika gadis manis berbudi halus itu sudah akan menyempurnakan setengah agamanya.

Ada rasa haru, sekaligus perasaan tak rela ini semua terjadi. Aku masih berharap dia lebih memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas, dibandingkan harus menikah muda, persis satu bulan setelah acara perpisahan SMP selesai di gelar. Baru kali itu aku menghadiri pernikahan dengan mempelai perempuan semuda itu.

Aku duduk di samping calon pengantin yang terlihat pangling dengan riasan sederhana tapi tampak flawless. Kugenggam jemarinya yang dihiasi hena bermotif bunga yang tak terlalu meriah. Tak banyak kata yang kuucapkan. Hanya selengkung senyum dan tatapan sayang yang dalam.

"Teteh, selamat menempuh hidup baru ya. Doa terbaik dari Ibu, semoga Teteh selalu bahagia," ucapku seraya memeluknya.

Tanpa dapat dicegah, air mata mengalir begitu saja. Tiba-tiba berkelebat di benakku, potongan-potongan kisah perjalanan panjang nan penuh liku yang harus kulakui, sedetik setelah ijab kabul berlangsung dulu. Pernikahan yang digelar ketika usiaku dan suami sudah cukup dewasa, matang secara lahir dan batin, di atas 20 tahun. Di usia segitu pun kutemui kenyataan jika ternyata pernikahan tidak melulu seindah yang kubayangkan. Ada banyak hari kelabu di antara isak nan pilu. Tak ada lagi aku atau kamu yang mengedepankan ego ‘tuk tunjukkan siapa yang paling benar. Yang ada hanyalah kita yang harus selalu saling introspeksi, memahami, dan lebih banyak mengalah demi rasa tenang menghidu udara pagi, siang, dan malam yang seumur hidup berharap kami jelang bersama. Tanpa jeda pisah yang terlalu lama, atau mungkin titik di tengah alur kisah yang belum usai.

Aku lantas membayangkan gadis semuda dia, yang masih ingin bebas bermain dan meronce cita-cita setinggi-tingginya, harus patuh pada perintah orang tua yang lebih takut putrinya terjerumus pergaulan bebas dari pada memberinya akses pendidikan formal yang lebih tinggi. Entah apa yang ada dalam benak muridku ini. Sukakah dia dengan pilihan orang tuanya? Atau adakah keinginan berontak, namun terkebiri oleh rasa hormat dan perasaan takut dianggap sebagai anak durhaka? Entahlah, aku tak mau terlalu dalam mencampuri urusan keluarga orang lain.

Pelukanku melonggar. Kutatap kembali wajah muridku itu. Matanya tampak berkaca-kaca. Sebelum air mata terjatuh, namanya sudah dipanggil untuk segera keluar mengikuti rangkaian ijab kabul. Kubantu dia bangkit dan kupapah menuju ruang tamu untuk duduk bersanding dengan kedua orang tuanya.

Tak lama suara kompak hadirin menyatakan sah, terdengar menghangatkan seisi rumah. Seiring doa bakda ijab kabul terlantun, sayup-sayup terdengar suara isak tangis lembut. Tatapku tertuju pada pengantin perempuan. Seraya mengangkat kedua tangan untuk mengaminkan doa, tampak pundaknya halus berguncang. Dia menangis. Aku pun ikut menangis. Haru dan bahagia. Tangis yang selalu spontan terburai setiap aku selesai menyaksikan ijab kabul saudara, teman, atau tetangga.

“Kenapa nangis? Ga boleh nangis! Cepat hapus air mata kamu!"

Tiba-tiba suara tegas itu terdengar. Ibu pengantin perempuan tampak sibuk mencari tisu, lantas diberikan pada putrinya.

“Kenapa harus nangis? Kamu kan ga diapa-apain? Kamu harusnya bahagia. Malu sama tamu. Udah, berhenti nangisnya. Siapa yang ngajarin kamu begini sih?” Sekelebat tatap nan tajam tampak dilemparkan sang ibu ke arahku yang saat itu juga masih terhanyut dalam isak tangis pelan. Ibu mempelai perempuan itu hanya selisih beberapa tahun saja usianya denganku. Mungkin dulu dia juga menikah waktu seusia putrinya sekarang.

Aku kaget. Hampir semua mata tertuju padaku. Aku gelagapan. Lekas-lekas kurapikan diri. Aku duduk tegak kembali seraya menyeka air mata dan memaksa selengkung senyum menghias wajahku.

Tatap sang ibu agak melunak. Sang anak pun tampak sudah bisa menguasai diri lagi. Suasana kembali ramai kala pembawa acara menyilakan pengantin untuk bersanding di pelaminan dan mulai menerima ucapan selamat dari semua hadirin. Aku pun ikut bangkit dan bergegas menuju tempat tugasku di meja prasmanan.

“Tabu untuk menangis di hari pernikahan. Di hari bahagia kan harusnya tersenyum ceria, Bu Guru. Kalau nangis, nanti dikira pengantin perempuan merasa terpaksa menikah dan itu akan membuat keluarga laki-laki menaruh prasangka buruk. Nanti bisa panjang urusannya, berabe,” bisik seorang ibu yang bertugas di sampingku, membuat aku jengah untuk sekejap.

Oh, ternyata beda tempat, beda pula makna menangis ya. Hmm, di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung. Ya sudah, aku harus belajar lebih peka membaca rasa mulai dari sekarang. Bahwa ternyata ada juga air mata tabu, air mata yang tak boleh mengalir hanya demi menjaga perasaan orang lain.

Sukabumi, 12 Januari 2026

(37 hari menuju Ramadan)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post