Peluk Aku Derana
Peluk Aku Derana
Hujan kembali bertandang. Deras dan menggebu. Sekian lama pun ia melipat diri di balik terik, hadirnya masih saja sama, membawa aroma rindu. Bahkan kali ini jauh lebih pekat. Sepekat kabut yang menghalangi langkah dan pencarian Harni akan ibundanya yang menghilang berbilang purnama tanpa kabar dan jejak yang terang untuk dilacak.
“Kang, tolong izinkan saya pergi ya. Demi kebaikan kita semua. Tidak lama, Kang. Dua tahun saja. Boleh ya, Kang?” Masih jelas di ingatan Harni kata-kata bujukan, suara parau, dan wajah memelas ibunya yang meminta izin pada bapaknya untuk berangkat menjadi TKW ke Timur Tengah.
Di desa tempat tinggal Harni, salah satu wilayah di Jawa Barat, pengiriman tenaga kerja wanita ke Timur Tengah masih banyak dilakukan. Tantangan kerja menjadi asisten rumah tangga di negeri penghasil minyak bumi itu tentu tidak mudah. Tapi, iming-iming gaji yang besar begitu menggoda. Ditambah kenyataan melihat keberhasilan para tetangga yang telah sukses bekerja di sana, menjadi magnet penarik minat remaja putri dan ibu-ibu muda untuk ikut berangkat juga mengadu nasib ke berbagai negara di Timur Tengah.
“Uang mukanya 8 juta, Kang. Bisa untuk menyicil utang dan dijadikan simpanan bekal sehari-hari sebelum nanti saya menerima gaji.” Kembali terngiang di benak Harni suara ibunya saat berusaha meyakinkan bapaknya.
Bermalam-malam kemudian diskusi kedua orang tua Harni tidak juga bermuara di titik temu yang sama. Bapaknya yang selama ini memang jarang berbicara, semakin diam dan tetap bersikeras tidak memberikan izin. Dia merasa masih sanggup membiayai keluarga. Meskipun memang saat itu utang keluarga ke warung tetangga dan bank keliling tak bisa dibilang sedikit.
Berutang terpaksa mereka lakukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saat bapak Harni terbaring sakit berbulan-bulan karena diserang tipus akut. Ibunya yang selama ini berdagang gorengan keliling kampung juga tidak banyak membantu menutupi kebutuhan. Maka, utang pinjam ke warung tetangga dan bank keliling yang bunganya mencekik itu terpaksa mereka lakukan. Saat kini bapak Harni sudah pulih kesehatannya, dia merasa yakin bisa melunasi utang tersebut sedikit demi sedikit karena sekarang dia sudah bisa bekerja menjadi buruh tani dan buruh panggul kayu lagi yang upahnya lumayan. Tapi, ibunya yang selama ini sering mengeluh malu dan cape dikejar-kejar terus penagih utang, berpikir instan bahwa dengan bekerja di Timur Tengah maka beban keuangan keluarga mereka akan cepat teratasi.
“Mumpung ada kesempatan, Kang. Mumpung saya sehat dan masih kuat bekerja. Tiga anak kita juga membutuhkan banyak biaya untuk pendidikannya. Sebentar lagi Harni PKL, Surya akan masuk SMP, dan Marni masuk SD. Pasti harus banyak yang dipersiapkan yang membutuhkan uang yang tidak sedikit.” Ucapan ibunya membuat Harni merasa bersalah karena dia telah menjadi salah satu sebab ibunya nekad ingin berangkat bekerja ke luar negeri.
“Nanti uang gaji saya juga bisa untuk modal Akang mengadai kebun atau sawah tetangga. Bisa juga untuk membeli mesin sinso. Jadi Akang bisa bertani dan mencari proyek pemotongan kayu sendiri. Tak usah jadi buruh juragan Karya yang galak dan pelit itu lagi." Beragam argumen terus dilontarkan ibunya Harni untuk meruntuhkan pertahanan sang suami. Namun, tak jua membuahkan hasil.
Bolak-balik Ceu Dedeh datang menanyakan kesiapan ibunya Harni untuk pergi. Agen tenaga kerja spesialis Timur Tengah itu terus melancarkan rayuan agar ibunya Harni segera mengambil keputusan.
“Lani, Imas, dan Rita sudah akan terbang minggu depan. Ayo, kamu segera putuskan jadi atau tidak pergi. Ini uang muka sudah saya bawa, siap saya serahkan sama kamu kapan pun kamu bilang iya.” Tumpukan uang merah dikibas-kibaskan Ceu Dedeh di depan muka ibunya Harni. Aroma uang kertas yang baru diambil dari bank, membuat jiwa raganya semakin meronta ingin mengambilnya dan lekas berbenah mengangkat koper untuk segera terbang ke negeri Arab sana.
Saat ibunya Harni dilanda putus asa karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengantongi izin suaminya, jalan itu akhirnya terbuka. Jalan terang yang membuat senyum di bibir ibunya Harni terkembang begitu lebar. Tapi, sebaliknya jalan itu telah merenggut kebahagiaan bapaknya, juga Harni dan kedua adiknya.
Siang itu saat bapak Harni tengah memanggul dolken dari kebun tetangga di atas bukit, dia mengalami kecelakaan. Dia terpeleset lalu terjatuh dengan kayu dolken menimpa kaki kanannya. Meskipun patah kakinya tidak begitu parah, tapi tetap saja luka itu membuat bapaknya Harni harus rela beristirahat di rumah untuk batas waktu yang tak tentu.
Saat itulah Ceu Dedeh datang kembali melancarkan jurus mautnya. Dihamparkannya tumpukan uang muka di hadapan ibu dan bapak Harni.
“Kang Yudi butuh uang banyak ‘kan untuk berobat? Supaya akang bisa lekas sembuh dan bisa bekerja lagi seperti biasa. Ambillah uang ini sebagai modal, Kang. Dan izinkan Tuti berangkat. Agen akan sangat menjaga Tuti selama di sana. Akang juga tahu sendiri ‘kan semua yang berangkat melalui kantor saya, aman dan sukses,” ujar Ceu Dedeh yang pada akhirnya membuat bapak Harni mengalah pada ego yang selama ini erat digenggamnya. Dengan tangan gemetar, ditandatangainya juga surat keterangan izin suami yang menjadi tiket yang memuluskan langkah ibunya Harni terbang merajut impian mengais rezeki di negeri Arab.
Hari-hari sulit pun dimulai. Berat bagi bapak Harni harus berusaha keras memompa semangat untuk sembuh dari sakit fisik maupun sakit batinnya yang terluka karena ditinggal pergi sang istri. Berat juga untuk Harni dan kedua adiknya yang walaupun selama ini sudah terbiasa mandiri, tapi kali ini mereka harus jauh lebih dewasa lagi. Pekerjaan rumah mereka bagi, saling membantu dan bekerja sama agar rumah tetap rapi dan bersih, makanan tersedia, cucian baju dan piring tidak menumpuk, tugas sekolah juga tidak terbengkalai. Harnilah tumpuan harapan ayah dan dua adiknya. Dia harus bangun lebih awal dan tidur paling akhir untuk memastikan semuanya beres.
Satu tahun berjalan aman. Kesehatan bapak Harni berangsur membaik dan sudah mulai bisa bekerja lagi. Harni dan kedua adiknya juga sudah terbiasa dengan tanggung jawab harian masing-masing. Ibu Harni juga tak pernah telat mentransfer sebagian uang gajinya untuk tambahan biaya hidup mereka sehari-hari. Bapaknya mempercayakan penyimpanan dan penggunaan uang itu pada Harni. Amanah ini membuat Harni semakin dewasa dan bijak. Dia telah menjadi contoh yang baik untuk kedua adiknya dan anak yang bisa diandalkan sekaligus membanggakan kedua orang tuanya.
Namun, tak selamanya jalanan yang dilalui itu landai dan mulus. Sekali waktu pasti akan bersua juga dengan tanjakan yang menyesakkan dada atau hamparan kerikil tajam yang melukai tapak. Memasuki tahun kedua, mulai terlihat gelagat yang mencurigakan dari ibunya Harni. Berawal dari komunikasi yang semakin jarang dan sulit. Pesan dan telepon dari suami dan anak-anaknya semakin jarang direspon. Sekalinya bisa tersambung, nada suara ibunya berubah dingin dan ketus. Setelah itu transferan pun semakin tersendat. Awalnya hanya berkurang saja jumlahnya. Kemudian terhenti sama sekali. Berbulan-bulan kemudian Harni tak pernah lagi menerima kiriman uang dari ibunya.
Bukan masalah uang yang jadi beban pikiran Harni. Meskipun jumlahnya jauh dari transferan yang biasa ibunya kirimkan, tapi upah bapaknya bekerja di kebun atau pabrik kayu juragan Karta juga lumayan bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Harni hanya tak tenang memikirkan perubahan sikap ibunya. Benak Harni dihantui berbagai bayangan buruk. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ibunya baik-baik saja? Dia benar-benar khawatir jika ibunya mengalami kekerasan fisik oleh majikannya atau diperlakukan buruk oleh sesama rekan kerja.
Berulang kali Harni dan bapaknya meminta bantuan pada Ceu Dedeh untuk mencari informasi tentang kondisi ibunya. Namun, berulang kali pula Ceu Dedeh meyakinkan mereka bahwa Tuti baik-baik saja di tempat kerjanya. Tak ada yang harus mereka khawatirkan.
“Mungkin ibumu ada cita-cita sepulang dia nanti ke tanah air. Jadi uang gajinya dia simpan saja sendiri, tidak ditransfer dulu untuk kalian." Ucapan Ceu Dedeh sedikit menenangkan kegelisahan Harni dan bapaknya.
Mungkin benar juga kata Ceu Dedeh karena ibunya sering bilang pada Harni waktu masih suka berkomunikasi via telepon bahwa dia ingin merenovasi rumah panggung kayu mereka menjadi bangunan tembok permanen.
Meskipun gelisah dan prasangka itu tetap berkecamuk di hati Harni dan bapaknya, tapi sebisa mungkin mereka redam demi ketenangan batin mereka sendiri. Juga untuk membuat Surya dan Marni tidak terganggu kondisi psikologisnya.
“Doakan saja ibu supaya selalu sehat dan dimudahkan semua pekerjaannya di sana ya.” Begitu Harni selalu memberi jawaban setiap kali kedua adiknya bertanya tentang kondisi ibu mereka.
Ketika waktu kontrak kerja dua tahun ibunya akan berakhir pada Desember tahun lalu, semua menyambut gembira. Harni berpikir ibunya pasti akan segera pulang ke tanah air. Meskipun masih tak ada kontak dengan ibunya, tapi Harni yakin bahwa ibunya pasti pulang karena beberapa tetangga yang berangkat bersamaan dengan ibunya dulu juga sudah memberikan kabar gembira kepulangan mereka pada keluarganya masing-masing.
Lalu, satu per satu pahlawan devisa itu pulang. Teh Lani, Teh Imas, dan Teh lita sudah mendarat dengan selamat di rumahnya masing-masing. Kembali ke pelukan keluarga besar mereka yang menyambut penuh sukacita. Namun, ibunya Harni masih juga tak ada kabarnya. Semakin gelisahlah mereka. Begitu pun keluarga besar dan para tetangga yang juga ikut prihatin. Semua orang lalu saling bekerja sama mencari informasi tentang keberadaan ibunya Harni.
Secercah harapan itu akhirnya menyeruak. Jejak ibunya mulai bisa terendus. Berawal dari laporan seorang tetangga yang melihat postingan media sosial saudaranya. Dia merasa yakin jika orang yang dia lihat pada foto di postingan medsos itu adalah Tuti, ibunya Harni. Dia tampak sedang bersama seorang laki-laki, berada di sebuah rumah di desa lain yang tak jauh dari desa tempat tinggal Harni.
Berbekal informasi ini, secepat kilat Harni dan bapaknya menuju tempat yang dimaksud. Namun sayang, sesampainya di sana hanya rumah terkunci yang mereka temui beserta kabar buruk yang langsung merontokkan semangat hidup mereka. Menurut para tetangga sekitar, Tuti dan laki-laki itu sudah dua bulan menempati rumah itu. Tapi, warga tidak tahu kemana mereka pergi saat itu.
Harni tak habis pikir dengan kelakuan ibunya. Apa yang telah merasukinya sehingga tega berbuat seperti itu? Apa mungkin ibunya ada di bawah pengaruh guna-guna dari lelaki jahat yang hanya ingin menguras harta yang dia peroleh dengan susah payah selama kerja di luar negeri?
Harni banyak membaca kisah para TKW yang terpedaya rayuan lelaki yang mereka kenal lewat media sosial. Setelah diamati lagi postingan di medsos tersebut, lelaki yang pernah terlihat bersama ibunya memang sepertinya iya menunjukkan gelagat jika ibunya telah masuk ke dalam perangkat lelaki jahat itu.
Jika memang karena pengaruh ajian orang jahat itu yang begitu kuat mencengkeram kesadaran ibunya, Harni berharap semoga Allah segera memberikan pertolongan agar ibunya bisa lepas dari jerat guna-guna itu.
Sempat juga terlintas di pikirannya apa mungkin ibunya sudah tidak punya rasa lagi terhadap bapaknya dan sudah bosan dengan kehidupan yang sulit bersama Harni dan kedua adiknya sehingga lebih memilih pergi bersama lelaki lain yang lebih menarik?
Meski perasaannya begitu hancur, tapi Harni masih bisa berpikir jernih. Demi adik-adiknya dia berjuang menguatkan diri. Harni tak pernah lupa mengajak Surya dan Marni untuk lebih rajin salat dan berdoa untuk ibu mereka. Harni juga tak pernah lelah dan bosan mendatangi setiap tempat yang diperkirakan ada ibunya di sana. Meski berkali-kali usahanya hanya bersua sunyi dan kehampaan.
Belum juga jejak ibunya bisa dilacak, koyak luka batin Harni bertambah lebar karena kondisi bapaknya yang bertambah kacau. Makin bapaknya memikirkan ibunya, makin kusut benaknya. Emosinya jadi tak stabil. Mudah marah dan tersinggung. Bapaknya tak lagi semangat bekerja dan kehilangan gairah untuk mengurus dirinya sendiri. Apalagi peduli pada anak-anaknya. Bapaknya jadi banyak melamun. Hari-harinya dihabiskan di pos ronda yang letaknya tepat di seberang rumah mereka, berteman bergelas-gelas kopi dan berbungkus-bungkus rokok. Harni dan kedua adiknya menjadi korban pelampiasan amarah bapaknya jika kedua barang itu tak segera ada saat dipinta.
Bila lelah melanda jiwa dan raganya, hanya di ujung sajadah Harni bersimpuh. Dalam sujud yang semakin dalam dan basah, riuh Harni lontarkan segala keluh kesah, doa, dan juga harapan untuk semua yang dia sayangi, bapak, ibu, dan adik-adiknya. Gadis tabah itu meminta pada Zat Pemilik semesta agar selalu dilimpahkan semangat derana, semangat untuk tahan dan tabah atas semua penderitaan. Tak lekas patah hati dan putus asa dalam mendampingi ayah dan adik-adiknya melalui cobaan ini dengan baik.
“Peluk aku, derana. Erat,” bisik Harni lirih di sela buku jarinya yang gemetar, basah, dan ranum oleh roncean doa yang semakin deras mengalir dari bibirnya yang pucat.
Sukabumi, 9 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
