Nopiranti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Lorong Mimpi
Quranic quotes

Lorong Mimpi

Lorong Mimpi

Ketidaktahuan terkadang menyelamatkan. Setidaknya membuat hati dan pikiran tenang. Tidur tak lagi dihantui mimpi buruk. Begitu pun kala terjaga, tak perlu lagi sibuk menghalau rasa was-was dan segala prasangka yang terasa menusuk-nusuk kepala, seperti yang Nur alami.

---

Tiga hari sudah ibu pergi. Rumah masih ramai oleh sanak saudara. Nur memilih menepi di kamar. Dia butuh menenangkan diri setelah bicara dengan Kak Dewi di ruang tamu. Andai Nur tak banyak bertanya pada kakak semara wayangnya itu, mungkin hidup Nur akan tetap setenang dulu. Nur terus saja menyesali lisannya yang tak punya rem, tanya ini tanya itu. Hingga akhirnya Kak Dewi mengeluarkan kartu merah yang membuat Nur mati gaya, bahkan hampir mati rasa.

"Kak, setelah ibu wafat, Kakak ada mimpi ketemu ibu?" Tanya Nur penasaran.

"Ada. Kakak lihat ibu cantik, berseri, bersih berbaju putih. Ibu tersenyum, tapi tidak bicara apa-apa," jawab Kak Dewi yang seketika membuat wajah Nur mendung.

"Kenapa? Nur kangen ibu?" Tanya Kak Dewi.

Alih-alih menjawab, Nur malah termenung. Ada sebak yang ditahan supaya tidak terburai.

"Gimana caranya supaya Nur bisa mimpi ketemu ibu, Kak?" Lirih Nur berucap.

"Memang Nur mau apa kalau mimpi ketemu ibu?" Jawab Kak Dewi seraya beringsut duduk lebih dekat dengan Nur.

"Nur mau minta maaf ke ibu. Waktu ibu sakit, hampir setiap orang yang datang menjenguk menyampaikan permohonan maaf ke ibu. Menjelang wafat juga mereka minta maaf lagi ke ibu. Tapi, Nur ga pernah sekali pun bilang maaf ke ibu. Nur takut, Kak. Nur takut ibu marah." Tangis Nur pecah.

Lembut Kak Dewi merangkul pundak Nur.

"Sudah Kak Dewi wakili permintaan maaf Nur ke ibu. Ibu udah maafin kita semua, termasuk Nur. Jangan sedih, jangan takut lagi ya. Ibu udah tenang. Kita kirimi ibu doa banyak-banyak ya," ucap Kak Dewi, entah benar atau sekadar menghibur Nur yang sedang dilanda gelisah.

"Setelah Kakak minta maaf, ibu bilang sesuatu. Katanya ibu agak tenang dengan masa depan Kakak karena melihat prospek kerja Kakak ke depannya bagus. Ibu menilai pembawaan Kakak enerjik dan mudah bergaul, jadi ibu merasa Kakak akan mudah meraih kesuksesan.Tapi, ibu bilang sedikit khawatir dengan masa depan kamu. Soalnya kamu di mata ibu itu masih anak bungsu yang manja dan keras kepala. Ibu takut nanti kamu kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kerja atau di kehidupan pernikahan kamu," sambung Kak Dewi.

Meski sedikit kaget mendengar informasi itu, tapi Nur menanggapinya biasa saja. Dia pikir semua ibu pasti akan selalu merasa anaknya ya masih anak-anak, belum dewasa. Hingga harus selalu dikhawatirkan. Yang jelas, Nur merasa sedikit lega setelah tahu Kak Dewi sudah mewakilinya meminta maaf kepada ibu.

Nur bukan anak yang bebal. Dia tahu meminta maaf kepada orang tua itu adab. Tapi, selama ibu sakit, Nur tidak mau membuat ibu dan dirinya sendiri larut dalam kesedihan ketika harus ada momen meminta maaf. Nur pasti tidak akan kuat menahan tangis. Nanti ibu akan makin sedih dan takutnya kalau sering minta maaf itu ibu akan merasa seperti Nur mendoakan ibu berumur pendek. Jadi, waktu ibu sakit hingga menjelang ajal kemarin, tak seucap kata maaf pun Nur sampaikan ke ibu.

---

Tahun berganti. Nur mulai menapaki fase demi fase hidup seperti normalnya orang lain. Lulus kuliah, bekerja, menikah, punya anak, dan sibuk dengan berbagai urusan. Nur hampir melupakan keresahan yang sempat dia alami akibat didera mimpi buruk sesaat setelah ibu wafat ketika itu. Tak dinyana, sekarang resah itu mencuat lagi. Bahkan lebih mencekam. Membuat Nur terobsesi akan mimpi.

Setiap malam atau kapan pun Nur tertidur, dia berharap bisa bermimpi bertemu ibu. Ada yang teramat ingin Nur sampaikan. Sesuatu yang akhir-akhir ini membuat napas Nur tak pernah lepas. Dadanya terasa sakit, seperti ada yang menghimpit. Begitu pula kepalanya. Pusing dan berat.

Nur mendadak rajin membaca, mencari informasi bagaimana caranya bisa memimpikan orang yang dirindukan. Selain meningkatkan fokus dan berdoa dengan penuh kesungguhan, Nur coba dengan semakin mendekatkan diri pada hal-hal yang bisa mengingatkannya pada ibu. Nur tidur dengan mengenakan sweater dan kain batik peninggalan ibu. Nur simpan foto ibu di samping bantal. Nur semprotkan parfum aroma bunga segar di sekeliling tempat tidur. Nur panggil-panggil dengan lembut nama ibu selepas membaca doa dan zikir.

Berhasilkah? Belum. Yang ada Nur malah dilanda stres. Tidurnya jadi tidak berkualitas. Setiap bangun, tubuhnya terasa lemas, jantung berdebar, kepala klenyengan, dan kantung mata tampak jelas menggantung di matanya yang sembab.

Kalau pun Nur bermimpi, yang dia hadapi justru mimpi buruk. Seolah Nur dibawa ke dalam labirin dengan lorong yang bercabang membingungkan. Nur berlari kesana kemarin, berharap di salah satu lorong itu Nur bisa bersua ibu. Lelah Nur mencari. Ibu tak jua mau hadir menjelma dalam mimpi-mimpi Nur.

Tak ada yang tahu tekanan yang Nur rasakan. Setiap kali anak-anak bertanya kenapa ritual tidur Nur tidak seperti biasanya, hanya ini jawaban yang Nur berikan.

"Ibu sedang kangen sama nenek. Ibu berharap semoga bisa bertemu nenek dalam mimpi biar rindu Ibu terobati."

Hingga di satu malam selepas salat Isya. Nur masih diselubungi mukena. Jemarinya masih menggenggam tasbih. Dia terkulai lemas di atas sajadah. Tak lama kerutan di dahinya perlahan memudar. Ujung bibirnya pelan-pelan tertarik, membentuk lukisan bulan sabit yang indah.

Nur tersenyum. Dengan jelas dia melihat ibunya datang mendekat. Mengelus pipinya dengan lembut, menyeka air matanya, mencium keningnya, dan meniup ubun-ubunnya. Dipeluknya tubuh Nur sekejap, untuk kemudian tersenyum, melambaikan tangan kanannya, dan perlahan penampakannya memudar dan hilang.

Begitu terbangun, Nur gelagapan. Nur sadar jika tadi dia mimpi bertemu ibu. Dia senang dan merasa teramat bersyukur. Tapi, tetap masih ada yang mengganjal, sebab tadi Nur lupa bertanya pada ibu. Menanyakan sesuatu yang selama ini menghantuinya.

"Bu, jika benar apa yang dulu ibu katakan pada kakak tentang kekhawatiran ibu akan masa depan Nur. Nur minta sama ibu, sudilah kiranya ibu menarik kembali kata-kata itu. Nur tidak tahu apakah ini tulah dari ucapan seorang ibu yang tak bersekat dengan Tuhannya hingga hidup Nur sekarang begitu akrab dengan cobaan?" Seraya menengadahkan kedua tangan, Nur lirih bercerita.

"Nur cape, Bu, setiap hari berjibaku dengan aneka kesulitan. Nur lelah harus selalu gali lubang tutup lubang untuk menutupi kebutuhan rumah tangga. Nur malu pada Kak Dewi. Berkat doa dan restu ibu, kakak hidupnya sukses, senang, dan bergelimang harta sekarang. Sedangkan Nur, kenapa seperti ini, Bu? Kenapa dulu ibu harus berkata seperti itu? Tolong, Bu, cabut kembali kata-kata itu. Biar Nur bisa terlepas dari kemalangan ini," semakin tunduk kepala Nur, semakin deras air mata mengalir, semakin pasrah Nur pada keadaan.

---

Seminggu kemudian, Nur dibuat tergugu dengan cara Pemilik Semesta membalikkan keadaan.

Kak Dewi yang sekarang tinggal di ibu kota, sudah dua malam menginap di rumah Nur. Tampilannya kusut dan hanya bersembunyi saja di kamar belakang. Setiap kali Nur mendekat, kakaknya tampak ketakutan.

"Jangan sampai ada yang tahu Kakak ada di sini ya, Nur. Tolong Kakak, selamatkan Kakak, Nur." Begitu terus kalimat yang keluar dari bibir pucat Kak Dewi.

Sebuah berita yang berseliweran di media sosial menjawab keheranan Nur.

"Istri kepala desa buron setelah terbukti menggelapkan dana investasi warga milyaran rupiah"

Di bawah tulisan berita itu terpampang jelas foto Kak Dewi.

Rasa syukur Nur tiba-tiba ranum merekah.

"Tuhan, meski hidupku selama ini sering Kauuji dengan kekurangan materi, tapi Kau masih penuhi hati ini dengan limpahan malu dan rasa takut. Allah, maafkan prasangkaku selama ini. Nikmat-Mu yang mana yang kudustakan?"

Tertunduk Nur dalam sujud yang dalam.

Sukabumi, 13 Januari 2026

(36 hari menuju Ramadan)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post