Nasi Goreng Jadul
Nasi Goreng Jadul
Belum ada yang bisa menyamai lezatnya nasi goreng buatan ibu. Selengkap apa pun bumbu dan semeriah apa pun toping yang dipakai, tetap saja tak sama. Berkali-kali eksekusi dengan bahan dan cara masak yang sama seperti yang pernah kulihat dulu sewaktu ibu memasak, belum juga kutemukan rasa yang sesuai. Apalagi jika membeli, sama sekali berbeda.
"Kok ribet amat sih? Yang penting kan bisa dimakan, toh," ujar suamiku yang merasa heran melihat keremponganku menanggapi rasa nasi goreng.
"Iya, sih. Aku cuma heran aja, bumbu atau teknik apa yang dulu ibu pakai hingga keistimewaan rasanya itu kok belum bisa aku tiru, gitu loh," ujarku tak mau kalah.
"Ya sudah, bereksperimenlah terus sampai kamu menemukan apa yang dicari. Toh aku kebagian enaknya ini, tinggal makan," timpal suamiku seraya tersenyum.
Kuingat-ingat lagi masa itu, ketika aku menemani ibu di dapur. Beberapa siung bawah merah dan beberapa butir cabe rawit diiris halus, sedikit minyak goreng, telur ayam yang diorek, nasi dingin, garam, penyedap, dan kecap jika sedang ada stok di dapur. Kalau tak ada, maka nasi goreng mode pucat pun jadilah. Rasanya tetap membuat aku, kakak, dan adik lahap menyantapnya sampai butir nasi terakhir.
Duh, apa ya yang aku lewatkan waktu itu? Aku benar-benar merindukan rasa itu. Rasa yang tak hanya selesai di lidah. Tapi, terbawa hingga ke hati. Mengendap menjadi kenangan yang teramat indah. Mengajarkanku satu hal berharga bahwa kelezatan itu tak selalu tentang kemewahan. Dalam kesederhanaan pun bisa jadi berlimpah rasa yang megah jika diracik dengan baik. Tapi, masalahnya aku belum bisa menemukan kunci racikan nasi goreng jadul dengan rasa istimewa, seistimewa buatan ibu.
"Sibuk mikirin yang ga ada, malah jadinya tidak mensyukuri yang sudah tersaji," celetuk suami sambil menyenggol pundakku. Dia tersenyum melihatku yang hanya bengong saja seraya mengaduk-aduk nasi goreng buatanku sendiri.
"Ga gitu, Yang. Aku merasa harus menyelesaikan puzzle ini. Tinggal satu keping lagi saja untuk membuat semuanya sempurna. Please, bantu aku dong nyari yang satu keping itu," jawabku lirih.
"Sebentar lagi ulang tahun ibu. Jika masih ada bersama kita, ibu akan berusia 60 tahun ini. Di hari istimewa itu aku mau berbagi nasi goreng istimewa ini untuk anak-anak yang biasa datang ke taman bacaan kita. Aku mau berbagi filosofi di balik nasi goreng sederhana ini, yang nilai memorinya ternyata tak sesederhana bahan dan tampilannya," jawabku panjang lebar yang disambut tatapan takjub dan bibir terbuka mengeluarkan bunyi 'ooh' yang panjang dari suami dan ketiga anakku.
Ah, pusing rasanya memikirkan resep nasi goreng yang hasilnya masih saja kuanggap gagal. Meskipun menurut warga rumah sudah enak. Tapi, buatku enak saja belum cukup. Aku harus terus mencoba sampai semuanya bilang rasanya istimewa dan menancap di hati. Itu misiku!
Tahun berlalu, masih belum juga kupecahkan rahasia itu. Meski egoku sudah jauh melunak, tapi rasa penasaran itu tetap saja masih mengganjal.
Hingga di satu sore yang basah, aku terpekik kaget. Sepiring nasi goreng yang baru kuicip satu ujung sendok, membuatku terduduk tegak. Nafsu makan yang beberapa hari ini seolah menguap, tiba-tiba terbit kembali. Dengan tangan yang gemetar, kusuap lagi seujung sendok dengan penuh semangat. Mataku terpejam, kukunyah perlahan nasi goreng jadul itu perlahan. Sesungging senyum bahagiaku, sedetik berubah menjadi hujan tangis penuh haru. Akhirnya, kutemukan lagi rasa yang dulu pernah ada, namun menghilang dan tak jua bisa kutemukan lagi sejak ibu tiada.
Tapi, mendadak kunyahanku terhenti. Aku bengong terpaku. Bayangan diriku sewaktu tadi membuat nasi goreng ini berkelebat dengan jelas di pelupuk mata. Bahan, bumbu, dan cara aku memasak masih tetap sama seperti biasanya aku membuat nasi goreng jadul dengan menggunakan resep peninggalan ibu. Tapi, ada satu yang berbeda, yang selama ini tak pernah ada dalam rutinitasku memasak.
Air mata. Ya, tadi ketika sedang menuang bumbu, tanpa sengaja air mataku ikut menetes ke dalam nasi di dalam penggorengan. Sesaat aku berhenti mengaduk. Kumatikan api. Lalu, aku berpikir apakah harus kuteruskan nasi goreng ini hingga tuntas atau kuulang lagi dari awal? Aku khawatir yang nanti ikut makan nasi goreng ini akan merasa jijik. Meskipun saat itu aku sendirian di dapur. Tak ada yang melihat jika ada air mata yang ikut teraduk dalam nasi goreng itu. Karena stok nasi belum tersedia, kulanjutkan saja menyelesaikan nasi goreng itu. Namun, pikiranku yang kurang fokus, membuatku lupa untuk mencicipi dahulu nasi goreng buatanku pagi itu.
"Bunda, nasi goreng ini kok lain ya rasanya? Enak dan...istimewa," suara putra bungsuku membuyarkan lamunanku.
"Iya ya, Dek. Kayak ada rasa yang lain gitu, lezat dan...istimewa. Rasanya seperti ada sesuatu yang hangat menjalar di hati Kakak. Rasa...kangen aja gitu untuk terus menyuap, mengunyah, dan menelan nasinya lagi dan lagi," timpal si sulung yang semakin membuatku melongo.
"Betul, betul, betul. Nasi goreng kali ini istimiwir banget, Bun. Aku suka, aku suka, aku suka...," sambung si jagoan anak tengah yang terbiasa ekspresif. Dengan spontan dia langsung berdiri, lalu menghampiri dan memelukku.
"Bunda, makasih ya untuk nasi goreng lezat dan istimewa pagi ini." Sebuah kecupan mesra mendarat di pipiku, yang spontan seolah membuat tombol air mataku tertekan. Kubalas pelukannya dan tangisku tak lagi bisa kubendung.
"Ini...ini rasa yang selama ini Bunda cari, Nak. Nasi goreng dengan bumbu istimewa, beberapa tetes air mata rindu," ucapku terbata-bata.
Lalu, pagi itu meja makan menjadi saksi bergulirnya sebuah cerita.
Dulu, nasi goreng jadul merupakan menu kesukaan bapak. Hampir tiap hari ibu membuatnya, entah itu sebagai menu sarapan, makan siang, atau makan malam. Tergantung kapan bapak ingin menyantapnya. Meski tidak ikut makan, kadang ibu merasa bosan juga membuatkan nasi goreng itu untuk bapak. Tapi, sekesal-kesalnya ibu, tetap saja dilaksanakan sesuai maunya bapak.
Tapi, sejak bapak wafat, ibu sempat mogok memasak nasi goreng jadul itu. Jika aku dan kakak-kakak minta dibuatkan, ibu selalu berkelit. Sebagai gantinya ibu buatkan kami masakan yang lain.
Hari ini aku baru paham kenapa waktu itu ibu sering menolak untuk membuatkan aku dan kakak nasi goreng jadul. Karena itu bukan hanya sekadar masakan sederhana. Ada nilai rindu dan cinta yang tak bisa diganti dengan apa pun. Ibu pasti merasa sangat tersiksa karena nasi goreng jadul itu mengingatkannya pada bapak.
Sama persis seperti yang hari ini aku rasakan. Meski bukan menu kesukaan suamiku, tapi nasi goreng itu teramat sering menjadi makanan yang kami santap di berbagai suasana. Pagi tadi ketika sedang memasak nasi goreng jadul itu, rasa rindu begitu menggguncangku. Rindu pada suami yang hari ini genap dua pekan sudah meninggalkan kami untuk selamanya.
Sukabumi, 10 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
