Burung Hantu di Ujung Gang
Burung Hantu di Ujung Gang
Tiga pasang mata di tempat yang berbeda, tertuju pada satu titik yang sama.
Ada mata yang gelisah. Milik seraut wajah cantik yang terlihat pucat tanpa riasan. Jemari tangannya yang gemetar, tak henti mengelus-elus perutnya yang rata.
"Jangan sampai ada benih yang tumbuh menjadi janin di perutku ini. Berhentilah berbunyi, hei burung. Diamlah. Jangan kau buat aku panik!" Perempuan itu berbisik lirih pada dirinya sendiri.
Sejak seminggu yang lalu kegelisahan itu menerornya. Sejak suara burung hantu dari rumah di ujung gang itu dengan jelas terdengar di malam hari. Rebahnya yang terbiasa dalam ketenangan di kamar tidurnya yang nyaman, mendadak berubah menjadi insomnia parah yang membuat kantung matanya jelas terlihat. Kepalanya juga terasa seperti ada yg menusuk-nusuk, sakit, dan pusing.
Belum lagi nafsu makan yang ikut menghilang. Tak terbit secuil pun seleranya walau menu-menu lezat buatan asisten rumah tangganya tersaji lengkap di meja makan. Yang ada dia malah sering mual setiap memaksakan diri menjejalkan makanan-makanan itu ke mulutnya. Menambah gundah perasaannya yang teramat ketakutan jika mualnya itu tersebab dia tengah hamil. Sesuatu yang sangat tidak ingin dia alami. Setidaknya bukan saat ini. Bukan dengan lelaki yang menjadikannya sekadar simpanan, tanpa status pernikahan yang jelas. Meskipun dia tahu jika desas-desus yang menyebutkan suara burung hantu bisa menjadi penanda adanya wanita yang sedang hamil itu hanya sekadar mitos, tapi entah kenapa rumor ini membuatnya begitu gelisah.
***
Sepasang mata yang lain tampak memandang ke luar jendela dengan tajam. Sesaat wajahnya tampak bersedih. Matanya yang memerah itu berkaca-kaca. Tetapi, sejurus kemudian seulas senyum terlihat di bibirnya yang gelap. Bukan senyum kebahagiaan. Lebih terlihat seperti senyum kepalsuan yang menyiratkan kelicikan dan niat jahat.
"Teruslah berkicau, hei burung. Hadirmu memberiku harapan. Semakin nyaring dan rapat suaramu terdengar, semoga menjadi penanda semakin dekat waktu untuk si tua bangka itu. Dia toh sudah uzur. Sudah saatnya semua harta warisan itu beralih ke tanganku," ujar si pemilik mata nyalang itu.
Entah apa yang merasuki pikirannya. Selama ini niat menguasai kekayaan mertuanya itu sudah memenuhi benaknya. Beragam cara dia tempuh untuk membuat sang mertua sesegera mungkin menemui azalnya. Tetapi, waktu belum berpihak kepadanya. Hingga malam itu saat dia mendengar suara burung hantu dari rumah di ujung gang itu, dia seperti mendapat wangsit. Dia pernah mendengar cerita jika suara burung hantu di malam hari bisa menjadi penanda akan datangnya kematian pada seseorang yang ada di dekat burung itu. Sejak saat itu dia seperti dirasuki roh jahat. Mantra-mantra hitam semakin rapat dironcenya. Semakin sering suara burung hantu itu terdengar, perasaannya semakin bahagia. Sebab, dia meyakini jika itu merupakan pertanda jika waktu akhir itu akan semakin dekat menjemput mertuanya.
***
Di tempat lain sepasang mata juga tengah fokus pada titik di mana terdengar suara burung hantu. Matanya menyipit, bibirnya mengerucut maju, dan cuping hidungnya kembang kempis seperti menahan amarah. Sementara kepalan tangan kanannya berulang kali ditinjukan ke telapak tangan kirinya.
"Burung hantu sialan! Berapa kau dibayar untuk menerorku, hah? Kau kira tuanmu bisa mengalahkan jampi-jampi milikku? Jangan mimpi kamu! Aku pasti menang. Jabatan itu harus menjadi milikku!" Lelaki paruh baya bersetelan jas rapi itu berulang kali merapalkan kata-kata yang sama.
Awalnya pikiran dan hatinya tidak sekusut dan sekesal ini. Dia memang berambisi mengikuti pemilihan kepala daerah. Dia jalani prosesnya dengan santai. Namun, ketika tahu bahwa salah satu calon pasangan saingannya adalah mantan pacar istrinya, tiba-tiba saja egonya tersulut.
Dia tidak mau kalah dari saingannya itu. Mulailah dia bergerilya, melakukan segala cara untuk memastikan perolehan suaranya aman. Namun, seminggu yang lalu dia mendengar suara burung hantu di tengah malam. Seketika pikiran buruk menyergapnya. Yang dia tahu suara burung hantu di dekat rumah dipercaya membawa kabar buruk atau kesialan. Dia mengira jika burung hantu itu sengaja dikirim oleh saingannya untuk mencelakakannya.
Sejak seminggu yang lalu pula dia intens berkomunikasi dengan orang pintar yang dipercaya bisa membantunya menangkal serangan ilmu hitam itu yang dilancarkan dengan perantara burung hantu di ujung gang itu. Aneka sesajen dia penuhi. Beragam jampi-jampi juga kuat dia rapalkan di waktu-waktu yang sudah ditentukan oleh dukunnya.
"Aku tidak peduli berapa rupiah pun yang harus kugelontorkan, pokoknya aku harus menang!" Gigi lelaki itu bergemetak seusai mengucapkan tekadnya itu.
Namun, uangnya ternyata belum mempan untuk membujuk si pemilik burung hantu itu. Berulang kali orang suruhannya gagal membeli burung itu. Awalnya hanya pada burung hantu itu saja lelaki tersebut merasa kesal. Namun, sekarang amarahnya memuncak pada si pemilik burung itu. Dia yakin kalau orang itu bagian dari tim sukses saingannya.
Lalu, seketika tebersit niat keji di benaknya. Sepertinya bukan hanya burung hantunya saja yang harus dimusnahkan. Mungkin pemiliknya juga perlu diberi pelajaran. Sesungging senyum menakutkan menghias wajahnya yang memerah penuh amarah.
***
Sementara di rumah yang terletak di ujung gang, suasana tampak riang. Aneka pohon buah, rindang menaungi halaman yang luas. Bunga-bunga aneka jenis dan warna terlihat tertata dengan rapi. Beberapa sangkar burung tergantung di tiang-tiang bambu yang ditegakkan di beberapa titik di halaman itu. Suara burung-burung yang merdu itu menambah betah siapa saja yang mampir dan duduk-duduk santai di dipan kayu yang diletakkan di bawah pohon rambutan.
Seorang kakek yang terlihat rapi dan berseka, dengan raut wajah yang ramah dan sorot mata yang hangat, terlihat sedang fokus memerhatikan satu kandang burung. Di dalamnya ada seekor burung hantu yang terdiam menghindari cahaya matahari.
"Sudah seminggu kamu di sini. Sayapmu sudah lebih baik sekarang ya. Mungkin butuh beberapa minggu lagi sampai kau bisa terbang lagi dengan baik," ucap si kakek seperti mengajak bicara pada burung hantu yang diam itu.
"Kamu tenang saja di sini. Aku akan membantumu pulih. Nanti, aku pasti akan melepaskanmu kembali ke hutan. Jangan takut. Aku tak akan pernah melepasmu pada orang-orang aneh yang datang membawa bergepok-gepok uang itu," lanjut si kakek seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Teman-temanmu yang ada di dalam sangkar itu semua juga nanti akan aku lepaskan ke alam. Setelah mereka sembuh tentu saja," lanjut si kakek.
Dia kemudian beranjak, meninggalkan kandang burung hantu itu. Lalu, dia duduk di dipan kayu. Aroma secangkir teh melati hangat yang menguar terbawa angin sepoi-sepoi yang berembus siang itu, membuatnya bersemangat.
"Pisang gorengnya dimakan, Kek. Mumpung masih hangat," terdengar suara lembut sang istri yang sedang menyiangi rumput di beberapa pot bunga.
"Kakek tak usah risau. Nanti kalau orang-orang aneh itu datang lagi, aku akan langsung menghubungi Pak RT. Nomor WA-nya sudah kusimpan di HP-ku ini. Biar mereka tidak berani lagi datang dan memaksa-maksa kita menjual burung hantu pada mereka," ujar sang istri sambil duduk di samping suaminya yang sedang menikmati sepotong pisang goreng.
"Iya, terima kasih, Bu. Aku tidak percaya jika mereka penyayang binatang. Sorot mata mereka liar, seperti menyimpan bara dendam dan amarah. Aku tak suka," timpal si kakek, lalu menyeruput teh melatinya perlahan.
***
Sementara itu di rumah pria yang sangat berambisi memenangkan pemilihan kepala daerah itu, sedang terjadi perundingan. Bisik-bisik di tengah kepulan asap rokok itu terus bergulir merencanakan siasat yang tepat untuk memusnahkan burung hantu yang ada di rumah di ujung gang itu.
"Kalau dua orang tua itu menghalangi usaha kalian, habisi saja sekalian," bisik pria itu perlahan dengan mata menyipit dan mulut menyeringai.
Sukabumi, 8 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
